Rekam Jejak Hasan Nasbi, Pendukung Jokowi Sejak Pilkada Jakarta hingga Mundur dari Kepala Komunikasi Kepresidenan

Mantan Sekretaris Mahkamah Agung, Hasbi Hasan, tengah diselidiki KPK terkait TPPU, sementara Hasan Nasbi, mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, mengundurkan diri dari jabatannya.

Diperbarui 29 April 2025, 17:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Hasan Nasbi resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO). Pengumuman pengunduran diri ini ia sampaikan melalui akun media sosial Instagram.

Hasan pertama kali diangkat dalam jabatan tersebut oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2024. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ia tetap melanjutkan perannya hingga akhirnya menyatakan mundur.

Nama Hasan Nasbi mulai dikenal publik sejak Pilgub DKI Jakarta 2012, di mana ia dikenal sebagai pendukung kuat pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kedekatannya dengan Jokowi berlanjut ke level nasional, saat ia memegang peran penting dalam dua kali kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014 dan 2019.

Pada Pilpres 2024, Hasan menjadi juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto, menunjukkan loyalitasnya kepada Jokowi sekaligus mendukung koalisi Prabowo.

Lahir di Bukittinggi, 11 Oktober 1979, Hasan merupakan pendiri lembaga survei Cyrus Network yang dikenal aktif dalam publikasi hasil hitung cepat berbagai pemilu, termasuk Pilpres 2024.

Pendidikan formalnya dimulai dari SMAN 2 Bukittinggi, lalu melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), di mana ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik pada 2004.

Aktif dalam dunia organisasi sejak kuliah, Hasan pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UI pada tahun 2000. Ia juga mendirikan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tan Malaka pada 2002, serta menjadi sekretaris Dr. Harry Albert Poeze, peneliti Tan Malaka asal Belanda.

Hasan juga terlibat dalam kegiatan literasi kampus, seperti menjadi redaktur Buletin Madilog dan menulis buku Filosofi Negara Menurut Tan Malaka (2004) serta Mewarisi Gagasan Tan Malaka (2006).

 

Terseret Kontroversi

Menjelang pengunduran dirinya, Hasan sempat terseret kontroversi usai memberi tanggapan soal insiden teror kepala babi di kantor redaksi Tempo. Dalam unggahannya, Hasan menulis singkat, “Kepala babi itu sebaiknya dimasak saja.”

Pernyataan itu menuai kritik publik dan dinilai melecehkan media. Hasan kemudian memberikan klarifikasi bahwa komentarnya tidak bermaksud menghina, melainkan untuk merespons ancaman secara santai.

“Saya itu kemarin hanya menyempurnakan responsnya Cica, itu saja,” kata Hasan kepada wartawan pada Sabtu (22/3), merujuk pada tanggapan jurnalis Tempo, Fransisca Christy Rosana.

Hasan menjelaskan, tanggapan santai terhadap ancaman bisa melemahkan dampaknya, karena tujuan teror biasanya untuk menakut-nakuti.

“Kalau sudah dikecilkan kaya gitu, sekalian saja dikecilkan si penerornya dengan cara dimasak, ya kan?” ujarnya.

Ia mengaku heran dengan kemarahan sebagian pihak atas komentarnya.

“Jadi saya bingung kenapa marah-marah... Kita jangan sampai ikut membesar-besarkan ketakutan, karena itu targetnya si peneror,” tegas Hasan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6