Natalius Pigai Beberkan Rapor HAM Indonesia, Belum Masuk Kategori Baik

Natalius Pigai menilai indeks HAM Indonesia tahun 2024 di angka 63,20 menunjukkan kondisi HAM nasional masih berada di level menengah atau belum ideal.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 13:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Indeks HAM Indonesia 2024 mencapai 63,20, dikategorikan medioker oleh Menteri HAM.
  • Jaminan hak hidup terendah (22,08), dipengaruhi kematian ibu/anak, stunting, dan kelaparan.
  • Indonesia dianggap aman, didukung pengalaman pribadi dan skor tinggi hak kebebasan pribadi (83,62).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengatakan, berdasarkan survei tahun 2024, indeks HAM Indonesia berada pada angka 63,20.

Hal itu disampaikannya saat kelas Jurnalis HAM di Bandung, Jawa Barat, Rabu 20 Mei 2026.

Pigai menjelaskan, indeks HAM sebesar 63,20 itu terbagi ke dalam dua dimensi. Dimensi sipil dan politik tercatat sebesar 58,28, sedangkan dimensi ekonomi, sosial, dan budaya berada di angka 68,97.

"Angka ini artinya kita masih di tengah-tengah. Masih belum bisa disebut terbaik, baik, tapi juga belum bisa disebut terburuk atau buruk. Kita masih di medioker," jelas Pigai.

Dia menyatakan, berdasarkan data tersebut, dalam dimensi sipil dan politik ada 11 variabel yang membentuknya. Pada variabel jaminan atas hak hidup berada di angka paling rendah di Indonesia atau berada di angka 22,08 jika dibandingkan 10 variabel lainnya.

Namun dia menggaris bawahi, rapot merah tersebut bukan disebabkan sepenuhnya oleh faktor negara.

"Jadi ini jangan sampai salah ya, salah pahami. Karena alam bawah sadar kita itu, itu imajinasi kita, hak hidup itu adalah kekerasan oleh aktor negara. Tidak begitu saja. Tentu itu juga, tapi itu bagian persentase terkecil. Kekerasan oleh aktor negara menyebabkan kematian pada setiap warga negara, itu aspek paling terkecil,” ungkap Pigai.

"Tapi yang lain tuh macam jaminan atas hak hidup tuh, maternal mortality ratio (rasio kematian ibu) yang tinggi, rasio kematian anak (infant mortality ratio) yang tinggi, stunting menyebabkan kematian, kelaparan menyebabkan kematian, jadi penyakit menular yang menyebabkan kematian," sambungnya.

Pigai Sebut Indonesia Aman

Sebelumnya, Pigai mengatakan Indonesia masih menjadi negara yang aman bagi masyarakat. Pernyataan itu disampaikannya berdasarkan pengalaman pribadi saat beraktivitas tanpa pengawalan.

Hal tersebut diungkapkan Pigai saat berbicara dalam acara Kelas Jurnalis HAM di Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/5).

“Ya kita lihat saja, kita boleh kritik, tapi Indonesia ini aman. Saya saja biasa jalan pakai sandal, naik motor sendiri, tidak pernah ada yang ganggu,” kata Pigai.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan tingkat keamanan di Indonesia masih tergolong baik dibandingkan sejumlah negara lain.

Pigai juga menyinggung Presiden Prabowo Subianto yang bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat tanpa gangguan.

“Pak Prabowo keluar dari mobil dan menyapa masyarakat, tidak ada yang mengganggu. Indonesia ini termasuk negara yang paling aman dibanding negara lain,” ujarnya.

Ia menilai kondisi keamanan tersebut turut tercermin dalam Indeks HAM Indonesia Tahun 2024, khususnya pada indikator jaminan hak atas kebebasan dan keamanan pribadi.

Dalam data yang dipaparkan, jaminan hak atas kebebasan dan keamanan pribadi memperoleh skor 83,62. Angka itu menjadi yang tertinggi ketiga setelah jaminan hak berserikat sebesar 93,33 dan jaminan hak atas kebebasan berpikir, beragama, serta berkeyakinan sebesar 88,51.

“Oleh karena itulah nilainya tinggi, karena memang sesuai dengan kondisi yang ada,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6