Liputan6.com, Jakarta - Isu kontaminasi mikroplastik pada sayuran kini menjadi perhatian serius di seluruh dunia, mengingat dampaknya yang luas terhadap lingkungan dan kesehatan. Sebuah studi dari Environmental Sciences Europe (2025) mengungkapkan bahwa jumlah mikroplastik di lahan pertanian bisa mencapai 23 kali lebih banyak dibandingkan di lautan, menunjukkan skala masalah yang mengkhawatirkan. Partikel plastik kecil ini, yang sulit terurai, bertebaran di tanah dan berpotensi masuk ke dalam rantai makanan kita.
Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa nanoplastik, bentuk mikroplastik yang lebih kecil, mampu diserap oleh tanaman melalui akarnya dan terakumulasi di bagian yang dapat dimakan. Keberadaan mikroplastik ini tidak hanya mengancam kesuburan tanah, tetapi juga membawa risiko kesehatan serius bagi manusia, termasuk gangguan pencernaan, masalah reproduksi, hingga peningkatan risiko kardiovaskular akibat zat aditif berbahaya yang terkandung di dalamnya.
Ketahui fakta ilmiah di balik penyerapan mikroplastik oleh sayuran, mengidentifikasi sumber-sumber kontaminasi di lahan pertanian, dan menjelaskan bahaya kesehatan yang mungkin timbul. Lengkap dengan berbagai solusi praktis yang dapat diterapkan, mulai dari pemilihan sayuran yang lebih aman hingga panduan berkebun bebas mikroplastik di rumah.
Advertisement
Fakta Ilmiah Penyerapan Mikroplastik pada Tanaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3206274/original/090950600_1597203442-20200812-Vaksin-COVID-19-Rusia-3.jpg)
Penelitian mutakhir telah menunjukkan bahwa nanoplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil, memiliki kemampuan untuk diserap ke dalam bagian tanaman yang dapat dikonsumsi selama proses pertumbuhannya. Sebuah studi berjudul “Determining the accumulation potential of nanoplastics in crops: An investigation of 14C‑labelled polystyrene nanoplastic into radishes” yang diterbitkan di jurnal Environmental Research menggunakan lobak (radish) sebagai objek penelitian dan berhasil membuktikan bahwa nanoplastik dapat masuk melalui akar, kemudian menyebar dan terakumulasi secara signifikan di bagian tanaman yang dapat dimakan.
Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa hampir 5% partikel nanoplastik yang awalnya ada dalam larutan diserap oleh sistem akar lobak, dengan sekitar seperempatnya berhasil masuk ke bagian akar yang dapat dimakan. Lapisan Casparian pada akar tanaman, yang seharusnya berfungsi sebagai filter alami untuk menghalangi partikel berbahaya, ternyata tidak sepenuhnya efektif dalam mencegah nanoplastik menyebar ke jaringan tanaman yang dapat dikonsumsi.
Penemuan ini mengindikasikan adanya jalur baru yang potensial bagi manusia dan hewan untuk secara tidak sengaja mengonsumsi nanoplastik serta partikel lain yang semakin banyak ditemukan di lingkungan. Meskipun penelitian langsung mengenai mikroplastik dan nanoplastik dalam sayuran segar di pasar masih terbatas, studi yang ada telah memberikan bukti kuat mengenai keberadaan atau potensi masuknya partikel ini ke dalam bibit tanaman.
Sebuah studi lain berjudul “Occurrence of Microplastics in Most Consumed Fruits and Vegetables from Turkey and Public Risk Assessment for Consumers” yang dipublikasikan oleh MDPI AG pada Agustus 2023 mengonfirmasi deteksi mikroplastik di semua sampel buah dan sayuran yang diperiksa di pasar. Dalam penelitian tersebut, jumlah partikel tertinggi ditemukan pada tomat (3,63 partikel g⁻¹) dan mentimun (3,60 partikel g⁻¹), diikuti oleh bawang (2,60 partikel g⁻¹), sementara kentang menunjukkan jumlah terendah (0,17 partikel g⁻¹). Bentuk mikroplastik yang paling umum adalah fragmen, diikuti oleh fibril, dan yang paling jarang adalah film.
