Bapanas Dorong Kemandirian Pangan Lewat Desa B2SA

Andriko menyebut Rumah Bibit, demplot, serta pertanaman anggota yang dikelola PKK dan KWT sebagai bukti praktik baik pengembangan ekosistem pangan lokal.

Diterbitkan 19 November 2025, 17:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pembangunan pangan nasional fokus pada kemandirian melalui program Desa B2SA Bapanas.
  • Desa B2SA memberdayakan warga, memanfaatkan potensi lokal, dan sejalan kebijakan nasional.
  • Program ini menciptakan peluang ekonomi baru dan memperkuat ekosistem pangan lokal.

Liputan6.com, Jakarta Arah pembangunan pangan nasional kini bergerak menuju kemandirian dan kedaulatan pangan berbasis kekuatan lokal. Transformasi tersebut diwujudkan melalui program Desa Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) yang digagas Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memperkuat akses pangan lokal bagi masyarakat.

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan bahwa swasembada pangan harus dimaknai sebagai gerakan masyarakat.

"Bapanas mengonsolidasikan melalui pengembangan Desa B2SA yang memadukan edukasi, pemberdayaan warga, serta pemanfaatan potensi pangan di wilayah masing-masing,” ujarnya saat berkunjung ke Desa B2SA di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa, 18 November 2025.

Implementasi Desa B2SA memanfaatkan Dana Alokasi Khusus untuk mendukung Kawasan Produksi Pangan Nasional (KPPN).

Tahun ini, sebanyak 809 anggota Tim Penggerak PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi penerima manfaat program sebagai upaya penguatan pangan lokal.

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, menegaskan bahwa program tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional.

"Program ini selaras dengan RPJMN 2025–2029 yang menempatkan swasembada dan diversifikasi konsumsi sebagai prioritas nasional. Perpres 81 Tahun 2024 mengarahkan percepatan penganekaragaman berbasis sumber daya lokal sebagai instrumen reformasi pangan,” tuturnya.

Andriko menyebut Rumah Bibit, demplot, serta pertanaman anggota yang dikelola PKK dan KWT sebagai bukti praktik baik pengembangan ekosistem pangan lokal. Ia juga berharap Desa B2SA dapat terintegrasi dengan program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). “Ke depannya hasil Rumah Bibit dan pertanaman anggota diharapkan dapat memasok kebutuhan SPPG untuk pemenuhan menu MBG,” katanya.

KWT Sekartanjung di Desa Tanjungrasa menjadi salah satu contoh keberhasilan, dengan hasil budidaya sayuran seperti cabai rawit, bayam, kangkung, kembang kol, seledri, hingga pare. “Semua dikelola secara komunal dengan memanfaatkan lahan anggota. Hasilnya dimanfaatkan untuk warga sekitar,” ujar Andriko.

 

 KWT Mekar Tani di Desa Rawamekar juga mengembangkan kolam lele dan patin. Ketua KWT, Ade Listyowati, menyebut panen lele mencapai 1 kuintal 3 kilogram. “Sebagian dikonsumsi anggota dan sebagian dijual. Pendapatan dari penjualan kami putar kembali untuk membeli benih patin,” katanya.

Peluang Ekonomi Baru

Selain budidaya, Bapanas menggelar 20 sesi bimbingan teknis dan tiga kali sosialisasi pola konsumsi B2SA untuk memperkuat keterampilan pengolahan pangan. Produk inovatif kini mulai bermunculan, seperti keripik ikan dari Balepot Desa Langensari dan selai terong dari KWT Sedap Malam Desa Ciasem.

Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Kabupaten Subang, Rusdianto, mengatakan produk-produk tersebut akan dipasarkan sebagai komoditas desa. Menurutnya, nilai tambah ini membuka peluang ekonomi baru.

Bapanas juga memberikan fasilitasi peralatan produksi seperti kompor, alat masak, blender, dan mesin penggiling untuk meningkatkan kapasitas pengolahan desa.

Seluruh sinergi ini sejalan dengan kebijakan sektor pertanian yang mendorong pemanfaatan pekarangan. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kemandirian pangan harus dibangun dari semua aspek, termasuk di tingkat rumah tangga.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6