Mendikdasmen Soroti Fenomena Grup WhatsApp: Beda Pendapat, Dihajar Habis-habisan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti fenomena yang semakin marak di era digital, khususnya penggunaan grup WhatsApp (WA) sebagai alat komunikasi sosial.

Diterbitkan 09 Juni 2025, 13:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti fenomena yang semakin marak di era digital, khususnya penggunaan grup WhatsApp (WA) sebagai alat komunikasi sosial.

Ia menekankan bahwa media sosial, yang harusnya menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan, justru sering kali berubah menjadi arena pertikaian.

"Orang sekarang membuat misalnya grup-grup WA. Yang grup WA itu semangatnya adalah membangun komunikasi diantara warga WA itu," kata Abdul Mu'ti di Semarang, Minggu (8/6/2025).

Mu'ti menyebut, meski awalnya bertujuan mempererat komunikasi antar anggota, kenyataannya justru berbalik arah ketika terjadi perbedaan pendapat.

"Ketika ada satu orang anggota grup yang pendapatnya berbeda dengan anggota grup lain, dia kemudian dihajar habis-habisan oleh admin dan anggota grup itu. Bahkan bisa dikeluarkan dari grup," ungkapnya.

Dia menilai, alih-alih membangun kerukunan sosial, media sosial kini kerap memperlihatkan sisi asosial masyarakat digital.

"Sehingga kadang-kadang media sosial yang harapannya untuk membangun kerukunan sosial. Yang terjadi adalah sikap asosial," pungkasnya.

Perilaku Narsistik

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti turut menyinggung soal maraknya perilaku narsistik di tengah masyarakat. Ia menilai, banyak orang gemar mengunggah konten ke media sosial hanya demi menjadi viral.

"Ada yang saya sebut dengan virality virus atau virus viralitas. Dimana orang itu ingin supaya viral. Ingin supaya dia menjadi terkenal," kata Abdul Mu'ti di Semarang, Minggu (8/6/2025).

Dalam konteks ini, ia merujuk istilah dr. Jean Twenge yang disebut dengan narcissism epidemic. "Atau penyakit narsisme dimana orang dikit-dikit upload. Upload kok dikit-dikit kira-kira begitu," ucapnya.

 

No Viral No Justice

Mu'ti berujar, terkadang orang lebih mementingkan viral semata. Persoalan sesuai moral atau tidak itu hal belakangan.

"Yang kadang-kadang orang yang penting viral. Soal itu sesuai dengan moral atau tidak itu belakangan. Yang penting viral dulu," ucapnya.

"Bahkan sekarang ada adagium yang menurut saya perlu kita kritisi. Adagium itu berbunyi no viral no justice. Kalau enggak viral enggak ada tindakan, enggak ada keadilan," pungkasnya.

 

Reporter: Muhammad Genantan Saputra

Sumber: Merdeka.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6