Advertisement
Sumber Kontaminasi Mikroplastik di Lahan Pertanian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5477929/original/020412300_1768886077-Petani_Padi_dengan_Lahan_Sempit_di_Pekarangan_Rumah_2.jpg)
Mikroplastik dapat memasuki lahan pertanian melalui berbagai jalur, menciptakan ancaman kontaminasi yang kompleks bagi hasil panen. Salah satu sumber utama adalah degradasi film mulsa plastik yang sering digunakan untuk melindungi tanaman dan mengendalikan gulma, namun seiring waktu akan pecah menjadi partikel kecil.
Selain itu, penggunaan lumpur limbah atau biosolid sebagai pupuk juga menjadi kontributor signifikan, karena lumpur ini seringkali mengandung banyak serat mikroplastik dari limbah rumah tangga. Irigasi dengan air limbah yang terkontaminasi mikroplastik dan penggunaan pupuk serta benih berlapis polimer turut memperparah masalah ini.
Kontaminasi tidak hanya berasal dari sumber tanah, tetapi juga dari atmosfer. Angin dan hujan dapat mengendapkan partikel mikroplastik langsung dari udara ke lahan pertanian, menjadikannya jalur kontaminasi yang sulit dikendalikan. Pupuk dan benih controlled-release yang dilapisi polimer seperti polietilen atau poliuretan juga dapat terurai menjadi mikroplastik seiring waktu.
Lumpur limbah dan pupuk kompos, yang banyak digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah, seringkali mengandung konsentrasi tinggi serat mikroplastik. Hal ini menunjukkan bahwa praktik pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan produksi justru dapat secara tidak sengaja memperkenalkan kontaminan plastik ke dalam ekosistem pertanian.
Dampak Mikroplastik Terhadap Kesehatan Manusia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3900113/original/092392600_1641875710-Bahaya_mikroplastik_dilautan.jpg)
Paparan mikroplastik telah terbukti mengganggu berbagai sistem tubuh manusia, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kesehatan jangka panjang. Partikel-partikel ini dapat memengaruhi sistem pencernaan, pernapasan, endokrin, reproduksi, dan kekebalan tubuh, dengan potensi konsekuensi yang beragam.
Penelitian pada hewan dan sel manusia menunjukkan adanya korelasi antara paparan mikroplastik dengan peningkatan risiko kanker, serangan jantung, dan masalah reproduksi, serta bahaya kesehatan lainnya. Sebuah tinjauan komprehensif menyimpulkan bahwa mikroplastik diduga membahayakan kesehatan reproduksi, pencernaan, dan pernapasan, bahkan dikaitkan dengan kanker usus besar dan paru-paru.
Ketika mikroplastik tertelan, sistem pencernaan menjadi salah satu yang paling terpengaruh, di mana iritasi fisik pada saluran pencernaan dapat memicu peradangan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan berbagai gejala gastrointestinal seperti sakit perut, kembung, dan perubahan kebiasaan buang air besar, serta mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.
Selain efek fisik, mikroplastik juga dapat menyebabkan toksisitas kimia karena kemampuannya menyerap dan mengakumulasi toksin lingkungan, seperti logam berat dan hidrokarbon aromatik polisiklik. Zat-zat beracun ini dapat masuk ke tubuh melalui saluran pencernaan saat mikroplastik tertelan, memicu gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, dan sakit perut.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa keberadaan mikroplastik dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan masalah kardiovaskular lainnya pada individu dengan penyakit jantung. Plastik kecil ini ditemukan melipatgandakan risiko stroke atau serangan jantung, di mana pasien dengan mikroplastik di pembuluh darah leher mereka memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengalami kejadian tersebut.
Advertisement
Solusi Praktis Mengurangi Paparan Mikroplastik pada Sayuran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390222/original/058068800_1761268958-Mikroplastik_di_udara.jpg)
Mengurangi paparan mikroplastik dari sayuran memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari pemilihan produk hingga praktik berkebun. Dengan menerapkan beberapa solusi praktis, kita dapat meminimalkan risiko kontaminasi dan menjaga kesehatan keluarga.
Pemilihan Sayuran yang Lebih Aman
Salah satu langkah awal adalah dengan menghindari sayuran yang dikemas dalam plastik di toko kelontong, meskipun kemasan tersebut bertujuan menjaga kesegaran. Meskipun Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) menyatakan belum ada cukup bukti migrasi mikroplastik dari kemasan ke makanan, memilih sayuran tanpa kemasan atau membawa tas belanja kain sendiri adalah pilihan bijak untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Teknik Pencucian Sayuran yang Efektif
Membilas buah dan sayuran hanya dengan air keran mungkin tidak cukup, mengingat air keran itu sendiri seringkali mengandung mikroplastik. Para ahli menyarankan metode yang lebih efektif: rendam produk dalam air berfilter yang dicampur dengan satu sendok teh soda kue. Larutan ini membantu melonggarkan mikroplastik permukaan, debu, dan pestisida, sebelum dibilas kembali dengan air berfilter.
