Liputan6.com, Jakarta - Bertelanjang dada sambil meracik kopi menjadi pemandangan khas di Kopi Asiang, Pontianak. Sosok Yohanes Fendi atau yang akrab disapa Koh Asiang dikenal lewat kebiasaan tersebut sejak kedainya mulai dikenal masyarakat.
Penampilan sederhana itu perlahan berubah menjadi penanda yang membuat warung kopi legendaris ini mudah dikenali. Kebiasaan Koh Asiang bukan sekadar gaya di balik meja.
Cara tersebut tumbuh bersama perjalanan usahanya dan menjadi bagian dari pengalaman pelanggan ketika menikmati secangkir kopi. Nama kedai, racikan tradisional, serta sosok peraciknya kemudian berpadu menjadi cerita yang terus diingat hingga lintas generasi.
Advertisement
"Orang bakal tahu nih kalau di Pontianak ada kopi yang pernah mereka datangi, sosoknya (peracik) nggak pakai baju, minumannya cocok di lidah mereka,” ujar Suwandy, anak Koh Asiang, saat ditemui Lifestyle Liputan6.com di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Kopi Asiang sendiri telah menemani perjalanan kuliner Pontianak sejak 1958. Enam dekade lebih berlalu di tengah perubahan selera dan kemunculan berbagai konsep kedai baru.
Kini, warisan tersebut dibawa ke Jakarta melalui kehadiran Kopi Asiang sebagai salah satu tenant di Kampung Legendaris, Mal Ciputra Jakarta. Bagi keluarga yang meneruskan usaha ini, menjaga keberlanjutan tidak berarti mengubah karakter yang sudah terbentuk.
Suwandy menyebut, konsistensi sebagai pegangan utama yang diwariskan ayahnya pada generasi penerus. "Kalau Koh Asiang selalu ngajarin kita semua, apa pun yang kita kerjakan harus Kopi Asiang," katanya.
Mempertahankan Cara Lama di Tengah Kopi Modern
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323275/original/047112800_1786608070-WhatsApp_Image_2026-08-13_at_11.34.37.jpeg)
Nilai tersebut terlihat dalam proses penyajian yang masih mengandalkan keterampilan tangan. Kopi Asiang tidak menggunakan mesin untuk meracik minumannya. Cara manual dipertahankan sebagai bagian dari karakter yang membedakan kedai ini dari banyak tempat ngopi modern.
"Kami memang mau melakukannya secara tradisional. Kami tetap go local dengan metode yang manual," kata Suwandy.
Bagi pengunjung, proses tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda. Gerakan tangan dalam meracik minuman menjadi bagian dari tontonan, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi masih diberi ruang di tengah perkembangan industri kopi.
Suwandy mengatakan metode tersebut sengaja ditonjolkan agar pelanggan dapat melihat karakter Kopi Asiang secara langsung. Rasa pun dijaga agar pengalaman yang diterima pengunjung tetap memiliki benang merah dengan racikan yang telah dikenal sejak dahulu.
Advertisement
Sosok Tanpa Baju yang Menjadi Identitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323249/original/016795500_1786607715-IMG_8503.jpg)
Keberadaan Koh Asiang juga tetap menjadi bagian penting dalam arah keberlanjutan usaha. Keluarga tidak berencana menghadirkan figur pengganti karena sosok tersebut telah menyatu dengan sejarah Kopi Asiang.
Bagi mereka, karakter seseorang yang telah menjadi bagian dari perjalanan sebuah usaha tidak dapat begitu saja dialihkan kepada orang lain.
"Kita ingin tetap Pak Asiang aja yang kita tonjolin, tidak ada rencana untuk mengganti sosok Pak Asiang, karena namanya sosok kan tidak bisa digantikan," ujar Suwandy.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan warisan tidak selalu berarti menolak perubahan. Ada hal-hal tertentu yang justru perlu dijaga agar sebuah nama tidak kehilangan jati dirinya. Kopi Asiang membawa prinsip itu ketika membuka ruang di Jakarta.
Warisan yang Dipertahankan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323276/original/053921300_1786608070-WhatsApp_Image_2026-08-13_at_11.34.38.jpeg)
Lebih dari enam dekade perjalanan membuat Kopi Asiang memiliki identitas yang tetap kuat di tengah perubahan zaman. Tren kopi terus berganti, selera pelanggan pun berkembang, tapi warisan yang dibangun sejak 1958 masih dipertahankan.
Dari Pontianak hingga Jakarta, karakter tersebut hadir melalui racikan tradisional, proses manual, serta sosok Koh Asiang yang dikenal bertelanjang dada saat membuat kopi.
Bagi mereka, keberlangsungan sebuah kedai tidak hanya ditentukan oleh rasa. Kebiasaan yang dipertahankan, karakter yang melekat, dan cerita di balik setiap sajian turut membuat pelanggan memiliki kenangan tersendiri. Tradisi menjadi bagian penting yang membuat nama Kopi Asiang tetap dikenali hingga kini.
Secangkir kopi akhirnya tidak hanya menjadi minuman, namun juga membawa kisah panjang tentang keluarga, warisan, dan cara sebuah tradisi bertahan melewati pergantian zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5523300/original/073953200_1772800710-IMG_0778.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8228972/original/000657200_1781089339-cek_fakta_-_bantuan_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2141080/original/044539900_1525361942-spbu_pertamina_palembang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323274/original/033023200_1786608070-WhatsApp_Image_2026-08-13_at_11.34.38__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1371916/original/035165000_1476267322-Pontianak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8600200/original/078457800_1782574564-1000199487.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8390798/original/068550500_1782271087-telur_pontianak.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5826783/original/065739800_1778729421-Screenshot_2026-05-14_102824.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4383042/original/025111200_1680601120-resurrection-concept-crucifixion-jesus-christ-cross-sunset_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3490051/original/061657400_1624365625-Screen_Shot_2021-06-22_at_19.39.48.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553083/original/086286200_1775891672-IMG-20260411-WA0016.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5513897/original/028117700_1772075762-Cap_Go_Meh_Pontianak_Harmoni_Budaya_Bernilai_Ekonomi_Pulau_Kalimantan_bagian_barat.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5506667/original/049590400_1771474245-Screenshot_2026-02-19_110727.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5504772/original/008956400_1771299980-DSC_4228_Satu_Langit_Kota_Pontianak_Ramadan_dan_Imlek_Bersua_Harmoni.jpeg)