Daftar Ayat Al-Qur’an tentang Rezeki, Tafsir Singkat dan Kandungannya

Rezeki merupakan salah satu konsep paling fundamental dalam kehidupan manusia.

Diterbitkan 29 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Rezeki merupakan salah satu konsep paling fundamental dalam kehidupan manusia. Ayat Al-Qur'an tentang rezeki tersebar di berbagai surah, mencerminkan betapa pentingnya tema ini dalam Islam.

Dalam Al-Qur'an, kata rizq dengan segala derivasinya disebut sebanyak 123 kali, tersebar pada 41 surah, dengan 61 kali dalam bentuk fi'il (kata kerja) dan 62 kali dalam bentuk isim (kata benda). Jumlah ini menunjukkan bahwa rezeki bukanlah persoalan sekunder, melainkan bagian integral dari ajaran Islam yang mencakup dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi.

Para ulama telah lama menaruh perhatian besar terhadap konsep rezeki. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengungkapkan bahwa rezeki bukan sekadar akumulasi kekayaan, melainkan manfaat yang diambil dari kekayaan tersebut. Sesuatu baru disebut rezeki jika membawa kemaslahatan bagi diri pribadi dan orang lain.

Pemahaman tentang ayat-ayat rezeki juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan masyarakat. Penelitian Muhammad Khairil dalam Jurnal Ulunnuha tentang implementasi pemahaman ayat Al-Qur'an tentang rezeki menunjukkan bahwa sebagian umat Islam memahami ayat-ayat rezeki seperti dalam QS. Al-Baqarah ayat 60 sebagai landasan etos kerja mereka. Mereka bekerja keras, jujur, optimis, dan berdoa kepada Allah, sesuai dengan anjuran QS. Al-Jumu'ah ayat 10.

Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah daftar ayat Al-Qur'an tentang rezeki.

Daftar Ayat Al-Qur'an tentang Rezeki

1. QS. Al-Baqarah [2]: 22

Arab: الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Latin: Alladzī ja‘ala lakumul-arḍa firāsyaw was-samā’a binā’aw wa anzala minas-samā’i mā’an fa akhraja bihī minaṡ-ṡamarāti rizqal lakum, fa lā taj‘alū lillāhi andādaw wa antum ta‘lamūn.

Artinya: "(Dialah) yang menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui."

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim menjelaskan bahwa pada ayat ini Allah menjelaskan keesaan ketuhanan-Nya. Allah menjadikan bumi sebagai hamparan seperti tikar yang dapat ditempati dan didiami, serta menurunkan hujan dari langit yang menjadi sebab tumbuhnya tanaman dan buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia dan ternak mereka.

Hadits Rasulullah riwayat sahabat Muadz RA, "Apakah kau tahu hak Allah atas para hamba-Nya?" Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta dan pemberi rezeki, sehingga manusia tidak boleh menyekutukan-Nya.

2. QS. Al-Baqarah [2]: 172

Arab: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Latin: Yā ayyuhal-ladzīna āmanū kulū min ṭayyibāti mā razaqnākum wasykurū lillāhi ing kuntum iyyāhu ta‘budūn.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya."

Ayat ini merupakan bentuk penghormatan Allah kepada orang-orang beriman setelah sebelumnya pada ayat 168 Allah berbicara kepada seluruh manusia. Perintah memakan makanan yang halal dan baik diiringi dengan perintah bersyukur kepada Allah.

Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka menekankan bahwa "makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu" mencakup aspek kesehatan, keamanan, dan tidak berlebihan. Bersyukur kepada Allah berarti mengakui bahwa semua rezeki berasal dari-Nya dan memanfaatkannya sesuai ketentuan-Nya.

3. QS. Al-Maidah [5]: 88

Arab: وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ

Latin: Wa kulū mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibā, wattaqullāhal-ladzī antum bihī mu’minūn.

Artinya: "Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."

