Paviliun Indonesia di COP30 Brasil Tegaskan Diri sebagai Pusat Kolaborasi Nyata Aksi Iklim Global

Paviliun Indonesia di COP30 Brasil sukses galang kolaborasi global dan potensi perdagangan karbon, tegaskan langkah konkret RI atasi krisis iklim lewat diplomasi budaya dan sinergi multipihak.

Diterbitkan 25 November 2025, 15:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah negosiasi multilateral yang sering kali berjalan alot dan penuh dinamika politik di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30), Paviliun Indonesia di Balem, Brasil berhasil mencuri perhatian dunia.

Bukan sekedar menjadi etalase diplomatik, paviliun ini bertransformasi menjadi simpul strategis yang mempertemukan ide, pendanaan dan aksi konkret.

Pemerintah Indonesia secara tegas memproklamirkan bahwa paviliun ini adalah manifestasi dari semangat 'Gotong Royong' global yang dibutuhkan untuk menyematkan bumi dari iklim yang semakin tak terelakkan.

"Paviliun Indonesia adalah ruang harapan. Tahun ini kita membuktikan bahwa Indonesia membawa gagasan, solusi, dan aksi. Kita hadir bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk memimpin," kata Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup Ary Sudijanto di Balem, dikutip dari Antara, Selasa (25/11/2025)

Pernyataan Ary ini merangkum semangat yang dibangun selama dua pekan oenuh di Hangar Convention Center, Balem.

Paviliun Indonesia tidak dirancang sebagai ruang eksklusif pemerintah, melainkan sebagai panggung terbuka bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga generasi muda untuk menunjukka kontribusi nyata mereka.

Di sinilah narasi besar tentang transisi energi, perlindungan hutan tropis, dan ekonomi biru diterjemahkan ke dalam implementasi yang dapat diukur dan direplikasi.

Data statistik menunjukkan keberhasilan strategi ini. Paviliun Indonesia mencatat kunjungan lebih dari 5.000 delegasi internasional, sebuah angka yang fantastis mengingat ketatnya jadwak konfrensi. Lebih dari 50 sesi diskusi interaktif digelar, menghadirkan 60 pembaca ahli dari berbagai latar belakang.

 

Hasil Konkret 

Namun, yang paling krusial bukanlah jumlah pengunjung, melainkan kualitas interaksi yang terjadi.

Di dalam ruang-ruang diskusi paviliun, terjadi pertukaran pengetahuan yang intensif mengenai bagaimana Indonesia mengelola lahan gambut secara berkelanjutan, bagaimana transisi energi dilakukan di negara kepulauan, dan bagaimana masyarakat adat diberdayakan dalam skema perhutanan sosial.

Salah satu sorotan utama adalah forum Carbon Connection for Climate Action, yang menjadi bukti bahwa Indonesia serius menggarap potensi ekonomi karbonnya.

Forum ini bukan sekedar diskusi teoritis, melainkan marketplace canggih yang menghubungkan pemilik proyek karbon berkualitas tinggi di Indonesia dengan pembeli potensial dari pasar global.

Hasil konkret tercatat ekspresi minat pembelian kredit karbon sebesar 2.754.680 ton COâ‚‚ ekuivalen yang berasal dari 44 proyek di sektor energi, kehutanan, dan pengelolaan sampah.

Angka ini mengirimkan sinyal kuat ke pasar internasional bahwa Indonesia adalah pemain kunci dalam perdagangan karbon global yang berintegrasi.

"Menurut dia, capaian ini mencerminkan kepercayaan dunia terhadap integritas pasar karbon Indonesia dan mempertegas kesiapan Indonesia bergerak dari negosiasi menuju implementasi nyata aksi iklim," tambah Ary.

Dia menekankan bahwa Indonesia telah melampaui fase janji manis. Paviliun ini menjadi saksi bisu bagaimana diplomasi iklim modern bekerja, tidak lagi hanya bergantung pada teks perjanjian yang ditandatangani menteri, tetapi pada kesepakatan bisnis hijau yang digerakkan oleh sektor rill.

Selain aspek teknis ekonomi, Paviliun Indonesia juga berfungsi sebagai alat diplomasi lunak yang efektif. Ditengah ketegangan geopolitik global, Indonesia menggunakan kekayaan budayanya untuk mencairkan suasana dan membangun jembatan persahabatan.

Tarian dan musik tradisional yang ditampilkan bukan sekedar hiburan, melainkan pesan simbolis bahwa perjuangan iklim adalah perjuangan untuk mempertahankan warisan budaya dan cara hidup manusia yang harmonis dengan alam.

Keberhasilan Paviliun Indonesia di COP30 Belem juga ditandai dengan lebih dari 20 pertemuan bilateral tingkat tinggi yang difasilitasi di dalamnya.

Ruang-ruang pertemuan di belakang panggung utama menjadi saksi negosiasi kerja sama pendanaan hijau dengan mitra pembangunan seperti Norwegia, Jerman, dan Amerika Serikat.

 

Sinergi Multipihak sebagai Kunci Keberhasilan Aksi Iklim

Ary Sudijanto dan seluruh tim delegasi pulang dengan kepala tegak, membawa bukti bahwa Indonesia bukan lagi sekadar objek dalam pembicaraan iklim global, melainkan subjek aktif yang menawarkan solusi, memfasilitasi dialog, dan memimpin dengan contoh nyata.