Penggunaan deterjen yang dapat dimakan juga terbukti lebih efektif dalam mengurangi mikroplastik pada sayuran dibandingkan hanya membilas air atau pembersihan ultrasonik, dengan efisiensi pencucian meningkat hingga 6,9 kali. Deterjen ini dapat meningkatkan hidrofilisitas mikroplastik, membantu melepaskannya dari permukaan tanaman.
Alternatif lain adalah menggunakan larutan air garam 10% (satu bagian garam untuk sembilan bagian air), yang dapat bekerja sama efektifnya atau bahkan lebih baik daripada cuka murni untuk menghilangkan residu pestisida dan partikel permukaan lainnya. Penting untuk membilas semua sisa garam sebelum mengonsumsi sayuran.
Panduan Berkebun Sayur Bebas Mikroplastik
Untuk mereka yang tertarik berkebun, menanam makanan sendiri secara efektif dapat membebaskan dari rantai pasok plastik. Gunakan wadah non-plastik seperti pot kayu, bambu, tanah liat, atau mangkuk stainless steel untuk mengumpulkan hasil panen. Sabut kelapa dan gulungan tisu toilet bekas juga bisa menjadi alternatif media tanam dan semai yang ramah lingkungan.
Hindari penggunaan mulsa plastik, pelapis benih plastik, dan air irigasi yang berpotensi terkontaminasi di lahan pertanian. Selain itu, jangan membakar sampah plastik di sekitar area kebun karena residunya dapat mengendap di tanah dan mencemari media tanam.
Ganti label tanaman plastik dengan stik es krim kayu atau label tanaman logam, dan gunakan jaring goni (jute netting) sebagai pengganti jaring plastik untuk penyangga tanaman, karena jaring goni akan terurai secara alami dalam satu musim. Pertimbangkan juga sistem hidroponik bebas plastik, terutama untuk microgreens, yang meminimalkan kontak dengan plastik.
Pemerintah memiliki peran krusial dalam mengelola sumber mikroplastik di tanah melalui pengawasan peraturan yang ketat, terutama untuk mencegah kontaminasi dari irigasi air limbah dan aplikasi lumpur limbah. Penting untuk menegakkan standar kualitas lumpur yang diolah, membatasi tingkat mikroplastik yang diizinkan, dan memastikan hanya lumpur yang telah diolah dan disaring dengan baik yang digunakan di lahan pertanian.
Selain itu, mengonsumsi diet kaya serat, seperti beri, lentil, apel, ubi jalar, biji chia, dan kenari, serta sayuran silangan (brokoli, kubis, kembang kol, kangkung) dapat membantu mengikat saluran pencernaan dan meningkatkan detoksifikasi hati untuk mengurangi toksisitas mikroplastik. Buah dan sayuran berwarna-warni yang mengandung antosianin juga mungkin dapat melawan efek negatif mikroplastik dalam tubuh.
Pertanyaan Umum Seputar Topik
1. Sayuran apa yang memiliki risiko mikroplastik paling rendah?
Sayuran berbuah seperti tomat, cabai, terong, dan mentimun cenderung memiliki risiko mikroplastik lebih rendah karena bagian yang dikonsumsi tumbuh jauh dari tanah.
2. Sayuran apa yang memiliki risiko mikroplastik paling tinggi?
Sayuran akar seperti wortel, lobak, dan selada berisiko lebih tinggi karena tumbuh langsung di dalam tanah, sehingga lebih mudah terpapar dan menyerap mikroplastik.
3. Apakah kandungan mikroplastik pada sayuran organik pasti lebih sedikit?
Tidak selalu, sayuran organik tetap berpotensi mengandung mikroplastik jika ditanam di tanah atau disiram dengan air yang telah terkontaminasi.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3167349/original/049156100_1593592165-20200701-Iuran-BPJS-Kesehatan-Resmi-Naik--ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5128713/original/040476200_1739258552-vegetables-white-surface.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553146/original/001461500_1775901327-gigit_mainan.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5199385/original/089960100_1745580189-kimchi-ready-eat-black-plate_1150-35692.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5404538/original/082530400_1762409352-gal9.jpg)