Tafsir Jalalayn (Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi) menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk memakan makanan yang halal lagi baik dari rezeki yang diberikan Allah, disertai dengan perintah bertakwa kepada Allah yang kepada-Nya mereka beriman.

Tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Mustafa Al-Maraghi menjelaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menikmati apa yang mudah baginya dari hal-hal yang baik tanpa merasa berdosa atau terhalang, dan menghadirkan hatinya bahwa ia sedang mengamalkan syariat Allah.

4. QS. Al-An'am [6]: 142

Arab: وَمِنَ الْأَنْعَامِ حَمُولَةً وَفَرْشًا ۚ كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Latin: Wa minal-an‘āmi ḥamūlataw wa farsyā, kulū mimmā razaqakumullāhu wa lā tattabi‘ū khuṭuwātisy-syaiṭān, innahū lakum ‘aduwwum mubīn.

Artinya: "Dan di antara hewan-hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu."

Ayat ini termasuk dalam daftar ayat rezeki yang menegaskan bahwa hewan ternak merupakan bagian dari rezeki Allah, dan manusia diperintahkan untuk memakannya serta menjauhi langkah-langkah setan.

5. QS. Al-A'raf [7]: 50

Arab: وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

Latin: Wa nādā aṣḥābun-nāri aṣḥābal-jannati an afīḍū ‘alainā minal-mā’i au mimmā razaqakumullāh, qālū innallāha ḥarramahumā ‘alal-kāfirīn.

Artinya: "Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir.'"

6. QS. Al-Anfal [8]: 26

Arab: وَاذْكُرُوا إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Latin: Ważkurū iż antum qalīlum mustaḍ‘afūna fil-arḍi takhāfūna ay yatakhaṭṭafakumun-nāsu fa āwākum wa ayyadakum binaṣrihī wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāti la‘allakum tasykurūn.

Artinya: "Dan ingatlah ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah). Kamu takut orang-orang akan menculikmu, lalu Allah memberi kamu tempat berlindung dan memperkuatmu dengan pertolongan-Nya, serta menganugerahimu rezeki yang baik agar kamu bersyukur."

7. QS. An-Nahl [16]: 72

Arab: وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Latin: Wallāhu ja‘ala lakum min anfusikum azwājaw wa ja‘ala lakum min azwājikum banīna wa ḥafadatan wa razaqakum minaṭ-ṭayyibāt, a fa bil-bāṭili yu’minūna wa bini‘matillāhi hum yakfurūn.

Artinya: "Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?"

8. QS. An-Nahl [16]: 114

Arab: فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Latin: Fa kulū mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibaw wasykurū ni‘matallāhi ing kuntum iyyāhu ta‘budūn.

Artinya: "Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah."

Tafsir Jalalayn menafsirkan ayat ini sebagai perintah kepada orang-orang beriman untuk memakan makanan yang halal dan baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka, serta mensyukuri nikmat Allah jika mereka benar-benar hanya menyembah kepada-Nya.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memilih jalan bersyukur dengan memakan segala yang dikaruniakan Allah berupa rezeki yang halal dan baik, serta tidak mengharamkan sesuatu yang halal bagi diri mereka.

9. QS. Al-Isra [17]: 30

Arab: إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Latin: Inna rabbaka yabsuṭur-rizqa limay yasyā’u wa yaqdir, innahū kāna bi‘ibādihī khabīran baṣīrā.

Artinya: "Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Sungguh, Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat hamba-hamba-Nya."

Tafsir Jalalayn menjelaskan bahwa Allah melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya, sehingga segala ketentuan-Nya mengandung hikmah.

Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa keluasan dan kesempitan rezeki adalah ujian dari Allah, dan manusia tidak boleh menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan di sisi Allah.

