Prakiraan Cuaca Hari Ini Rabu 12 November 2025: Langit Pagi Jabodetabek Diselimuti Awan Tebal

Langit Jakarta dan sekitarnya diprediksi akan tertutup awan tebal pada hari ini, Rabu (12/11/2025). Demikianlah prakiraan cuaca hari ini.

Diterbitkan 12 November 2025, 06:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Langit Jakarta dan sekitarnya diprediksi akan tertutup awan tebal pada hari ini, Rabu (12/11/2025), kecuali di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diprakirakan akan diguyur hujan dengan intensitas ringan. Demikianlah prakiraan cuaca hari ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan seluruh wilayah Jakarta akan berawan tebal pada Rabu pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Kemudian pada siang hingga malam hari wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu diprediksi akan tertutup awan tebal.

Lalu di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diprakirakan akan turun hujan dengan intensitas ringan.

Sementara untuk cuaca di wilayah penyangga Jakarta, yaitu Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Bekasi, Jawa Barat diprediksi akan berawan tebal pada pagi hari dan hujan dengan intensitas ringan pada siang hingga malam hari.

Lalu di wilayah Kota Tangerang, Banten diprediksi langitnya akan tertutup awan tebal sepanjang hari.

Berikut informasi prakiraan cuaca Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) selengkapnya dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.co.id:

 Kota  Pagi  Siang   Malam 
 Jakarta Barat  Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Jakarta Pusat   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Jakarta Selatan  Berawan Tebal  Hujan Ringan   Hujan Ringan
 Jakarta Timur   Berawan Tebal  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Jakarta Utara   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Kepulauan Seribu   Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal
 Bekasi   Berawan Tebal  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Depok   Berawan Tebal  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Kota Bogor   Berawan Tebal  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Tangerang  Berawan Tebal  Berawan Tebal  Berawan Tebal

Jembatan Hasil Swadaya Ambrol Diterjang Banjir, Akses Warga di Semarang Terputus

Banjir yang melanda Kota Semarang, Jawa Tengah, tidak hanya menyisakan genangan air, tapi juga menggoyang kehidupan sehari-hari. Misalnya Jembatan Metro 2 yang menjadi penghubung vital antara Kelurahan Meteseh dan Rowosari di Kecamatan Tembalang.

Jembatan hasil swadaya warga ini putus karena tak kuat menahan derasnya arus sungai Babon. Akibatnya akses yang dulu ramai oleh pekerja dan pedagang itu juga terputus.

 Menurut Sonhaji, salah satu warga, kondisi itu menyebabkan warga harus berjuang untuk melintasi sungai deras dengan resiko tinggi.

"Ini bukan sekadar jembatan, tapi napas kami sehari-hari," kata Son Haji di Semarang, Senin 10 November 2025.

Jembatan tersebut bukan infrastruktur biasa, ia adalah jalur utama ratusan warga untuk berlalu-lalang ke tempat kerja, pasar dan sekolah.

Ambrolnya jembatan swadaya ini ditanggapi serius anggota DPRD Kota Semarang, Dini Inayati. Menurutnya, warga memiliki hak untuk mendapatkan infrastruktur yang aman dan nyaman.

"Jembatan ini lahir dari keringat swadaya masyarakat. Kini, saatnya Pemkot hadir dengan mengambil alih untuk menjadikannya permanen," ujar Dini.

Ditambahkan bahwa jembatan Metro 2 memiliki peran strategis ganda. Ia tak hanya memperlancar arus ekonomi, dari pedagang kecil hingga buruh pabrik, tapi juga jadi penyelamat kemacetan di Jembatan Metro 1.

Saat jam sibuk, kemacetan di jembatan Metro 1 bisa berlipat, sehingga perlu jalur lain.

"Ini krusial untuk mengurai kemacetan kawasan Metro, apalagi di musim hujan seperti sekarang," terangnya.

Dini juga langsung berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang dan camat Tembalang, agar Pemkot memfasilitasi pembangunan ulang.

"Kami dorong agar jembatan ini dibangun kokoh, tahan banjir, dan aman untuk semua. Infrastruktur bukan barang mewah, tapi hak dasar," pungkas Dini.

BMKG Bangun Pusat Kendali Ganda, Jaga Peringatan Dini Tetap Aktif 24 Jam

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengembangkan sistem pusat kendali ganda (dual command center) untuk memperkuat jaringan peringatan dini multi-bencana nasional.

Langkah ini diambil guna memastikan sistem tetap berfungsi selama 24 jam tanpa gangguan, bahkan ketika terjadi bencana di satu wilayah.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pusat kendali utama dibangun di Jakarta dan didukung oleh backup command center di Bali sebagai sistem redundansi nasional.

"Dengan sistem kendali ganda, seluruh jaringan peringatan dini akan tetap aktif meskipun terjadi gangguan di satu wilayah," ujar Faisal dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa 11 November 2025.

Faisal menjelaskan, pusat kendali baru tersebut akan mengintegrasikan pemantauan gempa bumi, tsunami, cuaca ekstrem, dan kualitas udara ke dalam satu sistem nasional. Integrasi ini, kata dia, merupakan bagian dari transformasi digital BMKG menuju sistem real-time disaster monitoring yang lebih tangguh dan efisien.

Sistem ini juga didukung oleh algoritma otomatis hasil proyek Indonesia Disaster Resilience Initiative Project (IDRP), yaitu proyek kolaborasi antara BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan dukungan Bank Dunia.

Program tersebut telah rampung pada 2025 dengan pendanaan hibah internasional senilai 85 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Teuku Faisal, yang baru dilantik sebagai Kepala BMKG sepekan lalu, menilai bahwa penguatan sistem digital dan jaringan pemantauan real-time merupakan langkah penting di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia.

"BMKG berkomitmen membangun infrastruktur yang tidak hanya canggih, tapi juga tangguh dan inklusif," jelas Teuku.

Ia menegaskan bahwa Indonesia kini bergerak menuju sistem peringatan dini terpadu yang setara dengan standar lembaga meteorologi dunia, sehingga mampu memberikan layanan publik yang lebih cepat dan akurat saat menghadapi potensi bencana alam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6