6 Respons Pakar Kesehatan, Gubernur DKI Pramono hingga Menteri LH soal Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik

Penelitian BRIN mengungkap fakta mengejutkan: setiap sampel air hujan di Jakarta mengandung mikroplastik. Temuan ini memunculkan kekhawatiran serius akan dampak kesehatan dan lingkungan.

Diterbitkan 24 Oktober 2025, 14:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap hasil penelitian air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.

Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova menjelaskan, penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di ibu kota, yang terbentuk dari degradasi limbah plastik melayang di udara akibat aktivitas manusia.

"Mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan," ujar Reza, melansir Antara, Jumat 17 Oktober 2025.

Sejumlah pihak pun angkat bicara. Salah satunya Pakar Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama. Dia menegaskan, keberadaan mikroplastik dalam hujan dapat berdampak serius terhadap kesehatan.

Tak hanya efek jangka pendek, paparan mikroplastik juga membawa risiko jangka panjang yang tak bisa diabaikan. Dalam jangka pendek, mikroplastik yang terhirup bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan.

"Gejalanya bisa berupa batuk, sesak napas, hingga peradangan pada paru-paru akibat stres oksidatif," jelas Ngabila kepada Liputan6.com, Rabu 22 Oktober 2025.

Kemudian, Guru Besar IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Prof Etty Riani mengatakan, adanya kandungan mikroplastik dalam air hujan seperti temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memang sangat mungkin terjadi.

"Fenomena ini secara ilmiah memang sangat mungkin terjadi," kata Etty.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta juga turut angkat bicara. Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, temuan tersebut menjadi pengingat penting akan tantangan polusi plastik yang kini telah menjangkau atmosfer dan memerlukan upaya bersama lintas sektor.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menyebut, saat ini pihaknya tengah melakukan pendalaman melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pramono memastikan, hasil tindak lanjut itu juga akan disampaikan kepada publik.

"Kami sudah melakukan pendalaman. Nanti secara khusus Kepala Dinas Lingkungan Hidup, saya akan minta untuk menyampaikan ke publik karena mereka juga melakukan penelitian," kata Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa 21 Oktober 2025.

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq juga angkat bicara soal masalah hujan mengandung mikroplastik di Jakarta. Dia menyebut, selama ini sampah di Jabodetabek hanya dibuang dengan metode dumping yakni sampah hanya ditimbun di tempat pembuangan akhir (TPA), tanpa diberi penutup.

Berikut sederet respons mulai dari Pakar Kesehatan, Gubernur DKI Pramono Anung hingga Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq terkait air hujan Jakarta mengandung mikroplastik dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Pakar Kesehatan Jelaskan Bahaya

Hujan yang mengguyur wilayah Jakarta ternyata mengandung partikel mikroplastik. Temuan ini disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pakar Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama menegaskan, keberadaan mikroplastik dalam hujan dapat berdampak serius terhadap kesehatan. Tak hanya efek jangka pendek, paparan mikroplastik juga membawa risiko jangka panjang yang tak bisa diabaikan.

Dalam jangka pendek, mikroplastik yang terhirup bisa menyebabkan iritasi saluran pernapasan.

"Gejalanya bisa berupa batuk, sesak napas, hingga peradangan pada paru-paru akibat stres oksidatif," jelas Ngabila kepada Liputan6.com, Rabu 22 Oktober 2025.

Tak hanya itu, mikroplastik yang tertelan melalui makanan atau minuman juga bisa mengganggu sistem pencernaan, memicu iritasi pada usus, hingga mengganggu keseimbangan flora usus.

Ancaman lainnya adalah potensi gangguan hormon. Mikroplastik dapat membawa zat kimia tambahan atau polutan lingkungan yang dapat masuk ke dalam tubuh dan memengaruhi sistem hormon, meski secara sementara.

"Bisa menyebabkan gangguan hormon sementara atau penyerapan racun pembawa plastik juga," ucap Ngabila.

Tak hanya berdampak langsung, mikroplastik yang tersebar di lingkungan, termasuk dalam hujan menyimpan bahaya jangka panjang bagi tubuh manusia. Paparan terus-menerus bisa merusak jaringan dan organ vital.

Dalam sejumlah studi, mikroplastik yang ditemukan dalam jaringan manusia memicu inflamasi kronis dan merusak sel-sel sehat.

