Mikroplastik Kurangi Efektivitas Penyerapan Karbon, Ancaman Terhadap Biota Laut

Salah satu penyebab terjadinya pencemaran perairan laut yaitu mikroplastik, karena zat yang terkandung di dalamnya mengurangi efektivitas penyerapan karbon laut.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mikroplastik menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pencemaran air laut. Hal itu dikarenakan mikroplastik mengurangi efektivitas laut dalam menyerap dan menyimpan karbon.  

Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University Etty Riani mengatakan, mikroplastik dapat mengganggu keberlangsungan ekosistem laut seperti fitoplankton, sehingga menghambat proses fotosintesis.

"Mikroplastik dapat mengganggu fitoplankton, organisme laut yang berperan penting menyerap karbon melalui fotosintesis," kata Etty, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) University www.ipb.ac.id, Rabu (21/1/2026).

"Mikroplastik (terutama nanoplastik) yang menempel di permukaan fitoplankton dapat menghalangi sinar matahari sehingga menghambat proses fotosintesis dan menurunkan kemampuan fitoplankton menyerap karbon," sambungnya.

Meski pun bukan satu-satunya penyebab, namun sejumlah hasil riset menunjukkan mikroplastik berperan dalam menurunkan efektivitas tersebut melalui gangguan terhadap organisme kunci dan proses biogeokimia di laut.

Menurut Etty, mikroplastik juga dapat memengaruhi rantai makanan laut. Bentuknya yang menyerupai fitoplankton kerap membuat zooplankton mengonsumsinya. 

Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan zooplankton terhambat, karena kurangnya nutrisi dan energi yang baik, sehingga populasinya menurun.

Padahal, kata Etty, zooplankton memiliki kontribusi yang penting dalam membawa karbon ke dasar laut melalui kotoran dan bangkainya, atau dikenal juga dengan marine snow.

"Keberadaan mikroplastik membuat agregat karbon menjadi lebih ringan sehingga proses tenggelam ke dasar laut berlangsung lebih lambat. Akibatnya, karbon lebih lama berada di permukaan atau kolom air dan berpeluang kembali terlepas ke atmosfer," ucap Etty.

Meminimalisir Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Demi mengurangi lonjakan populasi mikroplastik, Etty mendorong upaya mengurangi penggunaan plastik, khususnya plastik sekali pakai dan mikroplastik primer, seperti microbeads pada produk perawatan dan kosmetik. 

Edukasi tentang bahaya mikroplastik serta pentingnya menjaga perairan di Indonesia juga perlu ditekankan kembali.

"Hal ini supaya menjadi edukasi berkelanjutan kepada masyarakat di berbagai kalangan melalui pendidikan sejak usia dini hingga perguruan tinggi," terang Etty.

Selain itu, ia juga menilai pandangan masyarakat tentang limbah perlu diubah. Limbah bukan hanya sekadar sampah yang tidak berguna, melainkan memiliki nilai ekonomi. 

Sehingga, edukasi terkait pengelolaan limbah yang lebih baik serta penerapan ekonomi sirkular dinilai penting, termasuk pemanfaatan teknologi untuk meminimalkan mikroplastik dan nanoplastik yang sudah terlanjur mencemari lingkungan.

Ia juga menyebutkan, mikroplastik dapat menjadi inang bagi bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti logam berat yang dapat mengganggu proses fisiologis organisme laut, termasuk reproduksi, merusak organ tubuh, dan menurunkan populasi biota laut.

"Kondisi ini pada akhirnya melemahkan kemampuan ekosistem laut menyimpan karbon dalam jangka panjang," ucap Etty.

Pengelolaan Limbah yang Tepat

Menurut Etty, pengelolaan limbah yang tepat dan baik menjadi penting untuk mengatasi persoalan ini.

Saat ini, para peneliti terus melakukan riset untuk mengembangkan material ramah lingkungan, seperti bioplastik berbahan alami.

Namun, kata dia, pembaruan material saja tidak cukup. Perlu adanya solusi yang dilakukan secara holistik dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Pencegahan sumber plastik, pengelolaan limbah yang baik, edukasi berkelanjutan, serta penguatan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam mengolah sampah berbasis ekonomi sirkular juga harus ditekankan.

Ia juga mendorong adanya peningkatan pemantauan mikroplastik dan pengurangan sampah plastik di seluruh perairan Indonesia melalui kerja sama lintas instansi, termasuk dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Pengurangan mikroplastik perlu dilakukan melalui kombinasi kebijakan yang efektif, teknologi inovatif yang implementatif, perubahan perilaku masyarakat, serta kolaborasi global," kata Etty.

"Yang terpenting saat ini adalah implementasi kebijakan yang sudah ada secara terkoordinasi dan konsisten agar sumbangan mikroplastik ke laut dapat diminimalkan," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6