Liputan6.com, Jakarta - Di saat banyak orang terlelap tidur, Zulhari menantang gelap. Di bawah lantunan suara azan subuh, dia mengayuh sepedanya. Mengais rezeki dari penghasilan yang tak pasti. Zulhari menyusuri sepanjang jalan ibu kota, membawa serenceng minuman, setermos air panas, dan sekotak harapan.
Minimal, lima kilo ditempuh setiap hari untuk mencari pelanggan. Zulhari memulai langkahnya dari pintu gerbang Kawasan Pedagang Kopi Keliling hingga ke kawasan RSUD Tarakan Jakarta. Bermodal semangat, perantau asal Madura mengayuh sepeda sambil membayangkan membahagiakan kehidupan anak dan istri di kampung.
Setiap hari, dia harus bersaing dengan kopi keliling modern dengan gaya kekinian. Kopi yang belakangan ini jadi idola baru anak muda dan pekerja kantoran. Di jalan yang sama, penjual kopi keliling modern dengan sepeda listriknya itu melintas, jauh mendahului Zulhari.
Advertisement
Masalahnya bukan siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang bisa diterima dalam tatanan sosial masyarakat. Bagi sejumlah pihak, wajah kota dijaga secantik rupa agar tak terkesan kumuh dan mengotori jalanan. Terlalu banyak pedagang akan menjadi masalah untuk mereka. Hal inilah yang menyebabkan Zulhari harus bersaing ketat dengan kopi keliling modern untuk berebut lapak.
“Di situ kadang-kadang yang tetap itu ada yang biasanya lima gerobak, enggak boleh nambah lagi. Jadi kalau ada pedagang kopi keliling modern nongkrong di situ kadang (kita) enggak boleh lagi,” ujar Zulhari.
Ruang hidup Zulhari kian sempit. Kalau Zulhari tak cepat-cepat memarkirkan sepedanya di depan gedung tempatnya mangkal, dalam kedipan mata lapaknya akan segera diambil alih penjual kopi keliling modern.
“Ya kayak pedagang ketoprak, terus ada tukang kopi, terus ada tukang soto, kan tetap 4 gerobak. Kadang kalau ada gerobak lagi atau kopi keliling modern nggak boleh itu,” tutur Zulhari.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471187/original/093487200_1768280037-pedagang_kopi_keliling.jpg)
Tak Ada Kebencian, Sama-Sama Cari Makan
Mentalnya sudah tebal. Banting tulang melawan ganasnya debu jalanan, Zulhari juga rela dan lapang dada menerima keluhan para pemilik toko yang tak suka halamannya dipakai berdagang. Biasanya, pemilik ruko atau penjaga gedung akan membatasi jumlah PKL di depan halamannya. Untuk itu, Zulhari harus ngebut sampai lokasi supaya tak keduluan pedagang kopi keliling modern.
Ada kalanya usaha Zulhari berbuah sia-sia. Pedagang kopi keliling modern yang bersikukuh untuk tetap mangkal meski sudah banyak PKL di sana membuat Zulhari dan kawannya juga harus ikut angkat kaki.
Zulhari jelas tak punya kuasa untuk melawan. Kalau ia keras kepala untuk tetap berdagang di sana, bukan pundi-pundi uang yang didapat hari itu, melainkan hanya kata-kata kasar yang keluar dari si pemilik toko.
“Kalau bandel ya pasti dimarahin,” jelas Zulhari.
Meski begitu, Zulhari tak pernah benci dengan para pedagang kopi keliling modern. Kalau ada pedagang kopi keliling modern yang datang dalam keadaan lapak sudah penuh, Zulhari akan menasehati mereka dengan bahasa yang sopan.
Sebagai sesama penjual kopi, Zulhari paham mereka sama-sama mencari nafkah di kota megapolitan ini. Menurutnya, kalau sekadar datang untuk mengantar pesanan saja tak apa, asal tidak ikut mangkal di tempat yang sudah dipenuhi PKL.
“Ya tinggal dibilang baik-baik lah. Biasanya keliling nongkrong, ada orang beli di lokasi itu, orang yang mangkal itu kadang dilayani harus pergi, kalau nggak pergi ya dimarahin,” ceritanya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471188/original/088805000_1768280038-WhatsApp_Image_2026-01-13_at_11.50.00.jpeg)
Advertisement
Hidup dari Saset Kopi di Bantaran Kali Ciliwung
Zulhari menjadi perantau sejak tahun 2018. Sudah tujuh tahun dia mencoba peruntungan sebagai penjual kopi. Bersama dengan para penjual kopi starling lainnya, dia tinggal di bantaran Sungai Ciliwung di Kwitang. Daerah ini biasa dikenal dengan Kawasan Pedagang Kopi Keliling.
Dia masih ingat betul kisah awal menginjakkan kaki di Jakarta. Zulhari ditawari oleh kawan sekampungnya dari Madura yang sudah lebih dulu merantau dan berjualan kopi di sini. Dengan hanya bermodalkan sepeda, Zulhari berangkat ke Jakarta dan memulai langkah kecilnya sebagai penjual kopi starling.
Kegigihan Zulhari dalam mencari sesuap nasi tak perlu dipertanyakan lagi. Jauh sebelum matahari terbit, suara adukan kopi Zulhari sudah lebih dulu menemani pagi. Sepeda kecil Zulhari jadi saksi kerasnya perjuangannya membawa satu kwintal kopi dan peralatan lain setiap hari.
“Ya beratnya itu ya kalau sekwintal ada itu semua,” sebut Zulhari.
Dengan beban seberat itu, Zulhari hanya meraup hasil penjualan sebesar Rp 100.000 per hari. Itu pun Zulhari masih harus menyisihkan uangnya untuk kebutuhan belanja barang agar dia bisa berjualan kembali keesokan harinya.
Zulhari bertarung dengan takdir. Hidup di perantauan tak seindah yang dibayangkan. Hanya tubuhnya yang berpindah ke tanah ini, tapi nasibnya tak berubah. Dari gang sempit di tengah kota itu, Zulhari menggantungkan sisa hidupnya dalam sesaset kopi yang ia jual.
“Ya paling Rp 100.000 atau Rp 50.000 gitu. Kadang bersih, kadang kotor,” ucapnya lirih.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7805374/original/007527000_1780621590-Tugas__25_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568076/original/025738900_1777349129-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-28T110443.057.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308503/original/024029000_1785145244-prasetyo_hadi__pensiunan_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471215/original/045311500_1768280733-WhatsApp_Image_2026-01-13_at_12.04.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306581/original/066326000_1784884535-e0eda8fb-7bf5-4faa-934f-d8b00610f32b__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304708/original/075231500_1784736345-Foto_3_-_Nespresso_x_Blue_Bottle_Coffee.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304351/original/076797400_1784713210-Screenshot_2026-07-22_163843.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303880/original/015679500_1784697407-ChatGPT_Image_Jul_22__2026__12_07_51_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4645120/original/074567700_1699758609-WhatsApp_Image_2023-11-12_at_09.53.52_429fc32f_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296541/original/019763400_1784017022-Ilustrasi_Kopi__Minum_Kopi_oleh_Aditya_Eka_Prawira__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301319/original/067440300_1784450165-HL_es_kopi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300783/original/066740000_1784380953-pandan_latte.jpg)