Menteri LH Sebut Kunci Atasi Sampah Kalsel Ada di Rumah Tangga

Menteri LH/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq terus mendorong percepatan transformasi pengelolaan sampah nasional.

Diterbitkan 21 April 2026, 23:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri LH/Kepala BPLH atau Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq terus mendorong percepatan transformasi pengelolaan sampah nasional melalui penguatan pendekatan berbasis sumber di daerah.

Dia menyebut, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi salah satu fokus dalam upaya mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Hanif menegaskan, penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari hulu dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pemilahan dan pengurangan sampah.

"Permasalahan sampah tidak bisa lagi diselesaikan dengan pola kumpul-angkut-buang. Kuncinya ada di hulu, yaitu pemilahan sejak dari rumah tangga agar beban pengelolaan dapat berkurang secara signifikan," ujar Hanif, dikutip Liputan6.com dari laman resmi Kementerian LH www.kemenlh.go.id, Selasa (21/4/2026).

Dia mengatakan, di Kota Banjarbaru, timbulan sampah mencapai sekitar 184 ton per hari, sementara yang terkelola baru sekitar 12 persen. Kondisi ini, kata Hanif, menunjukkan perlunya percepatan pengelolaan sampah berbasis sumber untuk menekan volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Hanif menekankan penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui gerakan Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas (KILAU EMAS) yang menargetkan pemilahan sampah secara masif di tingkat rumah tangga.

 

Dorong Perubahan Perilaku Masyarakat

Menurut Hanif, dengan jumlah lebih dari 90 ribu kepala keluarga, pendekatan ini dinilai menjadi kunci dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas sistem pengelolaan sampah.

"Jika pemilahan dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga, volume sampah yang tidak terkelola dapat ditekan secara signifikan dan berdampak langsung pada kualitas lingkungan," terang dia pada acara Hari Jadi ke-27 Tahun Kota Banjarbaru.

Selain penguatan di tingkat masyarakat, lanjut Hanif, pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

"Mulai dari optimalisasi TPS3R dan bank sampah, perluasan layanan pengangkutan, hingga penguatan peran sektor usaha termasuk hotel, restoran, dan kafe (HOREKA). Sistem monitoring dan evaluasi berbasis kinerja juga terus diperkuat untuk memastikan efektivitas implementasi di lapangan," papar Hanif.

 

Nilai Kalsel Miliki Potensi Kolaborasi yang Kuat

Dalam mendukung percepatan tersebut, menurut Hanif, Kalimantan Selatan memiliki potensi kolaborasi yang kuat, melibatkan perangkat daerah, 595 Ketua RT, ratusan penyuluh dan pendamping keluarga, serta dukungan perguruan tinggi melalui keterlibatan mahasiswa dalam program tematik lingkungan hidup.

Dia menilai kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam membangun perubahan perilaku masyarakat secara luas dan berkelanjutan.

"Kita membutuhkan keterlibatan semua pihak, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi, untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan," papar Hanif.

Dia menilai, upaya ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menargetkan peningkatan kinerja pengelolaan sampah melalui pengurangan dari sumber serta penguatan sistem pengolahan terpadu.

"Pemerintah meyakini, melalui langkah yang konsisten dan kolaborasi yang kuat, transformasi pengelolaan sampah di Kalimantan Selatan dapat menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan," tandas Hanif.

Untuk diketahui, Hanif juga memimpin aksi bersih bersama di Pasar Martapura guna mendorong gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) sebagai budaya sehari-hari bagi masyarakat Kalimantan Selatan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6