Ngabila menjelaskan bahwa ancaman ini tidak berhenti di sana. Penelitian terbaru menunjukkan adanya kemungkinan hubungan antara mikroplastik dalam plak arteri dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

"Studi terkini menunjukkan kemungkinan hubungan antara keberadaan mikroplastik dalam plak arteri dan peningkatan risiko serangan jantung atau stroke," jelas Ngabila.

Mikroplastik juga membawa risiko gangguan hormon dan reproduksi. Zat kimia seperti BPA dan ftalat yang menempel pada mikroplastik dapat mengganggu sistem hormonal, menurunkan kesuburan, menghambat perkembangan janin, bahkan menyebabkan berat lahir rendah.

Dampak yang lebih serius juga mencakup potensi genotoksisitas, kerusakan pada DNA dan aktivitas gen yang bisa meningkatkan risiko kanker. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa partikel mikroplastik dapat menimbulkan stres oksidatif dan mutasi genetik.

Ngabila juga menyebut kemungkinan gangguan metabolik dan imunologis, termasuk pada anak dan janin.

"Mikroplastik dapat menembus aliran darah ibu dan ditemukan di plasenta. Ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak," jelas Ngabila.

 

2. Pakar IPB Jelaskan Asal-usul dan Faktor Penyebabnya

Guru Besar IPB University dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof Etty Riani, mengatakan, adanya kandungan mikroplastik dalam air hujan seperti temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memang sangat mungkin terjadi.

"Fenomena ini secara ilmiah memang sangat mungkin terjadi," kata Etty dikutip dari laman ipb.ac.id pada Kamis, 23 Oktober 2025.

Dia menambahkan bahwa mikroplastik, terutama yang berukuran sangat kecil atau nanoplastik, memiliki massa sangat ringan sehingga mudah terangkat ke atmosfer.

"Partikel ini bisa berasal dari berbagai sumber di darat seperti gesekan ban mobil, pelapukan sampah plastik yang kering dan terbawa angin, hingga serat pakaian berbahan sintetis," tambahnya.

Saat berada di udara, partikel mikroplastik dapat terbawa arus angin dan akhirnya turun kembali ke bumi bersama air hujan.

"Hujan berperan seperti pencuci udara. Mikroplastik yang melayang di atmosfer akan menyatu dengan tetesan air hujan. Karena ukurannya sangat kecil, partikel itu tidak terlihat, sehingga seolah-olah air hujan bersih," kata Prof Etty.

Etty, menambahkan, sumber mikroplastik di udara perkotaan seperti Jakarta sangat beragam, mulai dari degradasi berbagai jenis sampah plastik, gesekan ban kendaraan, hingga pakaian sintetis.

Sementara itu, faktor lingkungan seperti suhu tinggi dan kondisi udara kering turut mempercepat proses pelapukan plastik serta memudahkan partikel halus tersebut beterbangan ke atmosfer.

"Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi akar masalah. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, manusia tidak lepas dari plastik. Akhirnya, plastik akan terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik," ujarnya.

Etty menilai perlu ada langkah nyata dari pemerintah dan masyarakat. Dia mendorong upaya perubahan gaya hidup menuju pola yang lebih ramah lingkungan.

"Kita perlu hidup lebih sederhana dan kembali ke alam. Kurangi penggunaan plastik, hindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik, dan biasakan memilah sampah sejak dari rumah," ujarnya.

Selain itu, Etty menekankan pentingnya penerapan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dan pemberian sanksi bagi pihak yang tidak mendukung kebijakan pengurangan plastik.

"Plastik bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga kesehatan. Di dalamnya ada bahan aditif berbahaya yang bisa memicu gangguan hormonal dan meningkatkan risiko kanker," tandas Etty.

 

3. Respons DLH DKI Jakarta

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta angkat bicara terkait hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di wilayah ibu kota.

Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, temuan tersebut menjadi pengingat penting akan tantangan polusi plastik yang kini telah menjangkau atmosfer dan memerlukan upaya bersama lintas sektor.

"Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta," ujar Asep di Jakarta, melansir Antara, Sabtu 18 Oktober 2025.

Dia menuturkan, pihaknya pun tengah memperkuat program pengendalian sampah plastik dari hulu hingga hilir, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan secara terpadu.

