Liputan6.com, Jakarta - Kasus anak SD gantung diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan menjadi perbincangan luas di media sosial. Peristiwa tragis ini kembali membuka perhatian publik terhadap persoalan kesehatan mental pada anak.
Menanggapi kasus tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa masalah kesehatan mental pada anak di Indonesia bukan hal sepele. Dia, menyebut, setidaknya terdapat sekitar 10 juta anak di Tanah Air yang mengalami persoalan kesehatan mental.
"Kesehatan mental anak memang kita sudah nemu ada 10 juta. Nah, itu yang sekarang mau saya siapkan ada psikolog klinis di masing-masing puskesmas supaya penyakit yang sebelumnya tidak pernah terlayani ini bisa dilayani," kata Budi di Jakarta Selatan pada Rabu, 4 Februari 2026.
Advertisement
Budi, menambahkan, puskesmas tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani persoalan kesehatan mental anak. Menurutnya, kolaborasi dengan pihak sekolah menjadi langkah penting agar masalah psikologis pada anak bisa terdeteksi lebih dini.
"Dan, puskesmas itu tanggung jawab juga ke sekolah-sekolah karenanya penting sekali kita kerja sama dengan sekolah-sekolah," tambahnya.
Kronologi Anak SD di NTT Bunuh Diri
Sebelumnya, kasus anak SD gantung diri menggemparkan jagat media sosial. Peristiwa bunuh diri tersebut menimpa seorang bocah berusia 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Korban yang masih duduk di kelas IV sekolah dasar (SD) itu diduga nekat mengakhiri hidup karena kecewa tidak dibelikan pulpen dan buku tulis untuk keperluan sekolah.
Kasus anak SD gantung diri di NTT ini semakin viral setelah beredar kabar bahwa korban berinisial YBR sempat menulis surat untuk sang ibu. Surat tersebut disertai gambar seorang anak yang sedang menangis, sehingga menggugah emosi publik.
Belajar dari kasus anak SD gantung diri, dokter spesialis kedokteran jiwa Lahargo Kembaren memberikan catatan penting dari sudut pandang kesehatan jiwa anak dan remaja.
"Anak tidak sedang ingin mati, dia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat," kata Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com pada Rabu, 4 Februari 2026.
Menjawab pertanyaan apakah anak usia 10 tahun sudah memahami konsep kematian dan bunuh diri, Lahargo menjelaskan bahwa pemahaman tersebut memang mulai terbentuk.
"Ya, anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meski pemahamannya belum matang secara emosional dan kognitif," ujarnya.
Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang.
Pola pikir mereka masih konkret dan cenderung hitam-putih. Saat berada dalam tekanan berat, anak bisa sampai pada kesimpulan ekstrem, seperti,'Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai'.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu orang dewasa. Risiko ini dapat muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.
"Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," ujar Lahargo.
Faktor Utama Risiko Bunuh Diri pada Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491668/original/073507100_1770103629-1001588945.jpg)
Lebih lanjut, Lahargo memaparkan sejumlah faktor risiko utama bunuh diri pada anak usia sekolah dasar. Berdasarkan kajian WHO dan laporan tren nasional Kementerian Kesehatan, faktor-faktor tersebut meliputi:
Faktor individu:
- Depresi, kecemasan berat
- Kesulitan regulasi emosi
- Perasaan bersalah berlebihan, merasa menjadi beban.
Faktor keluarga:
- Tekanan ekonomi kronis
- Konflik keluarga, kekerasan verbal/fisik
- Orangtua mengalami stres berat atau gangguan mental.
Faktor lingkungan:
- Perundungan (bullying)
- Isolasi sosial
- Paparan konten bunuh diri di media/digital tanpa pendampingan.
Advertisement
Tren Anak yang Mencoba Bunuh Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491545/original/056954800_1770099023-1001588980.jpg)
Kemenkes menunjukkan tren peningkatan kasus percobaan bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya tekanan sosial-ekonomi dan digital.
"Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian," katanya.
Perubahan perilaku adalah alarm paling penting. Jangan dianggap sepele, tanda-tanda yang perlu diwaspadai yakni:
- Menarik diri, menjadi sangat pendiam
- Perubahan drastis emosi: murung, mudah menangis, cepat marah
- Ucapan bernada putus asa: “Aku capek hidup”, “Aku cuma bikin repot”
- Gangguan tidur, mimpi buruk berulang
- Penurunan prestasi atau kehilangan minat bermain.
WHO menekankan, mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, tapi sering tidak terbaca atau diabaikan.
"Perilaku anak berubah bukan tanpa sebab, itu cara jiwa meminta tolong," tambahnya.
Cegah Anak Bunuh Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5492457/original/079293000_1770175164-anak_bunuh_diri.jpg)
Langkah pencegahan adalah hal paling penting agar kejadian serupa tidak terulang. Pencegahan harus berlapis, tidak bisa satu pihak saja, yakni:
Di keluarga:
- Bangun komunikasi emosional, bukan hanya disiplin
- Validasi perasaan anak sebelum memberi nasihat
- Orangtua perlu berani mencari bantuan, bukan menahan sendiri.
Di sekolah:
- Guru dilatih mengenali tanda distres psikologis dan melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP / Psychological First Aid)
- Sistem konseling aktif, bukan reaktif
- Budaya anti-bullying yang nyata, bukan slogan.
Di masyarakat dan negara:
- Akses layanan kesehatan jiwa anak diperluas
- Literasi kesehatan mental sejak dini
- Kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga.
WHO menegaskan bahwa bunuh diri dapat dicegah, dengan intervensi dini, sistem dukungan kuat, dan lingkungan yang aman secara emosional.
“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya," pungkas psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) itu.
Advertisement
KONTAK BANTUAN
Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.
Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku
Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.
Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1908458/original/066821200_1766619000-WhatsApp_Image_2025-12-25_at_06.29.31.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5493036/original/017857400_1770192325-bgs_mental_1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299157/original/094356500_1605660408-AP20322768020969.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8505254/original/095572100_1782426499-063_2283328466.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710453/original/039368100_1782790641-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378845/original/006458400_1782257129-England_s_Harry_Kane.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5494372/original/098352700_1770286064-Screenshot_2026-02-05_170605.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491545/original/056954800_1770099023-1001588980.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491668/original/073507100_1770103629-1001588945.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4961440/original/032709700_1728222801-fotor-ai-20241006205048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5489272/original/039776700_1769836120-nipah__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5487816/original/028391400_1769678219-kelelawar_buah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4580556/original/092818400_1695101161-robina-weermeijer-z8_-Fmfz06c-unsplash.jpg)