Anak SD di NTT Diduga Gantung Diri, Ketua Komisi X DPR Hetifah: Alarm Keras bagi Negara

Anak SD kelas IV di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas diduga gantung diri dan menuliskan surat permintaan maaf untuk sang ibu.

Diterbitkan 04 Februari 2026, 12:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang anak SD kelas IV di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas diduga gantung diri. Siswa tersebut menulis surat permintaan maaf ke ibunya. Siswa tersebut disebut tidak bisa membeli buku dan pena sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyatakan tragedi tersebur adalah kabar duka dan alarm keras bagi pemerintah.

"Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun," kata Hetifah dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, tragedi itu harus jadi momentum perbaikan sistem pendidikan Indonesia.

"Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena. Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar," terang Hetifah.

Ia menegaskan pendidikan dasra harusnya benar-benar gratis dan tidak ada beban bagi rakyat miskin.

"Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin. Kedepan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar," kata dia.

Politikus Golkar itu menilai, perlu ada perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi.

"Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan," pungkas Hetifah.

 

Bocah SD di Ngada NTT Tulis Surat Menyentuh untuk Ibu Sebelum Ditemukan Tewas Gantung Diri

Sebelumnya, seorang bocah, YBS (10), siswa kelas IV pada salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri, Kamis siang (29/1/2026).

Korban tergantung dengan seutas tali di dahan pohon cengkeh di dekat sebuah pondok, tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam proses oleh TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Begini bunyi surat korban dalam bahasa Ngada:

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATAMAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA

yang artinya :

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULUMAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL) JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar dengan emoji menangis.

 

Benarkan Surat

Kasi Humas Polres Ngada lpda Benediktus E Pissort membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.

”Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” ujar Benediktus.

Menurut dia, sejumlah saksi sudah diperiksa. Mereka, antara lain, Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34). Para saksi adalah warga setempat di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Dalam pemeriksaan itu, Kornelis menuturkan, sekitar pukul 11.00 Wita, ia hendak pergi mengikat kerbau di sekitar pondok milik nenek korban. Di pondok itu, korban dan neneknya tinggal.

Dari jauh, Kornelis melihat korban sudah dalam kondisi tergantung. Ia langsung berlari menuju ke arah jalan sambil berteriak meminta tolong. Warga berdatangan melihat kejadian tersebut dan menelepon polisi.

Sebelumnya, sekitar pukul 08.00 Wita, Gregorius dan Rofina mendapati korban duduk di bale-bale, tempat duduk yang terbuat dari bahan bambu, di luar pondok itu. Mereka sempat berbincang dengan korban. Mereka menanyakan keberadaan nenek korban. Juga alasan korban tidak ke sekolah.

"Saat ditanya, korban hanya menunduk dan sedih," ungkapnya.

Sementara MGT (47), ibu korban yang, menuturkan, pada malam sebelumnya, korban sempat menginap di rumah bersama ibu. Keesokan paginya, korban dititipkan ke tukang ojek dengan tujuan pondok neneknya, sekitar pukul 06.00 Wita.

Ibu korban sempat memberikan nasihat terakhir kepada korban agar rajin bersekolah. Ibunya menyampaikan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan. Saat ini memperoleh uang memang tidak mudah.

KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6