Model Indonesia Viknes Waren Beraksi di Show Jacquemus Paris Fashion Week

Jacquemus adalah salah satu desainer yang menggandeng model Indonesia Viknes Waren untuk tampil selama di Paris Fashion Week kali ini.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Show musim panas Jacquemus, label fesyen asal Prancis, disorot luas, terutama karena bertabur wajah tenar, termasuk Manon Katseye yang sedang hiatus dan aktor Korea Selatan Park Seo Joon. Di antara mereka, ada satu model Indonesia yang dipercaya membawakan koleksi teranyar Simon Porte Jacquemus di tepi Laut Mediterania di Korsika pada 29 Juni 2026.

Dia adalah Viknes Waren, mantan pemain bola basket yang kini bergabung dengan agensi Elite Model World. Pria asal Yogyakarta itu tampil mengenakan kemeja kuning berkerah yang dibalut jas warna turquois berlengan longgar.

Atasan itu terlihat rapi dimasukkan ke dalam celana kain gombrong warna cokelat. Sepasang sepatu suede deep sky blue dan slouchy bag besar menggenapi penampilannya yang terkesan necis di tengah teriknya sinar matahari saat itu.

"Sungguh pertunjukan yang luar biasa! Sungguh pengalaman yang luar biasa! Terima kasih banyak telah mengajak saya bergabung sekali lagi! Salam hangat untuk semua yang terlibat!" tulis Viknes di akun Instagram pribadinya seraya menyertakan gambar dan video di balik layar pertunjukan tersebut, pada 29 Juni 2026.

Sesuai keterangan yang disampaikannya, Viknes sempat menjadi salah satu model runway Jacquemus pada awal Januari 2026. Saat itu, ia membawakan setelan jas berwarna cokelat dengan lidah kerah yang unik. 

Jacquemus hanya salah satu dari beberapa show yang dijalaninya selama Pekan Mode Paris kali ini. Ia sebelumnya berjalan di runway untuk desainer Yohji Yamamoto, auralee Tokyo, hingga Junya Watanabe.

 

 

Tema Utama Koleksi Musim Panas Jacquemus

Sementara itu, mengutip Elle, Rabu (1/7/2026), untuk musim semi/musim panas 2027, Jacquemus sengaja membawa para penonton ke Korsika, tempat liburan masa kecilnya bersama ibunya. Wilayah itu menginspirasinya mengeluarkan koleksi Le Bonheur yang berarti kebahagiaan dalam bahasa Prancis.

Saat para tamu termasuk Isabelle Huppert, Manon, dan Alexandra Leclerc menyaksikan, para model muncul dari jalan setapak berkelok-kelok di tepi tebing yang menghadap ke laut, turun dari mercusuar tunggal yang menjadi penanda latar Korsika yang dramatis. Di laut, perahu layar mengeja nama merek tersebut.

Di Jacquemus, tempat bukanlah sekadar latar belakang, melainkan bagian dari koleksi. Koleksi ini berlandaskan pada kain-kain alami yang lembut: katun, linen, dan organza sutra tipis yang menghiasi tank top berpotongan rendah dan gaun-gaun santai yang siap untuk liburan. Rok berpinggang tinggi, yang dipotong tepat di bawah pinggul dengan lipatan, menampilkan siluet bikini—dalam warna biru laut cerah atau koral yang cerah—yang terlihat dari bawah.

Koleksi Santai tapi Detail

Papan inspirasi sang desainer—"Gamins au soleil" karya Fernand Léger pada 1907, karya Charles Negre dan Claire Guarry, dan foto-foto yang ia abadikan tentang ibunya saat perjalanan ke Korsika—tercermin dalam pendekatan busana yang santai dan instingtif. Bentuknya sederhana namun sangat berstruktur—ciri khas Jacquemus.

Rok berkerut yang cerah yang menonjol dari pinggul dengan lipatan lembut diimbangi dengan kemeja sederhana. Atasan tanpa lengan rajut yang dihiasi ornamen seperti sisik dipadukan dengan celana panjang yang rapi. Di tempat lain, kombinasi kemeja bergaris Breton dan bra dipadukan dengan sepatu selop jala, yang menjadi sorotan di seluruh koleksi.

Koleksi ini merangkul kenikmatan musim panas—bahkan saat Eropa dilanda gelombang panas lainnya—tanpa membuatnya terlalu rumit. "Saya membayangkan koleksi ini seperti musim panas itu sendiri," kata sang desainer dalam sebuah pernyataan. "Matahari, warna-warna, keindahan hal-hal sederhana, perasaan ringan. Bagi saya, ini adalah kebahagiaan... le bonheur."

Gelombang Panas Eropa Mematikan

Sementara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat di Eropa sejak 21 Juni 2026. Hal ini diakibatkan oleh gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor di berbagai wilayah benua tersebut.

Di Prancis, otoritas kesehatan pada Minggu, 28 Juni 2026, melaporkan sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari perkiraan sejak Rabu akibat dampak cuaca panas, dikutip dari laman France24, Senin, 29 Juni 2026. 

"Stres panas sering disebut sebagai 'pembunuh senyap'. Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu seperti ini," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui akun X.

Tedros juga mengingatkan jutaan warga Eropa kini hidup di bawah kondisi panas ekstrem yang telah menyebabkan ratusan kematian, penutupan sekolah, dan membebani jaringan listrik. Menurut perkiraan, sedikitnya 191 juta orang di Eropa akan menghadapi suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih pada Minggu, dengan kondisi terpanas terjadi di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.