Liputan6.com, Jakarta - Siapa yang seminggu ini sudah pesan makan lewat GoFood atau GrabFood? Praktis banget, ya. Hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel, makanan favorit langsung diantar ke depan pintu. Namun, pernahkah Anda terpikir, kemasan plastik dan sisa makanannya akhirnya ke mana?
Peningkatan aktivitas belanja online dan pengiriman makanan ini menjadi penyebab utama meningkatnya sampah plastik rumah tangga. Sebagian besar pengiriman barang atau makanan secara online masih menggunakan kemasan plastik, menciptakan potensi sampah layanan food delivery yang signifikan.
Ternyata, kebiasaan kita memesan makanan dari rumah memicu lonjakan gunungan sampah plastik dan kemasan hampir dua kali lipat. Studi LIPI menunjukkan sampah plastik dari pembelian online melonjak 96 persen selama pembatasan sosial, didorong oleh transaksi pasar daring naik 62% dan layanan pesan-antar makanan naik 47%.
Advertisement
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Simak informasi selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (9/12/2025).
Dua Sisi Gelap Kemudahan Layanan Pesan Antar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384541/original/060010000_1760789105-pesan_makanan_3.jpg)
Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh platform pesan-antar makanan daring (OFDP), ada sisi gelap yang tidak banyak orang ketahui. Layanan ini memiliki dampak negatif bagi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Salah satu dampak lingkungan yang signifikan adalah jumlah sampah yang dihasilkan, termasuk peningkatan potensi sampah layanan food delivery.
Setiap kali kita memesan makanan secara online, ada berbagai jenis kemasan yang menyertainya. Mulai dari kemasan primer seperti wadah makanan, botol minuman, hingga sedotan, sampai kemasan sekunder seperti kantong plastik dan paper bag. Semua ini, setelah makanan habis, langsung menjadi sampah dan menambah beban lingkungan.
Pada kondisi pandemi Covid-19, timbunan sampah dari keseluruhan jenis bahan kemasan makanan pesan-antar bertambah. Bahan dari sampah kemasan makanan pesan-antar yang paling banyak dari pengguna aplikasi pesan-antar makanan adalah bahan styrofoam box dan kertas minyak/paper wrap.
Advertisement
Gunungan Kemasan Sekali Pakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384534/original/062733200_1760788560-pesan_makanan_1.jpg)
Bayangkan, dalam sehari, warga Semarang bisa menghasilkan sampah kemasan makanan online hingga 0,16 kg per orang selama pandemi, naik dari 0,046 kg per orang per hari pada kondisi normal. Jika dikalikan dengan jumlah penduduk, ini berarti puluhan ton sampah kemasan setiap hari hanya dari bungkus makanan, menunjukkan betapa besar potensi sampah layanan food delivery.
Total perubahan timbulan sampah kemasan primer dan sekunder pada masa pandemi Covid-19 sebesar 0,11445 kg/orang/hari atau 1,2353 liter/orang/hari. Peningkatan ini didominasi oleh styrofoam box dan kertas minyak/paper wrap untuk kemasan primer, serta kantong plastik untuk kemasan sekunder.
Peningkatan volume sampah ini menjadi tantangan serius bagi pengelolaan sampah perkotaan. Kemasan sekali pakai yang mendominasi pesanan makanan online seringkali sulit didaur ulang atau membutuhkan proses yang kompleks, memperburuk masalah penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Makanan yang Berakhir di Tong Sampah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5394616/original/033809800_1761636627-Depositphotos_675812236_XL.jpg)
Selain kemasan, masalah lain yang tak kalah serius adalah food waste atau sampah makanan. Kemudahan memesan makanan online ternyata bisa membuat kita lapar mata dan memesan berlebihan. Studi di Universitas Brawijaya menemukan rata-rata 137,5 gram makanan per piring terbuang dari pesanan online food delivery.
Di Wuhan, China, total limbah makanan dan kemasan dari OFDP mencapai 177,6 ribu ton pada tahun 2019, dengan lebih dari dua pertiganya adalah sampah makanan. Angka ini menunjukkan bahwa potensi sampah layanan food delivery tidak hanya dari kemasan, tetapi juga dari sisa makanan yang tidak termakan.
Mengapa kita sering memesan berlebihan? Godaan diskon atau gratis ongkir seringkali memicu kita untuk memesan lebih banyak dari yang dibutuhkan agar mencapai nilai minimum pembelian. Banyaknya variasi kuliner dan kemudahan akses sepanjang hari juga membuat kita cenderung memesan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya. Beberapa konsumen bahkan memesan lebih banyak dengan pemikiran bahwa sisa makanan bisa disimpan dan dikonsumsi lagi nanti, namun seringkali berakhir terbuang.
Advertisement
Lalu, Kita Bisa Apa? Menjadi Konsumen Cerdas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4274862/original/073458900_1672208845-food_in_refrigerator.jpg)
Melihat dampak yang cukup besar dari kebiasaan pesan makanan online ini, tentu kita tidak bisa tinggal diam. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan tumpukan sampah kemasan makanan maupun sisa makanan. Perubahan kecil dari setiap individu akan membawa dampak besar jika dilakukan bersama-sama dalam mengatasi potensi sampah layanan food delivery.
Sebagai konsumen, kita memiliki kekuatan untuk membuat perubahan. Berikut adalah beberapa tips sederhana yang bisa Anda terapkan:
- Cek Kulkas Dulu: Sebelum menekan tombol "pesan", luangkan waktu sejenak untuk memeriksa isi kulkas atau dapur Anda. Memasak sendiri seringkali lebih hemat dan minim sampah.
