Sukses

Melihat Sejarah Pintu Air Manggarai, Penangkal Banjir Jakarta Tahun 1918

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mengunjungi Pintu Air Manggarai, Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Menurut Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB yang turut dalam kunjungan tersebut, kedatangan mereka berdua bukan tanpa alasan. Menurut dia, Pintu Air Manggarai merupakan saksi bisu berbagai bencana banjir yang menimpa Jakarta. Bahkan sejak kota itu dikenal sebagai Batavia.

“Karena alasan sejarah pula, Kepala BNPB dan Menko PMK mengunjungi Pintu Air Manggarai ini,” ujar Egy Massadiah di lokasi.

Pintu air Manggarai ini, lanjut Egy adalah pemegang kendali luapan air di Ibukota. Ia terdiri dari dua bangunan pintu air, yaitu Pintu Air Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat (BKB) yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, dalam hal ini Departement Waterstaatdari tahun 1920 sampai tahun 1922.

"Pintu air itu dibangun dua tahun setelah banjir besar yang melanda Batavia tahun 1918," papar Egy.

Alhasil, dalam banjir-banjir besar berikutnya yang antara lain terjadi tahun 1930, 1942, 1976 hingga 1 Januari 2019, perannya tetap vital. Maka tak heran, kata Egy bila pintu air ini telah menjadi situs bersejarah. Setidaknya jika kita lihat dari prasasti berukuran 60 x 40 cm di pintu air bagian utara.

"Prasasti itu masih asli tertulis dalam bahasa Belanda, Door de Burgerrij van Batavia Werd Vit erkentelijk heid jegens den Ingenieur van de Waterstraat en Island Burgergelijke openbare werken van Breen out Werper en bouw meester der werken tat banjir vrij making van Batavia. De gedenkplaat aan gebracht in het jaahr MDCCCXIX nadat de eerst groate banjir was afgevoerd door het kanaal dat anvangt bij dezie sluis," jelas dia.

Dalam bahasa Indonesia prasasti ini merupakan ucapan terima kasih dari warga Batavia pada seorang insinyur perairan dan tata kota, Herman van Breen karena telah membangun pintu air tersebut dalam rangka membebaskan Batavia (Jakarta) dari banjir pada 1918.

"Pembangunan itu dilakukan setelah Batavia mengalami banjir besar di aliran kali Ciliwung di area kanal barat tersebut," ujar dia.

Menurut data resmi pemerintah, setelah Batavia mengalami kelumpuhan saat didera banjir besar pada 1918, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengutus van Breen untuk memecahkan masalah ini agar tidak terulang. Van Breen sendiri bekerja untuk Burgelijke Openbare Werken atau yang kini dikenal sebagai Departemen Pekerjaan Umum.

"Hingga hari ini, peran Pintu Air Manggarai tetap vital. Tak salah jika Doni Monardo merasa perlu segera mendatangi Pintu Air Manggarai manakala banjir besar menggenangi Ibukota. Ia merasa perlu mendapatkan informasi langsung dari lapangan," pukasnya.

 

2 dari 2 halaman

Saksi Bisu Sejarah

Egy menambahkan, sejarah Pintu Air Manggarai telah memberi peringatan kepada kita semua, bahwa banjir besar di Jakarta sudah terjadi bahkan sejak tahun 1600-an. Pintu Air Manggarai adalah saksi bisu bencana banjir Jakarta, sejak dahulu kala.

“Bencana banjir yang bisa dibilang permanen di Jakarta, perlu diatasi secara permanen juga. Ini harus menjadi concern bersama ke depan,” pungkasnya.