10. QS. Al-Hajj [22]: 28

Arab: لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Latin: Liyasyhadū manāfi‘a lahum wa yażkurūsmallāhi fī ayyāmim ma‘lūmātin ‘alā mā razaqahum min bahīmatil-an‘ām, fa kulū minhā wa aṭ‘imul-bā’isal-faqīr.

Artinya: "Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."

11. QS. Al-Hajj [22]: 34

Arab: وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Latin: Wa likulli ummatin ja‘alnā mansakan liyażkurūsmallāhi ‘alā mā razaqahum min bahīmatil-an‘ām, fa ilāhukum ilāhuw wāḥidun fa lahū aslimū, wa basysyiril-mukhbitīn.

Artinya: "Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)."

12. QS. Al-Hajj [22]: 35

Arab: الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Latin: Alladzīna iżā żukirallāhu wajilat qulūbuhum waṣ-ṣābirīna ‘alā mā aṣābahum wal-muqīmīṣ-ṣalāti wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn.

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang mendirikan salat, dan yang menginfakkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka."

13. QS. Al-Qasas [28]: 73

Arab: وَمِن رَّحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Latin: Wa min raḥmatihī ja‘ala lakumul-laila wan-nahāra litaskunū fīhi wa litabtaghū min faḍlihī wa la‘allakum tasykurūn.

Artinya: "Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya."

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini mengandung anjuran untuk bekerja di siang hari. Allah menciptakan siang dan malam dengan perbedaan karakteristik yang saling melengkapi.

Malam diciptakan dengan kegelapan agar manusia dapat beristirahat, sedangkan siang hari diberi cahaya terang agar manusia bisa memanfaatkan waktu untuk mencari rezeki dan beraktivitas. Hal ini merupakan bagian dari rahmat Allah yang memberikan keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Imam Thabari dalam Tafsir Jami'ul Bayan menafsirkan bahwa Allah menjadikan malam untuk ketenangan dan siang untuk mencari karunia-Nya, serta agar manusia bersyukur atas nikmat waktu yang diberikan.

14. QS. Al-Mulk [67]: 15

Arab: هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

Latin: Huwal-ladzī ja‘ala lakumul-arḍa dzalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū min rizqih, wa ilaihin-nusyūr.

Artinya: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa kelompok ayat-ayat ini menguraikan lebih lanjut mengenai rububiyat (betapa kuasa dan wewenang Allah dalam mengatur alam semesta). Melalui ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menjadikan kenyamanan hidup untuk manusia di bumi sehingga manusia dapat dengan mudah melakukan aneka aktivitas, baik bertani, berniaga, maupun mencari rezeki di bidang apapun.

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim menafsirkan: "Maka, bepergianlah ke manapun kamu mau dari wilayahnya. Dan telusuri serta pulang pergilah ke setiap sudutnya untuk mencari segala macam keuntungan dan perdagangan. Dan ketahuilah bahwa usahamu tidak akan membawa manfaat apa pun kepadamu kecuali jika Allah memudahkannya untukmu."

15. QS. Al-Jumu'ah [62]: 10

Arab: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Latin: Fa iżā quḍiyatiṣ-ṣalātu fantasyirū fil-arḍi wabtaghū min faḍlillāhi ważkurullāha kaṡīran la‘allakum tufliḥūn.

Artinya: "Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

Apabila salat wajib telah dilaksanakan di awal waktu dengan berjamaah di masjid, maka bertebaranlah di bumi, kembali bekerja dan berbisnis; carilah karunia Allah, rezeki yang halal, berkah, dan melimpah; dan ingatlah Allah banyak-banyak ketika salat maupun ketika bekerja atau berbisnis agar kamu beruntung, menjadi pribadi yang seimbang, serta sehat mental dan fisik.

Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Al-Kabir menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan kebolehan (ibahah) untuk kembali beraktivitas mencari nafkah setelah sebelumnya dilarang saat azan berkumandang.

