Susu Tertinggal dan Celana Basah Bung Hatta di Rengasdengklok

Iding hanya diperintah menyiapkan truk menuju Jatinegara. Ia baru tahu siapa penumpangnya ketika Sukarno dan Hatta masuk ke kendaraannya.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta -

Pemuda Ingin Kemerdekaan Segera

Beberapa jam sebelumnya, ketegangan terjadi di rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Para pemuda mendesak Sukarno dan Hatta segera menyatakan kemerdekaan. Saat itu, kabar kekalahan Jepang dari Sekutu dalam Perang Dunia II telah beredar luas, meski belum ada pengumuman resmi.

Sukarno dan Hatta memiliki pandangan berbeda. Bagi keduanya, kemerdekaan tidak bisa diumumkan secara sepihak. Proklamasi harus melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang telah dibentuk sejak 7 Agustus 1945.

Sukarno merupakan Ketua PPKI, sementara Hatta menjadi wakilnya.

Dalam Sekitar Proklamasi, Hatta mengenang:

"...Proklamasi Indonesia Merdeka harus ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena badan itu anggotanya datang dari berbagai penjuru Indonesia dan dianggap mewakili seluruh Indonesia. Esok hari, PPKI menjadwalkan rapat pada pukul 10.00."

Perdebatan semakin panas. Wikana, salah seorang tokoh pemuda, bahkan memperingatkan Sukarno agar segera menyatakan kemerdekaan.

"Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman Kemerdekaan itu malam ini juga, besok akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah."

Sukarno tersulut.

"Ini leher saya, seretlah saya ke pojok itu, sudahi nyawa saya malam ini, jangan menunggu sampai besok."

Wikana kemudian menjelaskan bahwa ancaman tersebut bukan ditujukan untuk membunuh Sukarno. Para pemuda khawatir jika kemerdekaan tidak segera diumumkan, akan terjadi kekacauan dan kekerasan terhadap kelompok yang dianggap pro-Belanda.

"Maksud kami bukan membunuh Bung, melainkan kami mau memperingatkan, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat kita akan bertindak dan membunuhi orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro Belanda, seperti orang-orang Ambon dan lain-lain."

Perdebatan berakhir tanpa kesepakatan.

Keputusan Membawa Sukarno-Hatta

Setelah meninggalkan rumah Sukarno, para pemuda berkumpul di Jalan Cikini 71. Mereka membahas penolakan Sukarno-Hatta.

Kesimpulannya, kedua tokoh tersebut harus dibawa keluar Jakarta. Para pemuda berharap Sukarno dan Hatta dapat memimpin pergerakan dari daerah yang berada di bawah pengaruh pemuda dan tentara PETA.

Adam Malik mencatat keputusan tersebut dalam Riwayat Proklamasi Agustus 1945:

“Putusan terhadap Bung Karno-Hatta, mereka harus dibawa menyingkir keluar kota, di daerah di mana rakyat dan tentara (PETA) siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang timbul jika proklamasi sudah dinyatakan."

Menjelang sahur, beberapa pemuda kemudian mendatangi rumah Hatta.

Sukarni menyampaikan rencana membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Ia juga mengatakan para pemuda akan bergerak sendiri jika kemerdekaan tidak segera diproklamasikan.

Hatta mencoba meyakinkan Sukarni bahwa rencana tersebut sulit dilakukan. Tentara Jepang masih memiliki kekuatan di Jawa.

“Dengan menyerang kekuatan Jepang di Jakarta, saudara-saudara bukan melaksanakan revolusi, tapi melakukan putsch yang akan membunuh revolusi yang akan dimulai,” kata Hatta.

Namun keputusan pemuda sudah bulat.

"Ini sudah menjadi keputusan kami semua dan tidak dapat dipersoalkan lagi. Bung ikut saja bersama Bung Karno, pergi ke Rengasdengklok."

Hatta akhirnya berangkat.

 

 

Guntur Ikut Dibawa

Hatta meninggalkan pesan kepada adik dan dua kemenakannya sebelum menuju rumah Sukarno. Saat tiba, Sukarno sudah siap bersama Fatmawati dan Guntur.

Rombongan sempat menggunakan sedan sebelum berhenti di sebuah persimpangan. Sukarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur kemudian diminta pindah ke truk yang dikemudikan Iding.