Menurut Asep, Pemerintah Provinsi atau Pemprov DKI Jakarta selama ini telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk menekan timbulan sampah plastik sekali pakai.

Di antaranya, kata dia, melalui Peraturan Gubernur Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan, serta perluasan program Jakstrada Persampahan yang menargetkan 30 persen pengurangan sampah dari sumbernya.

"Selain itu, Pemprov DKI juga memperluas bank sampah, TPS 3R, dan inisiatif daur ulang berbasis komunitas sehingga limbah plastik tidak lagi berakhir di lingkungan terbuka," terang Asep.

"Upaya pengurangan plastik harus dilakukan dari sumbernya, mulai dari rumah tangga, industri, hingga sektor jasa. Setiap orang punya peran," sambung dia.

Lebih lanjut, menurut Asep, DLH DKI Jakarta saat ini berkoordinasi dengan BRIN untuk memperluas pemantauan mikroplastik dalam udara dan air hujan sebagai bagian dari sistem Jakarta Environmental Data Integration (JEDI), yakni platform pemantauan kualitas lingkungan berbasis data.

"Hasil pengukuran itu diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan yang lebih kuat dalam pengendalian polusi plastik di udara," ucap dia.

Selain itu, lanjut Asep, Pemprov DKI Jakarta juga memperkuat kampanye publik bertajuk 'Jakarta Tanpa Plastik di Langit dan Bumi' untuk mengajak masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan tidak membakar limbah sembarangan.

"Pemprov DKI pun mengajak dunia usaha, lembaga riset, dan komunitas lingkungan untuk bersama-sama memperkuat aksi nyata pengurangan plastik dan inovasi daur ulang," terang dia.

"Kami terbuka untuk kolaborasi riset, teknologi filtrasi, hingga pengembangan produk ramah lingkungan. Upaya menjaga langit bersih dari mikroplastik adalah tanggung jawab bersama," tutup Asep.

 

4. Stafsus Gubernur DKI Tegaskan Komitmen Pemprov

Koordinator Staf Khusus atau Stafsus Gubernur DKI Jakarta Firdaus Ali menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) dalam merespons berbagai hasil riset yang menyoroti kualitas lingkungan, termasuk air, udara, dan tanah.

Dia mengatakan, respons tersebut termasuk hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di wilayah ibu kota.

Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta aktif mengendalikan penggunaan plastik berkualitas rendah yang umumnya dihasilkan dari proses daur ulang sederhana.

Firdaus mengatakan, jenis plastik itu banyak dipakai masyarakat, mulai dari pasar tradisional, warung, hingga pedagang kaki lima.

"Plastik jenis ini memang mudah terurai, yang sekilas tampak baik bagi lingkungan. Namun, justru berkontribusi besar terhadap peningkatan mikroplastik di alam," ujar Firdaus, melansir Antara, Sabtu (18/10/2025).

Dia menegaskan, Pemprov DKI tidak sedang 'bermusuhan' dengan plastik. Sebab, kata Firdaus, plastik sudah merupakan bagian dari peradaban modern.

"Yang kita tolak adalah plastik yang mencemari lingkungan," pungkas dia.

 

5. Respons Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan kandungan mikroplastik dalam sampel air hujan yang turun di Jakarta.

Terkait temuan ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa pihaknya meminta Dinas Lingkungan Hidup untuk mengkaji dan memperkuat data yang didapat BRIN.

"Mengenai mikroplastik apa yang jadi temuan BRIN saya sudah minta dikaji di Dinas Lingkungan Hidup dan kami sebenarnya akan memperkuat data itu. Nanti setelah kajian selesai saya akan minta mereka sampaikan kepada publik," kata Pramono dalam Peresmian Bunda Clinic MRT Dukuh Atas, Jakarta, Rabu 22 Oktober 2025.

Dia menambahkan, belakangan secara keseluruhan kondisi cuaca dan polusi di Jakarta mengalami perbaikan.

"Tetapi yang jelas, sekarang ini sebenarnya kalau dilihat secara keseluruhan kondisi cuaca dan polusi di Jakarta mengalami penurunan yang signifikan, dan mudah-mudahan ini bisa kita jaga bersama-sama," ucapnya.