16. QS. Al-Fajr [89]: 15-16

Arab: فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (16)

Latin: Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhū fa akramahū wa na‘‘amahū fa yaqūlu rabbī akraman. Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahū fa yaqūlu rabbī ahānan.

Artinya: "Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, 'Tuhanku telah memuliakanku.' Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, 'Tuhanku telah menghinaku.'"

Dawam Rahardjo dalam Ensiklopedi Al-Qur'an menganalisis bahwa ayat pertama yang memuat kata rizq dalam kronologi turunnya wahyu adalah QS. Al-Fajr ayat 16. Al-Razi seperti dikutip Muhammad Asad dalam The Message of the Qur'an menyatakan bahwa ayat ini memberi gambaran tentang sikap sosial seseorang dalam mengelola rezekinya.

Kalau ia memperoleh kekayaan, ia mengatakan itu sudah menjadi haknya. Tetapi jika rezeki menyempit, ia menuduh Tuhan tidak adil. Kesemuanya itu sebenarnya adalah dalih untuk mengelak dari tanggung jawab sosial.

Makna Mendalam Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Rezeki

1. Rezeki Mencakup Materi dan Non-Materi

Al-Qur'an menggunakan kata rizq untuk merujuk pada berbagai bentuk pemberian Allah. Dalam Ensiklopedia Al-Qur'an: Kajian Kosa Kata yang disusun Affan, penyebutan kata rizq dalam Al-Qur'an mengacu kepada makanan, air yang menghidupkan hewan dan tumbuhan, binatang ternak, hamba sahaya, istri, dan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa rezeki jauh lebih luas dari sekadar harta benda.

2. Rezeki adalah Pemberian yang Dapat Dimanfaatkan

Menurut para ulama, asal makna kata rizq adalah pemberian, baik yang ditentukan maupun tidak, baik yang mengikuti makanan perut maupun yang berhubungan dengan kekuasaan dan ilmu pengetahuan. Raghib al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an menyatakan bahwa kata rezeki diartikan sebagai pemberian, baik perkara duniawi maupun akhirat.

3. Rezeki dan Kemaslahatan

Hasan Matsum dkk dalam Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam menyimpulkan bahwa sesuatu disebut rezeki jika rezeki tersebut membawa kemaslahatan bagi diri pribadi (orang yang mengusahakannya) dan juga bagi orang lain. Ini sejalan dengan pandangan Ibnu Khaldun yang menegaskan bahwa rezeki bukan sekadar akumulasi kekayaan, melainkan manfaat yang diambil dari kekayaan.

4. Rezeki yang Halal dan Thayyib

Al-Qur'an secara konsisten memerintahkan manusia untuk mengonsumsi rezeki yang halal dan thayyib (baik). Konsep halalan thayyiban mencakup aspek legalitas syariat serta kualitas yang bermanfaat bagi tubuh dan jiwa. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa rezeki yang dimaksud dalam ayat-ayat ini jangan disalahpahami; rezeki tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga spiritual.

5. Rezeki dan Tanggung Jawab Sosial

Setiap rezeki yang diperoleh mengandung tanggung jawab sosial. Dalam QS. Al-Zariyat [51]: 19, Allah berfirman bahwa pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. Dawam Rahardjo menyatakan bahwa hak setiap orang untuk memperoleh rezeki dari Allah sekaligus mengandung tanggung jawab sosial.

Hikmah Memahami Ayat Al-Qur'an tentang Rezeki

1. Menumbuhkan Kesadaran bahwa Rezeki Berasal dari Allah

Memahami ayat-ayat rezeki menumbuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu yang diperoleh manusia pada hakikatnya adalah pemberian Allah. QS. Al-Mulk [67]: 15 menegaskan bahwa Allah menjadikan bumi mudah dijelajahi dan rezeki yang diperoleh adalah dari-Nya. Kesadaran ini melahirkan sikap tawakal dan syukur.

