Cara Masjid Istiqlal Salurkan Daging Kurban Tanpa Sistem Antrean di Lokasi

Masjid Istiqlal Jakarta menegaskan tidak akan membagikan daging kurban secara langsung kepada masyarakat umum di lokasi, melainkan melalui jaringan masjid, musala, hingga pesantren binaan.

Diterbitkan 27 Mei 2026, 13:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Masjid Istiqlal menyalurkan daging kurban terpusat ke lembaga binaan, hindari penumpukan massa.
  • Istiqlal menerima 82 hewan kurban, termasuk dari Gereja Katedral dan Hotel Borobudur.
  • Sumbangan non-Muslim diterima sebagai solidaritas kemanusiaan, bukan ibadah kurban syariat.

Liputan6.com, Jakarta - Manajemen Masjid Istiqlal dipastikan mulai melakukan penyembelihan hewan kurban Idul Adha 1447 Hijriah pada Kamis (28/5/2026) besok. Pada tahap awal, panitia akan mendahulukan pemotongan untuk jenis hewan kambing dan domba.

Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa pada tahun ini pihak panitia mengubah skema pembagian. Istiqlal tidak lagi melayani pembagian kupon atau distribusi daging secara langsung di area masjid kepada masyarakat umum guna menghindari penumpukan massa.

Daging kurban seluruhnya akan disalurkan secara terpusat melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pendidikan yang berada di bawah pembinaan langsung Masjid Istiqlal.

"Kita akan mendistribusikan kepada masjid dan musala binaan Istiqlal. Panti asuhan, majelis taklim, perguruan tinggi Islam, pondok pesantren, hingga madrasah yang punya relasi dengan Istiqlal," kata Nasaruddin Umar kepada wartawan di kawasan Masjid Istiqlal, Rabu (27/5/2026).

Hingga hari H Idul Adha, panitia mencatat telah menerima total 82 ekor hewan kurban yang terdiri atas 63 ekor sapi, 18 ekor kambing, dan satu ekor domba. Karena penyembelihan berlangsung selama hari tasyrik, Istiqlal masih membuka posko penerimaan hewan kurban dari masyarakat hingga Jumat (29/5/2026) mendatang.

 

Partisipasi Gereja Katedral dan Hotel Borobudur

Nasaruddin mengungkapkan hal menarik pada perayaan tahun ini, di mana sejumlah hewan kurban yang diterima Istiqlal juga berasal dari komunitas non-Muslim, salah satunya pihak Gereja Katedral Jakarta. Selain itu, manajemen Hotel Borobudur tercatat menyumbangkan 25 ekor sapi.

Menag meluruskan bahwa secara syariat Islam, pemberian dari rekan-rekan non-Muslim memang tidak dikategorikan sebagai ibadah kurban karena syarat utamanya harus beragama Islam. Namun, pihak manajemen menyambut hangat sumbangan tersebut sebagai bentuk konkret solidaritas kemanusiaan.

"Bahkan separuh di antara hewan kurban yang kita sembelih di antara 60-an itu, berasal dari kawan-kawan kita dari masyarakat umum. Yang mungkin itu tidak dimaksudkan sebagai kurban, karena yang wajib untuk berkurban itu adalah orang Islam yang mampu," jelasnya.

Bagi Nasaruddin, momentum Hari Raya Idul Adha harus diletakkan sebagai gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat luas, tanpa perlu memandang sekat perbedaan latar belakang agama.

"Apapun agamanya, kalau memang bisa ikut berbagi, bagaimana supaya masyarakat itu terbebas daripada krisis protein pada hari-hari Idul Kurban ini, itu sangat dianjurkan sekali," pungkas Menag

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6