Wajah Imlek di Vihara Gayatri: dari Doa Damai hingga Tawa Anak-Anak

Ratusan umat Tionghoa datang ke Vihara Gayatri, Cilangkap, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, untuk beribadah merayakan Tahun Baru Imlek 2026.

Diterbitkan 17 Februari 2026, 20:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan umat Tionghoa berdatangan ke Vihara Gayatri, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, untuk beribadah merayakan Tahun Baru Imlek, Selasa (17/2/2026). Sejak pagi hari, umat silih bergantian memasuki area peribadatan guna memanjatkan doa dan harapan menyambut pergantian tahun 2577 Kongzili.

“Karena saya tinggalnya di daerah sini, jadi tiap kali sembahyang nya saya di sini, termasuk Imlek ini,” ujar Asian (60), salah satu umat yang rutin beribadah di Vihara Gayatri.

Pantauan Liputan6.com di lokasi pada pukul 10.30 WIB, suasana khidmat langsung terasa begitu memasuki kawasan vihara. Aroma dupa yang baru dibakar menyambut umat dan pengunjung yang datang untuk berdoa maupun menyaksikan persiapan ibadah.

Asap dupa mengebul dari berbagai penjuru altar doa, yang siapapun melintasi akan merasa perih di matanya.

Pengunjung datang dari berbagai latar belakang, namun etnis Tionghoa mendominasi. Kebanyakan dari mereka mengajak keluarga. Bahkan uniknya, ada pula yang membawa anjing peliharaan.

Suara orang bersahut-sahutan terdengar dari berbagai penjuru area, berpadu dengan suasana ibadah yang khusyuk. Mulut-mulut umat tampak berkomat-kamit dalam doa, diiringi berbagai gerakan sembahyang.

Sembari menyalakan dupa, para umat tampak khusyuk memanjatkan doa dan harapan di Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Di vihara ini terdapat sekitar tujuh hingga delapan ruangan khusus untuk penghormatan leluhur yang seluruhnya dibersihkan secara menyeluruh jelang perayaan Imlek.

Lampion-lampion digantung berjajar dengan secarik kertas harapan yang tersemat di bagian bawahnya. Kertas tersebut melambangkan doa umat yang ditujukan kepada Shen Ming atau dewa.

Tak hanya menjadi tempat ibadah, suasana Vihara Gayatri yang asri juga dimanfaatkan anak-anak untuk bertamasya, karena vihara ini menyediakan fasilitas kolam ikan dan berbagai kandang hewan peliharaan.

 

Doa Damai di Tahun Baru Imlek

Bagi Asian, suasana Imlek di Vihara Gayatri selalu menghadirkan ketenangan batin.

“Kalau tahun baru Imlek pasti ramai banget, kalau hari-hari biasa enggak seperti ini sih ramainya,” katanya.

Ia mengungkapkan perasaannya usai berdoa di momen Imlek. “Perasaan nya saat berdoa ya tenang, senang, damai, dan semoga Indonesia aman, murah rejeki untuk keluarga kita, buat pribadi saya sehat,” ujar Asian.

Vihara Gayatri sendiri berdiri sejak 1983 atas prakarsa Linawati atau Lie Tju Eng. Sejak awal, vihara ini menjadi tempat bernaung bagi siapa pun yang ingin menepi dan memanjatkan doa.

Pengurus Vihara Gayatri, Mastus (54), menjelaskan bahwa vihara ini merupakan milik pribadi dan telah berpindah lokasi sejak awal berdirinya.

“Vihara milik pribadi, pindah kesini sekitar 1983-an, dulu aslinya gak jauh 100 meter dari sini, terus pindah kesini, beli tanah sedikit-sedikit sampai kebelakang sana,” katanya.

Mastus menambahkan bahwa tidak ada tradisi khusus yang membedakan perayaan Imlek di vihara tersebut.

“Kalau tradisi khusus di Vihara ini gak ada yah, palingan setiap Minggu ada ibadah kebaktian di sini,” ujarnya.

 

Perlengkapan Sembahyang Jelang Imlek

Selain menjadi pengurus vihara selama 30 tahun, Mastus juga mengurus penjualan perlengkapan sembahyang seperti hio dan perlengkapan lainnya. Saat ditemui Liputan6.com, dirinya tampak sibuk melayani pengunjung dari berbagai daerah.

“Sebelum ramai, pagi-pagi kita siapin ini dulu, terus dihitung Hio nya, buat di jadiin satu set,” tutur Mastus.

Ia menegaskan bahwa penjualan perlengkapan sembahyang merupakan inisiatif pribadi pemilik vihara.

“Kalau ini penjualan perlengkapan sembahyang ini dari inisiatif pribadi pemilik Vihara ini, bukan dari yayasan,” katanya.

Menurut Mastus, peningkatan jumlah umat terlihat dari penggunaan lilin besar tahun ini.

“Ramai tahun ini, kelihatan dari pemasangan lilin 200 kati yang besar itu, kalau tahun kemarin cuman satu pasang, sekarang ada 8,” ungkapnya.

Untuk satu paket perlengkapan sembahyang, pengunjung cukup merogoh kocek sekitar Rp 50 ribu.

“Kalau untuk setiap sembahyang seperti ini, kisaran Rp 50 ribu itu udah lengkap ya, ada Hio, lilin, kertasnya, udah satu paket, buat 8 altar doa kecil pokoknya,” jelas Mastus.

Menurutnya, kondisi penjualan perlengkapan sembahyang tahun ini jauh lebih baik.

“Untuk penjualan tahun ini naik, bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya semenjak covid itu, sekarang udah kembali normal,” ucapnya.

“Harapannya mudah-mudahan tahun kedepannya semakin ramai lagi,” tambah Mastus.

 

Anak-Anak dan Tradisi Angpao

Keramaian Imlek di Vihara Gayatri juga menjadi momen tersendiri bagi anak-anak yang tinggal di sekitar vihara. Muhammad Rayhan Fadillah, anak laki-laki berusia 11 tahun itu mengaku bersama teman-temannya sengaja datang untuk mengharapkan angpao dari para pengunjung.

Saat ditanya kebiasaan mereka setiap Imlek, Rayhan menjawab singkat, “Iya, nyari angpao.”

Ketika ditanya apakah sudah mendapatkan angpao, sebagian anak menjawab sudah, sementara lainnya belum.

“Ada, Rp 5 ribu,” ujar salah satu dari mereka.

Ditanya soal hasil yang didapat, Rayhan mengatakan, “Lumayan, ada juga yang enggak dapat.”

Rayhan menyebut, mereka mulai datang sejak pagi hari. “Dari jam setengah sembilan, sampai jam 12 siang nanti,” tutupnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6