Alasan yang disampaikan para pemuda, sedan terlalu besar untuk melewati jalan menuju Rengasdengklok. Hatta kemudian memahami bahwa pergantian kendaraan itu juga merupakan bagian dari siasat agar pengemudi sedan tidak mengetahui tujuan rombongan.

Sesampainya di Rengasdengklok, Sukarno dan Hatta dibawa ke sebuah asrama PETA.

Ruangan yang mereka tempati sederhana. Lantainya terbuat dari papan, tanpa meja dan kursi, hanya terdapat tikar pandan yang biasa digunakan para prajurit untuk tidur.

Sekitar satu jam kemudian, mereka dipindahkan ke rumah milik seorang tuan tanah keturunan Tionghoa, Djiaw Kie Song.

Sukarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur kemudian menempati rumah tersebut.

Di tempat itu, waktu berjalan lambat.

Hatta bahkan mengenang bahwa pekerjaan mereka saat itu salah satunya bergantian mengasuh Guntur. Bayi tersebut sempat ingin minum susu, tetapi kaleng susu tertinggal di sedan yang telah kembali ke Jakarta.

Ketika Hatta memangku Guntur, kejadian kecil terjadi. Guntur buang air kecil hingga celana Hatta ikut basah.

"Maka celana yang basah sebagian itu terpaksa dipakai terus sampai kering dengan sendirinya. Cuma dengan celana itu saya tidak dapat mengerjakan sembahyang," kenang Hatta.

 

 

Menunggu Kabar dari Jakarta

Sekitar pukul 12.30, Hatta meminta Sukarni datang.

Ia ingin mengetahui apakah rencana para pemuda di Jakarta benar-benar berjalan.

"Sukarni, revolusi yang akan mulai pukul 12 siang hari sudah dimulai? Apakah 15 ribu rakyat itu sudah masuk ke kota?"

"Saya belum dapat kabar soal itu, Bung."

Hatta kemudian meminta Sukarni menghubungi teman-temannya di Jakarta.

Sekitar satu jam kemudian, Sukarni kembali dengan jawaban yang sama. Tidak ada kabar dari Jakarta.

Hatta pun mempertanyakan keberadaan mereka di Rengasdengklok.

"Jika begitu, revolusi sudah gagal. Buat apa kami di sini bila di Jakarta tidak terjadi apa-apa?!"

Sukarni tidak banyak menjawab dan meninggalkan ruangan.

Sementara itu, Guntur telah kembali tenang setelah seorang pemuda membawakan susu.

Sukarno, Hatta, dan Fatmawati hanya menunggu sambil berbincang. Di Jakarta, persoalan mereka belum selesai.

Subardjo Datang Menjemput

Pada pagi 16 Agustus 1945 sekitar pukul 08.00, Soediro, staf pribadi Ahmad Subardjo, datang ke rumah atasannya di Jalan Cikini Raya 82.

Dengan gugup, ia membawa kabar bahwa Sukarno dan Hatta telah dibawa para pemuda.

"Mereka telah menculik keduanya."

"Keduanya siapa?" tanya Subardjo.

"Sukarno dan Hatta."

Subardjo yang merupakan anggota sekaligus penasihat PPKI segera mencari tahu keberadaan keduanya. Ia juga melaporkan situasi tersebut kepada Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta.

Subardjo kemudian menemui Wikana di kantor Jalan Prapatan 59.

"Apa yang telah kamu perbuat terhadap Sukarno dan Hatta?" tanya Subardjo.

Wikana menjelaskan bahwa tindakan itu merupakan keputusan bersama para pemuda.

"Hal itu merupakan keputusan kami dalam pertemuan semalam. Untuk keselamatan mereka, kami membawa ke sebuah tempat di luar Jakarta," kata Wikana.

Subardjo terus mendesak agar lokasi Sukarno dan Hatta diberitahukan.

Setelah melalui perundingan, akhirnya diketahui bahwa keduanya berada di Rengasdengklok.

Subardjo berangkat menjelang sore untuk menjemput.

Kali ini para pemuda tidak menolak. Terlebih setelah Subardjo membawa kabar bahwa Jepang telah resmi menyerah kepada Sekutu.

Pada Kamis 16 Agustus sekitar pukul 21.00, Sukarno dan Hatta akhirnya kembali ke Jakarta.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6