Salat Id di Balai Kota DKI, Khatib Gus Faiz Ajak Umat Teladani Keikhlasan Nabi Ibrahim

Ribuan jamaah bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno melaksanakan Salat Idul Adha 1447 Hijriah dengan khidmat di halaman Balai Kota DKI Jakarta.

Diterbitkan 27 Mei 2026, 07:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Salat Idul Adha 1447 H digelar di Balai Kota DKI Jakarta pada 27 Mei 2026.
  • Ribuan jamaah hadir, dipimpin Imam KH Muhammad Ali dan Khatib Gus Faiz.
  • Khotbah Gus Faiz mengajak meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim dan beramal saleh.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah di halaman Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2026). Ibadah yang dimulai sekira pukul 06.30 WIB tersebut diikuti oleh ribuan jamaah yang memenuhi area lapangan.

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, tampak hadir di tengah-tengah warga. Mengenakan pakaian muslim, ia berada di saf paling depan dan duduk membaur di antara para jamaah.

Lapangan Balai Kota DKI Jakarta terlihat dipenuhi lautan jamaah yang beralaskan karpet merah. Pelaksanaan Salat Idul Adha tahun ini berjalan dengan tertib, khidmat, dan lancar hingga akhir rangkaian ibadah.

Dalam pelaksanaan tahun ini, Ketua LPTQ DKI Jakarta KH Muhammad Ali bertindak sebagai imam shalat. Sementara itu, Ketua MUI DKI Jakarta KH Muhammad Faiz Syukran Ma’mun (Gus Faiz) bertindak sebagai khatib.

Pesan Keikhlasan dalam Pengabdian

Salat Idul Adha di Balai Kota DKI Jakarta pada tahun 2026 ini mengusung tema "Ikhlas Berkurban, Total Dalam Pengabdian". Dalam khotbahnya, Gus Faiz mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Idul Adha sebagai sarana meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Gus Faiz menegaskan bahwa sepuluh hari pertama bulan Zulhijah merupakan hari-hari terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebut tidak ada hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal saleh selain hari-hari tersebut.

Menurutnya, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan atau ritual kurban konvensional, melainkan momentum penting untuk merenungi kisah kepasrahan Nabi Ibrahim AS yang rela menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya.

“Taat itu bukan berarti tidak sakit, dan ikhlas itu tidak selalu tanpa air mata,” kata Gus Faiz di hadapan para jamaah.

Ia juga menyoroti keteguhan hati Siti Hajar dan Nabi Ismail AS saat menghadapi ujian berat dari Allah SWT. Gus Faiz menyebut keluarga Nabi Ibrahim memberikan teladan nyata tentang kepasrahan, kesabaran, dan keyakinan penuh kepada Sang Pencipta di tengah situasi sulit penuh pengorbanan.

Menutup khotbahnya, Gus Faiz mengajak seluruh masyarakat yang hadir agar senantiasa menjadikan nilai keikhlasan, ketakwaan, serta keteladanan Nabi Ibrahim AS sebagai pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengabdian kepada masyarakat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6