PDIP Sebut Akses Transportasi Publik Jakarta Belum Merata: Integrasi Harus Segera Dilakukan

Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Pantas Nainggolan mengatakan pentingnya penguatan integrasi dan kesetaraan moda transportasi publik.

Diterbitkan 10 Februari 2026, 21:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) DPRD DKI Jakarta Pantas Nainggolan mengatakan, penguatan integrasi dan kesetaraan moda transportasi publik di Jakarta perlu dilakukan, mengingat masih ada ketimpangan akses antara warga.

Hal ini disampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD) Transportasi Umum di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

"Transportasi berkelanjutan dipandang sebagai instrumen penting untuk mewujudkan keadilan sosial dan keberpihakan kepada rakyat kecil," kata dia.

Pantas menegaskan, hal ini juga sejalan dengan dengan sikap politik PDIP dalam Rakernas I Januari 2026, yang menempatkan isu krisis ekologis, mitigasi bencana, dan keberlanjutan lingkungan sebagai agenda strategis. 

Pasalnya, sampai saat ini, Jakarta masih dihadapi permasalahan serius dalam sistem transportasi umum. Pertumbuhan urbanisasi yang cepat, perluasan kawasan permukiman yang tidak selalu diiringi oleh penyediaan angkutan umum massal.

"Konsentrasi kegiatan ekonomi di pusat kota telah membentuk pola mobilitas yang tidak efisien, dan bergantung pada kendaraan pribadi. Ditambah keterbatasan cakupan, kapasitas, serta integrasi layanan angkutan umum, terutama di kawasan penyangga," ungkap Pantas.

Akibatnya, masih kata dia, terjadi ketimpangan akses mobilitas antara warga pusat kota dan masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah pinggiran yang bergantung pada moda informal dan perjalanan jarak jauh.

Pantas menegaskan, pengelolaan moda transportasi publik yang berkelanjutan, transparan, berkeadilan dan bebas korupsi menjadi harapan seluruh masyarakat DKI Jakarta.

Tidak hanya itu, kata dia, transportasi berkelanjutan harus menjamin hak mobilitas seluruh warga kota. Yakni memastikan akses yang aman dan terjangkau bagi perempuan, penyandang disabilitas, lansia dan kelompok rentan.

Transportasi Jakarta Terkoneksi 92 Persen, Tapi Banyak Warga Belum Gunakan

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui sistem transportasi publik di Jakarta secara jaringan telah terkoneksi hingga 92 persen. Namun, masih banyak warga belum memanfaatkannya.

"Konektivitas transportasi di Jakarta itu hampir 92 persen, tetapi pemanfaatannya belum maksimum," kata dia saat groundbreaking Entrance Stasiun MRT Harmoni di Komplek Pertokoan Duta Merlin, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).

Pramono menilai, kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara ketersediaan infrastruktur transportasi publik dan tingkat penggunaannya di lapangan.

Padahal, berbagai moda transportasi seperti MRT, Transjakarta, hingga layanan Transjabodetabek sudah banyak yang telah terhubung satu sama lain.

"Maka untuk itu saya sudah sampaikan kepada Bapak Kepala Dinas Perhubungan, untuk Trans-Jabodetabek kita akan buka rute-rute baru," ungkap Pramono.

Pramono mengungkapkan, salah satu rute yang tengah diusulkan oleh Pemprov DKI Jakarta saat ini adalah layanan Transjabodetabek dari bandara menuju Blok M.

Menurut dia, rute tersebut memiliki prospek tinggi, mengingat besarnya animo masyarakat pada rute-rute sejenis yang telah beroperasi.

“Tadi saya habis berbisik-bisik dengan Pak Dirjen, mudah-mudahan disetujui untuk dari Bandara ke Blok M,” kata Pramono.

Dia meyakini, apabila rute tersebut disetujui dan dioperasikan, tingkat keterisian penumpang akan tinggi dan mampu meningkatkan pemanfaatan transportasi publik secara keseluruhan.

"Saya yakin pasti dari bandara ke Blok M akan rame sekali," jelas Pramono.

Pembangunan Entrance Stasiun MRT Harmoni Dimulai

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara resmi memulai peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan entrance Stasiun Harmoni MRT Jakarta Fase 2A. Groundbreaking tersebut menandai dimulainya pembangunan salah satu simpul transportasi massal strategis yang akan menghubungkan kawasan pusat pemerintahan hingga Kota Tua.

“Hari ini, Selasa 20 Januari 2026 pembangunan Entrance Station Harmoni MRT Jakarta Fase 2A secara resmi saya nyatakan dimulai,” kata Pramono di Komplek Pertokoan Duta Merlin, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).

Pramono meyakini Stasiun Harmoni akan menjadi kawasan transit oriented development (TOD) yang sangat strategis. Sebab, kawasan tersebut dikelilingi kantor-kantor pemerintahan dan merupakan kawasan bisnis lama Jakarta yang diyakini akan kembali ramai seiring beroperasinya MRT.

“Saya meyakini kalau di tahun 2029 TOD Harmoni ini sudah jadi, maka ini akan menjadi TOD yang sangat strategis,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa Stasiun Harmoni akan menjadi titik integrasi antara MRT Jakarta dan Transjakarta. Menurut Pramono, MRT Jakarta ditargetkan beroperasi hingga Stasiun Monas pada 2027, lalu berlanjut sampai Kota Tua pada 2029.

“MRT akan menyelesaikan sampai dengan tahun 2027 sampai dengan Monas. Setelah Bundaran HI ada tujuh stasiun berhenti, mulai dari Thamrin, Monas, kemudian Harmoni ini, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota Tua,” jelasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6