Mendikdasmen Ingatkan Julukan Fisik Bisa Jadi Bullying

Sekolah didorong untuk terus membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Diterbitkan 02 Juni 2026, 19:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Julukan fisik di sekolah tergolong perundungan, melukai perasaan peserta didik.
  • Sekolah harus membangun lingkungan aman, humanis, inklusif, dan menghargai keberagaman.
  • Tujuannya agar belajar menyenangkan, tanpa merendahkan, dan setiap anak berkembang.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengingatkan bahwa kebiasaan memanggil seseorang dengan julukan yang merujuk pada kondisi fisik dapat tergolong sebagai perundungan atau bullying. Karena itu, sekolah didorong untuk terus membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Mu'ti menilai, banyak candaan yang selama ini dianggap lumrah di lingkungan sekolah justru berpotensi melukai perasaan peserta didik. Salah satu contohnya adalah penggunaan julukan yang menyinggung kondisi fisik seseorang dengan dalih bercanda.

“Ya, kadang-kadang sebagian dari melucu itu justru melakukan harassment. Misalnya, 'Eh si kuntet!' Itu kan maunya melucu, tetapi itu harassment, itu bullying sebenarnya,” kata Mu'ti dalam kegiatan "Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman" di Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Menurut dia, sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didik tanpa adanya diskriminasi, baik yang berkaitan dengan penampilan fisik maupun kemampuan akademik. Setiap murid, kata Mu'ti, memiliki bakat, kemampuan, dan potensi yang berbeda sehingga harus dihargai secara setara.

Sekolah Lebih Humanis

Kemendikdasmen mendorong sekolah untuk memperkuat budaya yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif. Budaya tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memuliakan setiap warga sekolah, mulai dari murid, guru, hingga tenaga kependidikan.

Melalui pendekatan tersebut, Mu'ti berharap proses belajar dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan tanpa harus merendahkan atau menyakiti orang lain. Sekolah, lanjutnya, harus menjadi tempat yang merayakan keberagaman dan memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya.

“Kami ingin semua anak itu belajar bergembira. Sekolah menjadi tempat di mana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar kenapa kemudian kami tekankan aspek yang lebih humanis, yang inklusif menerima semuanya, dan partisipatif,” ujarnya, dilansir Antara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6