Menperin: Hilirisasi Harus Buka Lapangan Kerja dan Perkuat Industri

Menperin mendorong hilirisasi semakin dalam untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong hilirisasi sumber daya alam tidak berhenti pada pengolahan komoditas menjadi produk antara. Pemerintah ingin rantai nilai industri diperpanjang hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, arah tersebut sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan agar investasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat," kata Agus dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).

"Bagi Kementerian Perindustrian, arahan ini semakin memperkuat tekad kami untuk menjalankan industrialisasi yang inklusif, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri,” tambah Menperin.

Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026, Presiden menyampaikan bahwa realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp 1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.

Pada semester I-2026, realisasi investasi mencapai Rp 1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

Menurut Agus, penciptaan lapangan kerja harus menjadi salah satu hasil utama dari industrialisasi. Investasi yang masuk diharapkan tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi, memperkuat rantai pasok, menggunakan produk dalam negeri, dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia.

Harus Menghasilkan Multiplier Effect

Agus menilai penguatan hilirisasi penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara lain. Struktur industri yang semakin dalam dan terintegrasi dari hulu hingga hilir akan meningkatkan nilai tambah yang tinggal di dalam negeri.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional. Karena itu, kita harus membangun struktur industri yang semakin dalam dan terintegrasi dari hulu sampai hilir. Indonesia harus mampu mengolah sumber daya yang kita miliki menjadi produk industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri,” ujar Agus.

Ia juga menegaskan bahwa dampak industrialisasi tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar. Ketika sebuah industri tumbuh, tenaga kerja terserap, pemasok bahan baku dan komponen berkembang, industri kecil dan menengah (IKM) masuk ke rantai pasok, aktivitas logistik meningkat, dan teknologi berkembang.

“Industrialisasi harus menghasilkan multiplier effect yang luas. Ketika sebuah industri tumbuh, yang berkembang bukan hanya pabriknya. Ada tenaga kerja yang terserap, pemasok bahan baku dan komponen yang tumbuh, IKM yang masuk ke rantai pasok, aktivitas logistik yang meningkat, teknologi yang berkembang, hingga ekspor yang semakin kuat,” jelasnya.

 

Kesempatan Kerja

Kemenperin mencatat sektor industri pengolahan memberikan kontribusi 13,53% terhadap penyerapan tenaga kerja nasional berdasarkan data Mei 2026.

Agus menegaskan hilirisasi harus dibawa semakin dalam agar semakin banyak nilai tambah dan kesempatan kerja tercipta di Indonesia.

“Hilirisasi harus kita bawa semakin dalam. Semakin panjang rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar nilai tambah yang tinggal di dalam negeri dan semakin banyak pula kesempatan kerja yang dapat kita ciptakan. Inilah esensi industrialisasi yang sedang kita bangun,” tegas Menperin.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6