Harga Minyak Masih Tinggi, Konflik AS-Iran Memanas

Harga minyak dunia bergerak stabil setelah AS kembali memblokade pelabuhan Iran dan melancarkan serangan baru di sekitar Selat Hormuz.

Diterbitkan 16 Juli 2026, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia bergerak nyaris tidak berubah pada perdagangan Rabu di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran dan melancarkan serangan udara baru di sekitar Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Kamis (16/7/2026), kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus naik 26 sen atau sekitar 0,3% dan ditutup di level US$ 79,60 per barel.

Sementara itu, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September sebagai acuan global menguat 22 sen menjadi US$ 84,95 per barel.

Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan pihaknya kembali melancarkan gelombang serangan terhadap Iran pada Selasa malam waktu setempat.

Serangan tersebut menyasar puluhan aset militer Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz dan sepanjang wilayah pesisir negara tersebut dalam operasi yang berlangsung sekitar tujuh jam.

Menurut CENTCOM, operasi militer itu melibatkan pesawat tempur, drone, serta kapal perang. Sasaran serangan meliputi fasilitas rudal dan drone, aset angkatan laut, hingga sistem pertahanan pesisir.

 

Iran Serang Tujuh Kapal Dagang

Langkah tersebut disebut bertujuan semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial di kawasan.

Operasi itu dimulai setelah militer AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju maupun keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, Komandan CENTCOM Jenderal Brad Cooper menuduh Iran sengaja menargetkan warga sipil dan menyerang tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir.

"Iran dengan sengaja menargetkan warga sipil dan menyerang tujuh kapal komersial selama sepekan terakhir, yang menyebabkan sekitar belasan awak kapal tewas, hilang, atau terluka," kata Brad Cooper.

 

Konflik Lebih Berbahaya

Meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Senior Energy Analyst MST Marquee Saul Kavonic mengatakan eskalasi terbaru menunjukkan harapan pasar terhadap pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu dekat ternyata terlalu dini.

"Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa harapan akan segera terbukanya kembali Selat Hormuz ternyata terlalu dini," ujar Saul Kavonic.

Ia menilai konflik kembali memasuki fase yang lebih berbahaya setelah blokade laut diberlakukan kembali.

"Permusuhan dan pemberlakuan kembali blokade laut membawa konflik ini kembali ke jalur eskalasi. Harga minyak berpotensi kembali menguji level US$ 100 per barel apabila intensitas konflik saat ini bertahan selama beberapa pekan. Bahkan, harganya bisa naik lebih tinggi lagi jika infrastruktur minyak di kawasan turut menjadi sasaran serangan," kata Kavonic.

Pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan konflik AS-Iran karena setiap gangguan terhadap arus distribusi energi dari Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6