Ramadan 1447 Hijriah, MUI Minta Imam Masjid Panjatkan Qunut Nazilah untuk Gaza Palestina

Anwar mengajak, imam-imam masjid di seluruh Indonesia untuk mendoakan bangsa Palestina, terutama masyarakat Palestina yang ada di Gaza, dengan qunut nazilah.

Diterbitkan 17 Februari 2026, 21:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar mengajak seluruh imam masjid di Indonesia untuk mendoakan bangsa Palestina, khususnya masyarakat di Gaza, selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah.

Ajakan tersebut disampaikan KH Anwar Iskandar saat Konferensi Pers Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

"Kami berharap kepada seluruh imam-imam masjid di seluruh Indonesia untuk mendoakan bangsa Palestina, terutama masyarakat Palestina yang ada di Gaza, dengan qunut nazilah,” ujar Anwar.

Qunut nazilah merupakan doa khusus yang dibaca dalam salat fardu, umumnya pada rakaat terakhir setelah rukuk. Doa ini biasanya diamalkan ketika umat Islam menghadapi musibah besar, bencana, penindasan, atau situasi darurat yang menimpa kaum Muslimin, sebagai bentuk permohonan pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT.

Anwar melanjutkan, doa bersama tersebut diharapkan dapat diserukan secara luas melalui Dewan Masjid Indonesia (DMI) serta organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya.

"Kami berharap melalui DMI atau ormas-ormas seperti NU, Muhammadiyah, dan yang lain, untuk menyerukan kepada seluruh imam masjid agar selama Ramadan yang penuh keberkahan dan doa mustajab ini memohon kepada Allah,” lanjutnya.

Anwar menegaskan, Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dan doa bagi masyarakat Palestina yang hingga kini masih menghadapi situasi sulit akibat konflik berkepanjangan.

 

Perbedaan Jangan Buat Umat Terpecah

Sementara itu di tempat yang sama, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa bila ada perbedaan dalam penentuan waktu ramadan, maka hal ini tak perlu menyebabkan umat Islam berpisah.

Namun, dia mengimbau agar perbedaan ini tidak menyebabkan umat berpisah. Perbedaan ini tak perlu dimaknai dalam arti negatif.

"Seandainya ada di antara kita, warga kita umat Islam yang mungkin akan melakukan hal berbeda sesuai keyakinannya masing-masing, kami juga mengimbau kepada segenap masyarakat, mari perbedaan itu tidak menyebabkan kita berpisah atau berbeda dalam artian negatif," tuturnya.

Dia mengatakan bahwa perbedaan merupakan konfigurasi yang sangat indah. Indonesia sangat berpengalaman dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan.

"Jadi perbedaan itu sebagai satu konfigurasi yang sangat indah, Indonesia sudah sangat berpengalaman berbeda tapi tetap utuh dalam suatu persatuan yang sangat indah," ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6