Paviliun di Belem mungkin akan segera dibongkar, namun jejaring kolaborasi yang terbentuk di dalamnya diharapkan akan terus tumbuh dan berbuah manis hingga COP31 mendatang.

"Paviliun Indonesia menjadi pusat perhatian berkat forum Carbon Connection for Climate Action, yang menghubungkan pemilik proyek karbon dalam negeri dengan calon pembeli dan investor internasional," tulis laporan tersebut, menyoroti salah satu pilar keberhasilan pavilion yaitu pelibatan sektor non-negara. Dikutip dari Antara.

Keberhasilan Paviliun Indonesia di COP30 tidak lepas dari strategi inklusif yang diadopsi pemerintah. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang sangat state-centric, kali ini Indonesia secara sadar membuka pintu selebar-lebarnya bagi keterlibatan multipihak (multistakeholder).

Kesadaran ini muncul dari pemahaman bahwa target ambisius Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) Indonesia tidak mungkin dicapai hanya dengan APBN. Dibutuhkan triliunan rupiah investasi dan inovasi teknologi yang sebagian besar berada di tangan sektor swasta dan komunitas global.

Di dalam paviliun, sinergi ini terlihat sangat kental. Perusahaan-perusahaan besar milik negara (BUMN) seperti PLN dan Pertamina berdampingan dengan start-up teknologi iklim dan perusahaan swasta nasional, memaparkan peta jalan dekarbonisasi mereka.

Mereka tidak hanya berbicara tentang target Net Zero Emission 2060, tetapi membedah tantangan teknis di lapangan, seperti pemensiunan dini PLTU batubara atau pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel).

Kehadiran sektor swasta ini memberikan bobot kredibilitas pada komitmen nasional Indonesia, menunjukkan kepada investor asing bahwa transisi energi di Indonesia adalah peluang bisnis yang nyata dan menguntungkan.

Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi masyarakat sipil juga sangat menonjol. Di panggung Paviliun Indonesia, mereka tidak diposisikan sebagai oposisi, melainkan sebagai mitra kritis yang konstruktif.

Diskusi-diskusi mengenai perhutanan sosial, perlindungan gambut, dan hak masyarakat adat difasilitasi bersama antara Kementerian Kehutanan dan koalisi CSO.

Model dialog terbuka ini mendapatkan apresiasi dari delegasi internasional sebagai bentuk kedewasaan demokrasi iklim di Indonesia. Hal ini menepis anggapan bahwa pemerintah Indonesia menutup diri dari kritik. Sebaliknya, kritik dikelola menjadi masukan kebijakan yang memperkuat posisi tawar Indonesia di mata donor internasional.

 

Pelibatan Generasi Muda

Salah satu aspek paling menarik dari sinergi multipihak ini adalah pelibatan Generasi Muda.

Isu keadilan antargenerasi menjadi tema sentral di COP30, dan Paviliun Indonesia memberikan panggung khusus bagi delegasi muda untuk bersuara.

Mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi panelis dan moderator yang menantang para pembuat kebijakan dengan pertanyaan-pertanyaan tajam mengenai masa depan mereka. Kolaborasi antargenerasi ini menciptakan dinamika diskusi yang segar, memadukan kebijaksanaan pengalaman para birokrat senior dengan inovasi dan idealisme anak muda yang melek teknologi digital.

Forum Carbon Connection yang disebutkan sebelumnya adalah contoh sempurna dari ekosistem kolaborasi ini. Di forum tersebut, terjadi pertemuan business-to-business (B2B) yang difasilitasi pemerintah (G2G). Pemerintah menyiapkan regulasi dan infrastruktur Bursa Karbon (IDXCarbon), sementara sektor swasta menyediakan suplai kredit karbon berkualitas.

Lembaga verifikasi independen dan NGO hadir untuk memastikan integritas lingkungan dari proyek-proyek tersebut. Ekosistem gotong royong inilah yang membuat pasar karbon Indonesia dinilai lebih siap dan terpercaya dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Lebih jauh lagi, kolaborasi di paviliun ini juga menyentuh aspek pendanaan filantropi. Banyak yayasan internasional yang hadir di Belem mencari mitra lokal yang kredibel untuk menyalurkan dana hibah iklim mereka.

Paviliun Indonesia berfungsi sebagai matchmaker, mempertemukan donor-donor ini dengan inisiatif lokal yang inovatif, mulai dari proyek konservasi mangrove berbasis komunitas hingga pengembangan energi surya di daerah terpencil.

Dengan demikian, paviliun ini secara efektif memotong birokrasi dan mempercepat aliran dana iklim ke tingkat tapak yang paling membutuhkan.

Sinergi multipihak ini mengirimkan pesan kuat ke dunia internasional, Indonesia bergerak sebagai satu kesatuan tim (Indonesia Incorporated). Perbedaan pendapat di dalam negeri dikelola melalui dialog, dan ketika tampil di panggung global seperti COP30, semua pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memastikan kepentingan nasional terlindungi dan kontribusi terhadap bumi dimaksimalkan. Model kemitraan ini diharapkan dapat direplikasi di sektor-sektor pembangunan lainnya pasca-COP30.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6