Indonesia Perkuat Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologi

Indonesia memperkuat rehabilitasi mangrove berbasis ekologi untuk memulihkan kawasan pesisir serta menjaga lingkungan dan mendukung kesejahteraan masyarakat.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki hampir 20 persen ekosistem mangrove dunia atau sekitar 54 persen dari total mangrove di Asia. Berdasarkan data Global Mangrove Alliance tahun 2021, luas mangrove dunia diperkirakan telah menurun sebesar 4,3 persen.

Sementara itu, Indonesia juga kehilangan mangrove sekitar 1,3 juta hektare (setara 31 persen dari total luas mangrove Indonesia) dalam periode 1980 hingga 2025 (Global Mangrove Alliance 2021).

Peta Mangrove Nasional (PMN) Tahun 2025 menunjukkan, luas mangrove di Indonesia saat ini adalah 3,45 juta hektare (SK Nomor 3438 tahun 2025).

Menurut Direktur Rehabilitasi Mangrove Kementerian Kehutanan Republik Indonesia Nikolas Nugroho Surjobasuindro, Pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah strategis dan berkomitmen untuk memulihkan hutan mangrove yang telah terkonversi maupun terdegradasi.

"Upaya rehabilitasi mangrove dalam rangka perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove menjadi salah satu bagian dari upaya memulihkan, meningkatkan dan mempertahankan mangrove dengan berbagai pola, skema dan sumber pendanaan guna mengembalikan fungsi ekosistem serta yang tak kalah pentingnya adalah peluang bisnis guna menjamin kesejahteraan masyarakat pesisir," ujar Nikolas.

"Ketika kualitas ekosistem mangrove meningkat, masyarakat pesisir menjadi pihak pertama yang merasakan manfaatnya. Seperti meningkatnya produktivitas perikanan tangkap untuk peningkatan pendapatan nelayan, penguatan ketahanan pangan, dan pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat," sambung dia.

 

Penanaman Konvensional Masih Menjadi Metode Umum

Sementara itu, Koordinator Program Pesisir dan Delta Wetlands International Indonesia Aji Nuralam Dwisutono mengungkapkan, penanaman secara konvensional masih menjadi metode yang paling umum diterapkan dalam upaya pemulihan mangrove di Indonesia.

Menurut Aji, pendekatan tersebut perlu dipadukan dengan metode lain yang berfokus pada pemulihan kondisi ekosistem, seperti perbaikan hidrologi, agar proses rehabilitasi mangrove dapat berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.

"Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penanaman mangrove hanya berkisar 10–20 persen. Oleh karena itu, kami memperkenalkan metode Rehabilitasi Mangrove Berbasis Ekologis atau Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR)," kata dia.

"Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) merupakan pendekatan pemulihan ekosistem mangrove yang mengutamakan proses regenerasi alami," sambung Aji.

 

Metode Ciptakan Habitat yang Sesuai

Menurut Aji, melalui perbaikan kondisi lingkungan, terutama hidrologi, metode ini menciptakan habitat yang sesuai sehingga buah atau propagul mangrove dapat tumbuh dan berkembang secara alami tanpa memerlukan penanaman langsung.

"Intervensi utama dalam pendekatan ini adalah memulihkan kondisi habitat seperti topografi dan hidrologi agar sesuai dengan kebutuhan alami mangrove untuk tumbuh dan berkembang," terang Aji.

Pendekatan EMR telah diterapkan oleh berbagai kelompok masyarakat yang didampingi organisasi masyarakat sipil, seperti Yayasan Lahan Basah (YLBA), Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), di sejumlah wilayah di Indonesia, antara lain Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat.

Berbagai pengalaman dan pembelajaran dari penerapan metode EMR, termasuk manfaat yang dirasakan masyarakat, dibahas dalam Workshop "Pemulihan dan Perlindungan Ekosistem Pesisir melalui Pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR)" yang diselenggarakan di Kota Bogor pada Selasa, 30 Juni 2026.

Sebagai bagian dalam mendukung upaya pemerintah dalam hal rehabilitasi mangrove, Wetlands International Indonesia bersama Global Green Growth Institute (GGGI) memperkuat sinergi melalui program NASCLIM (Nature-based Solutions for Climate-smart Livelihoods in Mangrove Landscapes) dan inisiatif Return of the Mangroves (RTM).

Program ini berfokus pada upaya perlindungan hutan mangrove yang masih sehat sekaligus pemulihan ekosistem mangrove yang terdegradasi di wilayah Delta Kayan–Sembakung (Kalimantan Utara) dan Delta Mahakam (Kalimantan Timur).

Program perlindungan dan pemulihan dilakukan melalui penerapan solusi berbasis alam dan pendekatan berbasis ekosistem. Kolaborasi ini menggabungkan implementasi lapangan dengan pembelajaran strategis serta penguatan kapasitas untuk mendorong rehabilitasi mangrove yang lebih efektif, berbasis ekologi, dan dapat direplikasi secara luas.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6