Gus Salam Soroti Kasus Pandji Pragiwaksono: Materi Mens Rea Mewakili Kritik Banyak Kalangan

Ia menilai, tidak selayaknya komedian Pandji Pragiwaksono dilaporkan.

Diterbitkan 09 Januari 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gus Salam kritik pelaporan Pandji oleh pemuda NU, sebut tindakan emosional.
  • Materi Pandji mengungkap keganjilan politik, bukan fitnah, mewakili pikiran kritis.
  • Isu PBNU terlibat politik praktis dan konsesi tambang sudah jadi perdebatan publik.

Liputan6.com, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang, Jawa Timur, KH Abdussalam Shohib mengkritik langkah pemuda NU yang melaporkan komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya.

"Itu, tindakan emosional yang jauh dari karakter mandiri untuk bisa memahami dan bersikap secara elegan. Sebaliknya, apa yang dilakukan Pandji Pragiwaksono dalam “Mens Rea” Stand Up Comedy yang dilaporkan, tidak lebih dari mengungkap ‘keganjilan’ dari praktek berdemokrasi, berpolitik dan bernegara di Indonesia," katanya, Jumat (9/1/2026).

Gus Salam panggilan akrab KH Abdussalam Shohib menuturkan, Panji mengekspresikan keganjilan secara verbal dan dikemas dalam lawakan tunggal bernuansa kritik. Materi lawakan Pandji, kata Gus Salam, terkait “NU terlibat dalam politik praktis dan mendapat imbalan konsesi tambang” itu, juga telah menjadi materi yang tertanam di pikiran banyak kalangan internal NU.

"Diperbincangkan dan cenderung jadi lelucon Nahdliyyin di banyak tempat," katanya.

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur 2018-2023 itu berkata, PBNU terlibat dalam politik praktis juga sudah menjadi konsumsi publik. Faktanya demikian, telah menjadi bahan kajian dan perdebatan di forum-forum lokal hingga nasional oleh banyak segmentasi masyarakat, baik internal maupun eksternal NU.

"Indikatornya jelas terlihat dan teramati oleh masyarakat sepanjang 2023-2024; baik jelang, saat dan paska hajatan Pilres 2024," ujar Gus Salam.

 

Mewakili Pikiran Kritis

Gus Salam melanjutkan, mengenai PBNU mendapat (imbalan) konsesi tambang atas peran langsung maupun tidak langsung dari praktek politik praktis itu, juga merupakan jalan berpikir yang masuk akal.

Bukan prasangka, tapi cara berpikir yang bisa diterima dalam memahami relasi kuasa terhadap praktek politik penguasa dengan aktor-aktor politik dari berbagai kelompok atau organisasi kemasyarakatan.

"Karenanya bagi saya, materi yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dalam lawakan tunggal “Mens Rea” adalah materi yang mewakili pikiran kritis banyak kalangan; mengungkap fakta ganjil, bukan fitnah dari praktek bernegara," ucapnya.

Ketua Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia (GPSI) menegaskan, faktanya juga, konflik antar pimpinan di PBNU saat ini pun salah satunya dilatari oleh isu konsesi tambang yang diterima dan dikelola melalui korporasi yang dipimpin oleh para pimpinan PBNU.

"Maka, tidak selayaknya komedian Pandji Pragiwaksono dilaporkan pidana atas ungkapan verbal yang berangkat dari pikiran jujur berdasar keyakinan, sejalan dengan pikiran jujur banyak kalangan termasuk Nahdliyyin," tandas Gus Salam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6