Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan peringatan keras kepada seluruh jajarannya agar tidak memainkan atau mengkorupsi bantuan bagi korban banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Ia menegaskan tidak akan memberi ruang toleransi bagi pegawai yang terbukti melakukan pungli atau penyalahgunaan selama proses distribusi bantuan.
"Kalau ada yang korupsi, karena kami langsung cek, begitu muncul beritanya, kami langsung cek di mana salahnya. Kalau ada yang salah, korupsi di pertanian, aku pastikan 1x24 jam saya pecat,” tegas Amran saat pelepasan bantuan di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).
Advertisement
Dalam arahannya, Amran menekankan bahwa di tengah situasi bencana nasional, seluruh aparatur negara seharusnya mengedepankan kepedulian, bukan mengambil keuntungan.
Ia menyoroti masih adanya oknum yang mencoba mencari celah di tengah kondisi darurat. "Disaat kondisi kita susah begini, ada kena bencana, harusnya kita peduli dulu. Kita berpikir positif,” ujar Amran.
Amran memastikan jika ditemukan pelanggaran, pihaknya akan langsung menyerahkan oknum tersebut ke pihak penegak hukum agar diberikan hukuman maksimal.
"Kalau dalam perjalanan (penyaluran bantuan) ada yang main-main, kami yang melapor langsung ke penegak hukum. Agar dihukum seberat-beratnya,” tegasnya.
Pegawai Kementan Sudah Dipecat dalam Dua Pekan Terakhir
Amran mengungkapkan bahwa tindakan tegas bukan sekadar ancaman. Dalam dua pekan terakhir, sudah ada pegawainya yang diberhentikan karena melakukan pungli dan pemerasan. Sebelumnya pada 28 November 2025, seorang staf yang mengaku sebagai direktur jenderal dan memalak petani hingga ratusan juta rupiah.
"Ini baru 2 minggu lalu saya pecat di sini satu orang. Apalagi ini bencana untuk saudara kita yang kesulitan. Jangan coba-coba diganggu,” tegasnya.
“Kalau ada korupsi di kementerian pertanian, kalau terbukti, saya langsung pecat, gak lagi, gak ada waktu saya beri peringatan,” sambungnya.
Di kesempatan yang sama, Amran turut meluruskan pemberitaan yang sempat viral mengenai dugaan korupsi bantuan beras bagi warga terdampak banjir Sumatra. Ia menjelaskan bahwa kesimpangsiuran tersebut terjadi akibat kesalahan penulisan satuan berat.
"Itu keliru dalam penulisan yang dikatakan 21.000 Kg, harusnya 21.000 paket. Satu paket 5 Kg,” ucap Amran.
Ia memastikan total bantuan yang dikirimkan mencapai 105.000 kilogram beras, sesuai perhitungan paket.
Amran menyampaikan terima kasih kepada media yang turut mengungkap informasi dan dugaan penyimpangan. Menurutnya, peran media membantu menjaga integritas penyaluran bantuan.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada media yang menyampaikan, karena itu membantu kami, jujur banyak kami beri sanksi karena teman-teman dari media, kami sangat butuh, kami apresiasi kepada media yang menyampaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya dan para pejabat Kementan turut menyumbangkan gaji pribadi untuk membantu korban bencana, sehingga tidak mungkin ada ruang bagi praktik korupsi.
“Tidak mungkin Kementerian Pertanian melakukan, mereka juga nyumbang, itu uang pribadinya, itu gajinya, dan termasuk Pak Wamentan (Wakil Menteri Pertanian), termasuk saya (Mentan) juga,” jelasnya.
Di akhir keterangannya, Amran menyatakan bahwa kesalahan dapat terjadi, namun komitmen merah putih dan solidaritas harus menjadi yang utama.
"Maafkan aku karena aku manusia biasa, pasti khilaf, tapi yang terpenting niat merah putih, persaudaraan Kementerian Pertanian dibuktikan dengan adanya sumbangan dengan mitra strategis,” pungkas dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4457843/original/099612700_1686197150-230607_JOURNAL__Sejarah_dan_Upaya_Pemberantasan_Korupsi_di_Indonesia_S.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316854/original/006178900_1785992062-Screenshot_2026-08-06_113022.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441210/original/088643900_1765458512-1000108845.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311806/original/086933800_1785463001-20260730_111258.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301459/original/043164600_1784465979-397820.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297245/original/035468400_1784084509-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300337/original/052511100_1784347500-aceh1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294643/original/039739800_1783847998-WhatsApp_Image_2026-07-12_at_4.02.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163202/original/098752200_1779952987-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292334/original/023591800_1783590848-9197c646-ea28-4e68-aa76-d2f5e2983014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5480695/original/063976800_1769064699-pohon_alpukat.jpg)