Pameran Bukan Tentang Sampah Soroti Lemahnya Pemilahan Limbah dalam Rumah Tangga

Pameran ‘Bukan Tentang Sampah’ yang digelar oleh Dutch Design Foundation Belanda menyoroti isu kesadaran pemilahan dan keberlanjutan sampah menjadi material.

Diterbitkan 06 Februari 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pameran 'Bukan Tentang Sampah' yang digelar di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, Jakarta Selatan (Jaksel) pada Kamis 5 Februari 2026 menyoroti lemahnya praktik pemilahan sampah di tingkat rumah tangga yang membebani pemulung dan pekerja di hilir sistem.

Mengusung tema Rethinking Waste, kegiatan ini bertujuan untuk melihat lebih jauh bagaimana sampah tidak lagi dipandang sebagai barang kotor yang tak bernilai, sekaligus mengetahui bagaimana cara memilah sampah yang baik.

Pameran ini merupakan hasil program Co/Lab yang diprakarsai oleh Dutch Design Foundation di Belanda, berkolaborasi dengan Wahu (WAste HUbs), dan didukung oleh Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, serta Erasmus Huis Jakarta.

Arsitek sekaligus desainer urban Dhania Yasmin mengatakan, masalah sampah di Indonesia hingga saat ini masih menjadi hal kompleks yang sulit diselesaikan. 

"Sampah merupakan masalah global, dan sangat menarik untuk mempelajari bagaimana sistem pengelolaan sampah berfungsi di komunitas Belanda, sekaligus belajar dari contoh-contoh desain sosial lainnya yang dapat memperkaya dan menginspirasi proyek kami," ujar Yasmin kepada Liputan6.com, Kamis 5 Februari 2026.

Menurutnya, masalah tersebut terjadi karena masyarakat masih belum sadar secara menyeluruh cara memilah sampah, sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sementara itu, desainer asal Belanda Noud Sleumer dalam sambutannya mengungkapkan, pameran ini dibuat sebagai edukasi bagi masyarakat tentang cara pemilahan sampah.

"Pameran ini bukan hanya untuk ditonton atau dilihat. Kami mengundang pengunjung untuk berpartisipasi, dan semuanya interaktif. Hal Ini mencerminkan perilaku sehari-hari dalam membuang atau mungkin bahkan meneruskan material," kata Noud.

Bukan Membuang Tapi Meneruskan

Menurut Yasmin, pameran ini berusaha untuk  mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah menjadi material yang lebih berdaya guna.

"Jadi Erasmus Huis tidak hanya ingin eksperimen, tapi juga bisa mengedukasi, sharing temuan kita selama setengah tahun ini," papar dia.

"Sebenarnya yang kita mau bilang adalah kita semua punya peran dan tanggung jawab. Kita ingin mengajak kalian bisa bergabung dan kira-kira apa yang bisa yang dilakukan," imbuh Yasmin. 

Ia juga mengatakan, sampah yang ada bukan hanya dibuang, tapi diteruskan kepada pihak yang dapat menerima.

"Kita mau ganti sampah itu jadi material, kata membuang itu jadi meneruskan, karena ketika kita bilang 'material' maka perilakunya akan berbeda dibanding kita sebut dengan sampah," terang Yasmin.

Dia berharap, pemilahan sampah dapat dilakukan lebih masif untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

"Memilah itu tidak sulit, dan ketika memilah artinya kita memikirkan orang setelah kita yang menerima material tersebut, seperti pemulung, pekerja pabrik, bahkan orang-orang yang tinggal di pinggir TPA," ucap Yasmin.

Pentingnya Memilah Sampah

Urgensi pemilahan sampah juga disoroti dalam pameran ini, sebab di Indonesia, proses pemilahan dinilai masih belum optimal dijalankan.

Desainer Sosial Ade Amelia mengatakan, pengelolaan sampah saat ini bukan sekadar fasilitas, tapi masuk ke masalah sosial.

"Sistem pengelolaan sampah di Indonesia bukan hanya tentang fasilitas tetapi juga masalah sosial. Hubungan yang terputus antara kita dan tempat-tempat di mana sampah kita berakhir membuat konsekuensinya tampak jauh," kata Amelia.

Ia menegaskan, persoalan utama pengelolaan sampah bukan terletak pada pemulung, melainkan pada sampah rumah tangga yang tidak terpilah sejak awal.

"Isu utamanya adalah bukan pemulung yang mengambil sampah tetapi sampah yang kita kumpulkan itu tidak terpilah, sehingga mereka harus mengacak-acak tempat sampah. Padahal mereka itu sudah menjadi pahlawan daur ulang," terang Amelia.

Sejalan dengan hal tersebut, Dosen Komunikasi Visual New Media Universitas Bina Nusantara (Binus) Anastasia Ari Respati juga turut memberikan solusi terkait persoalan sampah.

"PR-nya banyak. Tapi kalau masing-masing orang sadar, langkah kecil yang bisa dilakukan bawa bekal dan minum sendiri. Karena itu sebenarnya cukup mengurangi sampah yang signifikan," tutup Anastasia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6