Ahli Polimer UI Ingatkan Bahaya Galon Guna Ulang Tua, Ancaman BPA Semakin Nyata

Investigasi Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) terhadap 60 kios di wilayah Jabodetabek menemukan bahwa 57 persen galon yang dijual telah berusia lebih dari dua tahun.

Diterbitkan 20 Januari 2026, 19:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Galon polikarbonat berisiko lepaskan BPA akibat degradasi material dan usia pakai.
  • Investigasi KKI dan BPOM temukan banyak galon tua dengan paparan BPA melebihi ambang batas.
  • BPA picu gangguan kesehatan serius; regulator didesak percepat penarikan galon tua dan pelabelan.

Liputan6.com, Jakarta - Wacana mengenai keamanan penggunaan galon air berbahan polikarbonat (PC) kembali jadi perhatian publik. Profesor Mochamad Chalid, ahli polimer dari Universitas Indonesia, mengingatkan adanya risiko serius akibat peluruhan senyawa kimia Bisphenol A (BPA) dari galon yang sudah terlalu lama digunakan.

Menurut Prof Chalid, struktur galon PC terdiri dari rantai panjang polimer yang bisa melemah dan terputus karena berbagai faktor seperti paparan panas, proses pencucian berulang, serta lamanya masa pakai. Proses ini bisa menyebabkan pelepasan BPA melalui fenomena leaching atau migrasi zat kimia.

“Kalau ada rantai, pasti ada mata rantai. Ibarat kalung ada mata rantai kalungnya. Nah, itu bisa terputus. Putusannya yang disebut dengan bagian kecil tadi itu disebut dengan leaching,” jelas Prof Chalid.

Ia pun mengingatkan bahwa galon guna ulang memiliki batas maksimal penggunaan demi alasan keamanan. 

“Galon guna ulang sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali atau setara 1 tahun dengan asumsi 1 minggu sekali diisi ulang. Lebih dari itu, risiko migrasi BPA akan semakin tinggi,” tegasnya.

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Investigasi Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) terhadap 60 kios di wilayah Jabodetabek menemukan bahwa 57 persen galon yang dijual telah berusia lebih dari dua tahun. Bahkan, ada galon yang diproduksi pada tahun 2012 dan masih beredar. Tak hanya itu, sebanyak 80 persen galon tampak buram dan kusam, mengindikasikan penurunan kualitas material .

Temuan KKI tersebut diperkuat hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada periode 2021–2022 di enam kota besar. Hasilnya, paparan BPA dari galon guna ulang dinyatakan melebihi ambang batas aman. Sayangnya, meskipun BPOM telah mengeluarkan aturan tentang pelabelan bahaya BPA sejak 2024, regulasi itu baru akan berlaku efektif pada 2028.

Ketua KKI, David Tobing, menyayangkan lambannya langkah regulator. 

“Ketika BPOM menjalankan fungsi pengawasannya, ada temuan (paparan BPA melebihi ambang batas), masa penyelesaiannya 4 tahun? Harusnya penyelesaiannya segera supaya ini jangan melebar,” ujarnya dengan tegas .

BPA dikenal sebagai endocrine disruptor yang bisa meniru hormon estrogen dan mengganggu sistem endokrin manusia. Paparan dalam jangka panjang dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan serius, mulai dari gangguan kesuburan dan reproduksi, diabetes tipe 2, obesitas, hingga peningkatan risiko kanker seperti kanker payudara, prostat, dan usus besar. Selain itu, BPA juga berpotensi menyebabkan gangguan perkembangan janin.

Dengan semakin kuatnya temuan ilmiah dan investigasi lapangan, seruan agar galon tua segera ditarik dari peredaran dan pelabelan BPA dipercepat terus mengemuka demi melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan yang tak terlihat namun nyata.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6