Anak SD Gantung Diri di NTT, Gubernur: Tidak Boleh Lagi Ada Orang Mati karena Miskin

Gubernur Melki meminta kejadian serupa anak SD gantung diri di NTT tidak boleh terjadi lagi.

Diterbitkan 05 Februari 2026, 17:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kejadian anak SD gantung diri di NTT atau Nusa Tenggara Timur diduga karena kecewa tidak dibelikan pulpen dan buku tulis oleh sang ibu.

Anak kelas IV SD berinisial YBR itu merupakan bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya sudah tiada, sehingga ibunya berjuang menghidupi anak-anak dengan berjualan kayu api dan hasil kebun.

Sejak umur satu tahun, YBR sehari-hari diasuh sang nenek di pondok sederhana berdinding bambu.

Kejadian yang dialami YBR membuat Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena buka suara. Ia menegaskan tidak boleh ada lagi warga NTT meninggal karena miskin.

"Enggak boleh ada lagi kejadian kayak begini. Tidak boleh ada yang mati karena miskin, (yang tidak punya uang) untuk beli buku dan bolpen," kata Melki saat berada di Universitas Citra Bangsa Kupang, NTT pada Rabu, 4 Februari 2026.

Melki mengatakan kejadian ini merupakan alarm serius bagi NTT. Ia pun mengingatkan agar perangkat sosial di provinsi itu harus dihidupkan sehingga bila ada masalah perekonomian bisa dibantu.

"Perangkat sosial seperti RT RW itu, orang miskin diurus, uang ada kok walaupun terbatas uang kita," katanya.

Bicara soal anggaran untuk keluarga tidak mampu, Melki pun mengatakan bahwa NTT menerima uang triliunan rupiah lewat Program Keluarga Harapan (PKH). Seharusnya, kejadian seperti yang dialami YBR tidak terjadi.

"Guna apa PKH? Uang triliunan mengalir ke NTT tapi masih ada orang mati karena begini. Enggak boleh lagi ada," katanya seperti mengutip dalam Youtube Universitas Citra Bangsa.

Melki Akui Pemerintah Daerah Gagal Deteksi Kesulitan Warga

Melki mengatakan, Pemda gagal untuk mendeteksi untuk membantu kesulitan yang dialami oleh bocah kelas IV SD tersebut. Menurut dia, kejadian ini merupakan tamparan keras bagi pemerintah Provinsi NTT yang selama ini sudah bekerja keras membangun NTT.

“Apapun kisahnya, ini merupakan tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan,” ujar dia mengutip Regional Liputan6.com.

Menurut dia, apa yang sudah dikerjakan belum semuanya berhasil dan menambahkan pemerintah belum berhasil menjaga agar tidak ada nyawa yang meninggal sia-sia karena kondisi yang dialami oleh anak tersebut.

“Ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” tambah dia.

Kontak Bantuan

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.