- Lawan Godaan Diskon: Diskon memang menggiurkan, tapi jangan sampai membuat Anda memesan makanan yang tidak dibutuhkan. Pesanlah sesuai porsi dan kebutuhan Anda, bukan demi mencapai nominal diskon atau gratis ongkir.
- Minta "Tolong...": Manfaatkan fitur catatan atau request di aplikasi. Mintalah restoran untuk mengurangi kemasan plastik, atau tidak menyertakan sendok-garpu plastik dan sedotan plastik jika Anda sudah memilikinya di rumah.
- Pilih Restoran yang Peduli: Dukunglah restoran atau penyedia makanan yang sudah mulai menggunakan kemasan ramah lingkungan, seperti kemasan dari kertas, daun, atau bahan daur ulang.
Setelah Makanan Sampai: Pengelolaan Sampah yang Bertanggung Jawab
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4817613/original/025992500_1714471777-leftover-wasted-food-person-wearing-gloves_23-2148764790.jpg)
Setelah makanan sampai dan Anda selesai menyantapnya, peran Anda belum berakhir. Pengelolaan sampah yang benar adalah kunci untuk mengurangi dampak lingkungan dari potensi sampah layanan food delivery. Data di Kota Semarang menunjukkan bahwa lebih dari 50% masyarakat belum melakukan pemilahan sampah dengan benar, padahal pemilahan adalah langkah awal yang krusial agar sampah bisa didaur ulang atau diolah lebih lanjut.
Pilah sampah berdasarkan jenisnya: kemasan kertas/kardus, plastik, dan sisa makanan organik. Untuk kemasan plastik atau botol yang masih bersih dan layak, cuci bersih dan gunakan kembali untuk keperluan lain di rumah. Misalnya, sebagai pot tanaman mini, wadah penyimpanan barang kecil, atau tempat pensil.
Kumpulkan kemasan plastik atau kertas yang sudah bersih dan kering, lalu setorkan ke bank sampah terdekat atau berikan kepada pemulung. Ini akan membantu mereka mendapatkan nilai ekonomi dari sampah tersebut dan mencegahnya berakhir di TPA. Setiap langkah kecil ini berkontribusi besar dalam mengurangi dampak lingkungan.
Masalah sampah dari online food delivery ini adalah isu nyata yang terus bertumbuh, didukung oleh data peningkatan timbulan sampah dan food waste yang signifikan. Namun, solusinya ada di tangan kita semua, baik sebagai konsumen maupun produsen.
Kita tidak perlu langsung menjadi aktivis lingkungan yang sempurna. Mulailah dari hal kecil saja, dari sekali pesan tanpa sedotan plastik, dari sekali pilah sampah kemasan. Jika dilakukan bersama, dampak positifnya akan sangat besar bagi lingkungan kita. Mari bersama-sama menciptakan kebiasaan pesan makanan online yang lebih bertanggung jawab.
Advertisement
FAQ
Q: Mengapa sampah plastik dari online food delivery menjadi masalah besar?
A: Sampah plastik dari online food delivery menjadi masalah besar karena volumenya yang melonjak drastis, terutama selama pandemi COVID-19, dan sebagian besar kemasan yang digunakan adalah plastik sekali pakai yang sulit terurai di alam.
Q: Berapa banyak peningkatan sampah plastik dari belanja online dan food delivery?
A: Menurut studi LIPI, sampah plastik dari pembelian online melonjak 96% selama pembatasan sosial, dengan transaksi layanan pesan-antar makanan naik 47%.
Q: Apa itu food waste dan bagaimana kaitannya dengan online food delivery?
A: Food waste adalah makanan yang terbuang. Layanan online food delivery dapat meningkatkan food waste karena kemudahan pemesanan, godaan diskon, dan banyaknya pilihan yang mendorong konsumen untuk memesan berlebihan, sehingga banyak makanan yang tidak habis dan berakhir di tempat sampah.
Q: Apakah ada perbedaan timbulan sampah kemasan makanan online antara kondisi normal dan pandemi?
A: Ya, ada perbedaan signifikan. Di Kota Semarang, timbulan sampah kemasan makanan pesan-antar meningkat dari rata-rata 0,046 kg/orang/hari pada kondisi normal menjadi 0,162 kg/orang/hari selama pandemi COVID-19.
Q: Apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi sampah dari online food delivery?
A: Anda bisa menjadi konsumen yang lebih pintar dengan mengecek kebutuhan sebelum memesan, menghindari over-ordering karena diskon, meminta restoran untuk tidak menyertakan alat makan atau sedotan plastik, serta memilih restoran yang menggunakan kemasan ramah lingkungan. Setelah makanan sampai, pilah sampah Anda, cuci dan gunakan kembali kemasan yang layak, serta daur ulang sampah plastik dan kertas yang bersih.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384542/original/099397300_1760789208-pesan_makanan_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262484/original/068324800_1781816932-AP26169744189345-Swiss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8706226/original/084990600_1782782102-mahrez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9108027/original/057222500_1783044209-063_2284404573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342603/original/068582000_1757396190-AP25248015186096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107326/original/029939500_1783043802-063_2284407272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102315/original/016806000_1783041300-063_2284404120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102311/original/030973200_1783041297-063_2284405483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)