Dalam keterangan lain, Ahli Kesehatan Lingkungan, Dicky Budiman juga menanggapi soal temuan BRIN. Menurutnya, hal seperti ini tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di banyak negara lain.

"Berkaitan dengan penelitian BRIN yang menemukan mikroplastik di air hujan, jadi fenomena air hujan mengandung mikroplastik ini juga terjadi di banyak negara lain, bukan hanya di Indonesia," kata Dicky melalui pesan suara.

Hal ini dibuktikan dalam beberapa penelitian internasional. Bahkan, air hujan yang mengandung mikroplastik tak hanya ditemukan di daerah perkotaan tapi juga di daerah pegunungan di Amerika Serikat. Ada pula di daerah terpencil di Eropa seperti Alpen.

Temuan kandungan mikroplastik di daerah pelosok menunjukkan bahwa mikroplastik dapat terbawa melalui atmosfer hingga ke tempat yang amat jauh.

"Artinya plastik bisa terbawa melalui atmosfer dengan jarak ribuan kilo meter. Bahkan di negara Asia lain seperti Jepang, Korea, China, konsentrasi mikroplastik di udara dan hujan cenderung tinggi di daerah perkotaan dan industri padat. Demikian pula di Australia, saya tinggal lama di sana," ucap Dicky.

Fenomena ini, sambung Dicky, kini disebut oleh para ilmuwan sebagai bagian dari siklus plastis global atau global plastic cycle.

"Plastik kini beredar layaknya karbon dan air, jadi menjadi bagian permanen dari sistem dunia. Cukup miris ya, memprihatinkan," terang dia.

Mikroplastik yang ada di udara sebetulnya berasal dari abrasi termasuk ban kendaraan, jalan aspal, debu pakaian sintetis dari proses mencuci dan mengeringkan, dan proses pembakaran sampah plastik.

"Juga degradasi plastik di lautan dan di daratan yang terbawa angin dan uap air. Partikel mikro ini bersifat hidroskopis, jadi mudah menempel pada uap air, sehingga ikut terangkut ke atmosfer dan turun kembali bersama hujan. Inilah yang disebut plastic rain oleh peneliti atmosfer," kata Dicky.

Lantas bagaimana mitigasi di negara lain soal hujan yang mengandung mikroplastik ini?

"Mitigasi di negara lain, khususnya di negara maju, mereka mengambil kebijakan multilevel untuk mengendalikan paparan mikroplastik, antara lain mitigasi di sumbernya tau upstream. Kalau di Eropa, mereka melarang mikroplastik dalam kosmetik, detergen, dan bahan pembersih." terang Dicky.

Sementara, di Jepang dan Korea, industri tekstil dan otomotif diwajibkan mengurangi emisi serat mikro. Di Perancis, setiap mesin cuci baru dijwajibkan memiliki filter mikroplastik.

"Mitigasi lingkungan juga mesti dilakukan dengan peningkatan pengolahan limbah air kota dengan sistem filtrasi," pungkasnya.

 

6. Menteri Lingkungan Hidup Beberkan Penyebabnya

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq angkat bicara soal masalah hujan mengandung mikroplastik di Jakarta.

Dia menyebut, selama ini sampah di Jabodetabek hanya dibuang dengan metode dumping yakni sampah hanya ditimbun di tempat pembuangan akhir (TPA), tanpa diberi penutup.

Menurut Hanif, sampah plastik akan terurai menjadi mikron saat cuaca panas dan hujan. Mikron itulah yang disebut mikroplastik.

"Jabodetabek kan membuang sampahnya pakai dumping, jadi ditimbun aja di TPA. TPA-nya tidak segera ditutup. Sehingga begitu panas, hujan terurai, dia menjadi mikron. Mikron itulah bisa disebut dengan mikroplastik," kata dia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa 21 Oktober 2025.

Sebagai solusinya, Hanif menyatakan harus ada pengelolaan sampah yang dapat menjadi sumber energi baru (waste to energy). Saat ini, baru Kota Bogor dan Bekasi telah menjadi target pengelolaan sampah melalui metode waste to energy.

"Kami minta segera ini diperhatikan, karena serius kondisi percemarannya cukup besar di Jakarta. Kalau kita tidak segera tangani ya tadi," kata Hanif.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6