Bonus Demografi Didominasi Usia Produktif, Wapres Gibran: Jadikan Momentum Penentu Masa Depan Indonesia

Gibran mewanti, kondisi puncak bonus demografi hanya bisa terjadi satu kali dalam sejarah peradaban sebuah bangsa. Dia menegaskan, kesempatan itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

Diperbarui 19 April 2025, 11:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan, Indonesia berada dalam momen yang sangat menentukan karena berada di tengah beragamnya tantangan global, mulai dari ekonomi, perang dagang, geopolitik, maupun perubahan iklim yang membawa perubahan di berbagai sektor.

Namun Gibran mencatat, di sisi lain, Indonesia adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk 284 juta orang yang harus tetap tumbuh dengan lincah dan adaptif.

"Teman-teman, tantangan ini memang ada, bahkan begitu besar. Tapi yakinlah, peluang kita juga jauh lebih besar. Tentu banyak yang sudah mendengar tentang Bonus Demografi, kondisi di mana lebih dari separuh penduduk suatu negara berada pada usia produktif," kata Gibran dari rekaman video yang disiarkan Sekretariat Wakil Presiden, Sabtu (19/4/2025).

"Ya, Indonesia akan mendapatkan puncak Bonus Demografi di tahun 2030 sampai tahun 2045," yakin dia.

Gibran mewanti, kondisi puncak bonus demografi hanya bisa terjadi satu kali dalam sejarah peradaban sebuah bangsa. Dia menegaskan, kesempatan itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

"Sebanyak 208 juta penduduk kita akan berada di usia produktif, di mana generasi produktif, generasi muda, memiliki proporsi yang lebih besar, sehingga memiliki pengaruh signifikan dalam menentukan arah kemajuan," tegas Gibran.

Gibran optimis, hal tersebut menjadi peluang besar bangsa Indonesia dan menjadi kesempatan emas untuk mengelola Bonus Demografi agar bukan menjadi sekedar bonus, bukan menjadi sekedar angka statistik yang fantastis.

"Bonus Demografi justru sebagai jawaban untuk masa depan Indonesia, di mana faktor penentunya ada di teman-teman semua.Karena kita, generasi muda, bukan sekedar bonus, kita adalah jawaban atas tantangan masa depan. Kita lihat sendiri saat ini, banyak anak-anak muda kita yang sudah tampil di garis depan," Gibran menandasi.

Akademisi UI Sebut Bonus Demografi Tak Otomatis Hasilkan Produktivitas Tinggi

Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana bicara urgensi perlindungan sosial dalam acara “Social Security Summit 2024” yang digelar di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (26/11/2024).

Dalam sesi diskusi, Gede memperkenalkan dua kata kunci utama: piramida penduduk dan perak atau silver. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan tantangan dan peluang yang muncul dari fenomena bonus demografi yang sedang dialami Indonesia.

 Gede menjelaskan bahwa bonus demografi merujuk pada kondisi ketika jumlah penduduk usia kerja atau produktif melebihi jumlah penduduk muda, anak-anak, dan lanjut usia.

"Ini diklaim sebagai bonus, yaitu ketika jumlah penduduk usia kerja atau penduduk produktif Indonesia itu melebihi penduduk muda, anak-anak, dan penduduk lansia," ujar Gede.

Namun, ia mengingatkan bahwa jumlah penduduk produktif yang besar tidak otomatis menghasilkan produktivitas tinggi. Kondisi ini hanya dapat tercapai jika penduduk produktif diinvestasikan dan ditingkatkan kemampuan kerjanya.

"Jadi jumlah penduduk produktif yang banyak tidak serta merta akan memberikan hasil, akan memberikan manfaat, akan memberikan produktivitas yang tinggi apabila tidak diinvest, apabila tidak ditingkatkan output kerjanya," jelasnya.

Gede juga memaparkan bahwa piramida penduduk saat ini mengarah pada perubahan besar di masa depan, di mana sekitar 30-40 persen penduduk Indonesia diperkirakan akan masuk kategori lanjut usia (lansia).

"Nah jadi piramida ini mengarahkan kita pada situasi yang berikutnya. Kita akan melihat bahwa sebentar lagi penduduk di Indonesia akan hampir 30-40 persennya itu nanti akan masuk kategori lansia," ungkapnya.

Generasi Rambut Perak dan Silver Economy

Ia mencatat bahwa pada 2022, terdapat tujuh provinsi di Indonesia yang memiliki lebih dari 10 persen penduduk lansia, yang digambarkan sebagai kelompok "rambut perak."

“Penduduk produktif saat ini pada akhirnya akan menjadi lansia di masa depan. Oleh karena itu, kita harus mulai memikirkan perencanaan jangka panjang,” ucapnya, seraya mengajak peserta diskusi untuk mengantisipasi perubahan ini melalui nujuman atau prediksi demografis.

Gede juga memperkenalkan istilah baru, Silver Generation atau generasi rambut perak, untuk menggambarkan penduduk lanjut usia yang terus meningkat. Menurutnya, generasi ini memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada perekonomian Indonesia melalui konsep silver economy.

"Generasi rambut perak ini akan menciptakan silver economy, kegiatan perekonomian yang terkait dengan generasi rambut perak ini, yang artinya kita memiliki silver opportunity, kesempatan besar dari generasi rambut perak yang akan segera mengisi Indonesia," ujarnya.

Bonus Demografi

Ia menambahkan, meskipun Indonesia tengah menikmati bonus demografi, dividen dari bonus tersebut masih perlu diciptakan melalui pengelolaan yang matang.

“Demografi Indonesia, bonus demografi ini belum selesai. Bonusnya sekarang sudah kita nikmati, tapi devidennya masih harus kita ciptakan. Masih terus kita create, kita generate,” tutup Gede.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6