2. Mendorong Etos Kerja dan Ikhtiar Maksimal

Ayat-ayat rezeki seperti QS. Al-Jumu'ah [62]: 10 dan QS. Al-Mulk [67]: 15 memerintahkan manusia untuk bertebaran di bumi dan bekerja keras. Penelitian Muhammad Khairil menunjukkan bahwa pemulung di Kota Padang memahami ayat-ayat ini sebagai landasan etos kerja mereka, dengan berusaha, bekerja keras, jujur, dan optimis.

3. Menghindarkan Diri dari Sikap Materialisme

Pemahaman yang benar tentang rezeki menjauhkan seseorang dari materialisme. M. Quraish Shihab menegaskan bahwa rezeki tidak hanya dalam bentuk materi; kepuasan hati adalah kekayaan yang tidak pernah habis. Ada juga rezeki yang bersifat pasif, seperti kesehatan dan ketenangan jiwa.

4. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Ayat-ayat rezeki mengajarkan bahwa harta yang diperoleh mengandung hak orang lain. QS. Al-Hajj [22]: 28 memerintahkan untuk memberikan sebagian hewan kurban kepada orang-orang yang sengsara dan fakir. Ini menumbuhkan kepedulian sosial dan solidaritas umat.

5. Membangun Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Ayat-ayat rezeki mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Setelah salat Jumat, umat Islam diperintahkan untuk bertebaran di bumi mencari rezeki, namun tetap mengingat Allah. Ini menunjukkan bahwa bekerja dan beribadah bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.

 

Pertanyaan Seputar Ayat Tentang rezeki

1. Ada berapa ayat tentang rezeki dalam Al-Qur'an?

Kata rizq dengan segala derivasinya disebut sebanyak 123 kali dalam Al-Qur'an, tersebar pada 41 surah. Dari jumlah tersebut, 61 kali dalam bentuk fi'il (kata kerja) dan 62 kali dalam bentuk isim (kata benda).

2. Apa ayat Al-Qur'an yang menjamin rezeki setiap makhluk?

QS. Hud [11]: 6 menyatakan: "Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa bukan hanya mereka yang kafir dan munafik yang diketahui keadaannya dan dianugerahi rezeki-Nya, tetapi semua makhluk.

3. Apa perbedaan rezeki halal dan haram menurut para ulama?

Menurut az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyaf, rezeki diisyaratkan cara memilikinya harus dengan sah; apa yang tidak boleh dimiliki tidak disebut dengan rezeki. Sedangkan menurut Ibnu Katsir, rezeki digunakan untuk menunjukkan dan diambil manfaatnya, baik yang halal maupun yang haram. Namun mayoritas ulama menekankan bahwa rezeki yang hakiki adalah yang halal dan membawa kemaslahatan.

4. Bagaimana cara mendapatkan rezeki yang berkah menurut Al-Qur'an?

Rezeki yang berkah dapat diperoleh melalui: (1) usaha dan kerja keras dengan cara yang halal, sebagaimana QS. Al-Mulk [67]: 15; (2) bertakwa kepada Allah, sebagaimana QS. At-Thalaq [65]: 2-3 yang menjanjikan jalan keluar dan rezeki dari arah tidak disangka; (3) bersyukur atas nikmat Allah, sebagaimana QS. An-Nahl [16]: 114; (4) beristighfar dan bertaubat; (5) bersedekah dan berinfak; serta (6) menikah dan memiliki keturunan yang saleh.

5. Apakah rezeki hanya berupa harta benda?

Tidak. Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, rezeki dibagi menjadi dua, yaitu materi dan non-materi. Rezeki materi ialah hasil jerih payah manusia dalam bekerja, sedangkan rezeki non-materi ialah ketika orang-orang beriman melakukan kebajikan, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, yang akan dihadiahkan rezeki terbesar yaitu surga. Selain itu, anak, kesehatan, pendengaran, penglihatan, ilmu pengetahuan, dan ketenangan hati juga termasuk rezeki.

 

.