Denny JA Luncurkan Lukisan Imajinasi Nusantara

Genre ini juga menyentuh luka-luka global seperti pandemi, krisis ekonomi, bencana alam, dan konflik geopolitik.

Diperbarui 03 Juli 2025, 06:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Denny JA luncurkan genre seni rupa baru: Lukisan Imajinasi Nusantara.
  • Genre ini lahir dari langit tropis dan batin Indonesia modern.
  • Eksplorasi tema zaman handphone dan luka global lewat seni lukis.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Denny JA meluncurkan genre seni rupa baru bertajuk Lukisan Imajinasi Nusantara. Genre ini merupakan buah dari perjalanan kontemplatif Denny JA ke museum-museum besar di Wina, Austria pada musim gugur 2024.

“Ini bukan turunan dari Barat. Genre ini lahir dari langit tropis, aroma tanah basah, dan batin Indonesia yang bergulat dengan era algoritma,” ujar Denny JA yang juga merupakan Pendiri Lembaga Survei LSI tersebut.

Genre Imajinasi Nusantara dirumuskan dari tiga unsur utama: Pertama, batik sebagai pusat narasi visual, bukan sekadar ornamen. Kedua, tubuh manusia digambarkan secara realistis sebagai wadah jiwa. Dan ketiga latar surealis mencerminkan batin zaman yang retak, sebagai metafora sosial dan spiritual.

Genre ini telah menginspirasi 72 lukisan perdana, yang kini dapat diakses bebas oleh publik dalam satu buku digital berjudul Einstein Memakai Batik dan Kisah Salvador Dalí. Lukisan-lukisan ini mengeksplorasi tema besar: zaman handphone—bagaimana gawai kecil ini mengguncang spiritualitas manusia, memutus komunitas, dan membengkokkan ruang-waktu.

Beberapa lukisan menggambarkan: Ayah yang pulang tapi jiwanya tertinggal dalam notifikasi. Makan malam sunyi dalam cahaya layar. Guru mengajar tembok, sementara murid memandang HP. Makam tanpa doa, hanya tersisa QR Code dan sinyal.

 

Luka-Luka Global

Genre ini juga menyentuh luka-luka global seperti pandemi, krisis ekonomi, bencana alam, dan konflik geopolitik.

“Setiap sapuan warna adalah pelukan spiritual kepada dunia. Ia lahir dari tradisi, tapi hidup di antara cahaya piksel. Ia tangisan lembut sekaligus perlawanan estetika," tambah Denny JA.

Seluruh karya dibantu teknologi kecerdasan buatan, menunjukkan simbiosis antara seni, teknologi, dan tradisi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6