Surat Ad Dhuha Ayat 1-11 Beserta Arti, Simak Faedahnya

Surat yang berarti waktu Dhuha ini menjadi pengingat bahwa setelah setiap kesulitan pasti ada kemudaha

Diterbitkan 09 September 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surat Ad-Dhuha sarat makna dan pesan penghiburan dan motivasi bagi setiap muslim yang sedang dilanda kesedihan atau keputusasaan. Surat Ad Dhuha ayat 1-11 beserta arti mengajarkan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, sekalipun wahyu dihentikan dan ujian datang silih berganti.

Surat yang berarti waktu Dhuha ini menjadi pengingat bahwa setelah setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan masa depan yang lebih baik menanti bagi mereka yang bersabar.

Surat Makiyah ini terdiri dari 11 ayat dan termasuk dalam golongan qishar al-mufashshal, yaitu surat-surat pendek di akhir Al-Qur'an. Secara umum, surat ini membahas nikmat-nikmat lahiriah yang Allah berikan kepada Rasulullah SAW, sementara surat setelahnya, yaitu Surat Al-Insyirah, membahas nikmat-nikmat batiniah yang diberikan kepada beliau.

KH. Moechjar Dahri, B.A. dalam Tafsir Juz Amma menjelaskan bahwa surat ini turun untuk menghibur hati Nabi Muhammad SAW yang sempat bersedih karena terhentinya wahyu. Surah ini mengandung pesan kasih sayang Allah serta perintah untuk bersyukur dan berbuat baik.

Bacaan Surat Ad-Dhuha Ayat 1-11: Arab, Latin, dan Artinya

Berikut adalah teks lengkap Surat Ad-Dhuha ayat 1-11 beserta transliterasi dan terjemahannya:

وَالضُّحَىٰ (١)

Latin: Waḍ-ḍuḥā

Artinya: "Demi waktu duha (matahari naik sepenggalah)"

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (٢)

Latin: Wal-laili iżā sajā

Artinya: "Demi malam apabila telah sunyi (gelap)"

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (٣)

Latin: Mā wadda'aka rabbuka wa mā qalā

Artinya: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu"

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ (٤)

Latin: Walal-ākhiratu khairul laka minal-ūlā

Artinya: "Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia)"

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (٥)

Latin: Wa lasaufa yu'ṭīka rabbuka fa tarḍā

Artinya: "Dan sungguh, Tuhanmu pasti akan memberimu (karunia-Nya) sehingga engkau menjadi puas"

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (٦)

Latin: Alam yajidka yatīman fa āwā

Artinya: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?"

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ (٧)

Latin: Wa wajadaka ḍāllan fa hadā

Artinya: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk"

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (٨)

Latin: Wa wajadaka 'ā`ilan fa agnā

Artinya: "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia mencukupimu"

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (٩)

Latin: Fa ammal-yatīma fa lā taqhar

Artinya: "Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau bertindak sewenang-wenang"

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (١٠)

Latin: Wa ammas-sā`ila fa lā tanhar

Artinya: "Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya"

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (١١)

Latin: Wa ammā bini'mati rabbika fa ḥaddiṡ

Artinya: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau menyebutkannya (dengan bersyukur)"

Tafsir Surat Ad-Dhuha Ayat 1-11

Ayat 1-2: Sumpah Demi Duha dan Malam

Allah SWT membuka surat ini dengan sumpah demi waktu duha—yaitu waktu ketika matahari naik sepenggalah—dan demi malam yang telah sunyi. Kedua waktu ini adalah simbol dari dua kondisi kehidupan manusia: terang dan gelap, semangat dan kesunyian. Dengan bersumpah atas dua waktu yang kontras ini, Allah ingin menegaskan bahwa dalam setiap kondisi, baik suka maupun duka, Allah senantiasa bersama hamba-Nya.

Ayat 3: Penegasan bahwa Allah Tidak Meninggalkan

Ayat ini merupakan bantahan langsung terhadap tuduhan kaum musyrik yang mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan dan membenci Nabi Muhammad SAW karena wahyu tidak turun dalam beberapa waktu. Allah menegaskan bahwa Nabi tidak pernah ditinggalkan (wadda'a) dan tidak pernah dibenci (qalā). Menurut penjelasan KH. Moechjar Dahri, B.A. dalam Tafsir Juz Amma, ayat ini turun untuk menghibur hati Nabi yang sedang bersedih akibat terhentinya wahyu.

Ayat 4-5: Akhirat Lebih Baik dan Janji Kepuasan

Allah menegaskan bahwa kehidupan akhirat lebih baik bagi Nabi Muhammad SAW daripada kehidupan dunia. Ini adalah janji bahwa apa pun yang Allah berikan di dunia, nikmat di akhirat jauh lebih besar dan lebih kekal. Pada ayat kelima, Allah berjanji akan memberikan karunia-Nya kepada Nabi hingga beliau merasa puas (fa tarḍā). Janji ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menelantarkan hamba-Nya yang bertakwa.

Ayat 6-8: Tiga Bukti Kasih Sayang Allah

Dalam tiga ayat ini, Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW tentang tiga nikmat besar yang telah diberikan kepadanya:

• Pertama, Allah menemukan beliau dalam keadaan yatim (yatīman) lalu melindunginya (fa āwā). Nabi Muhammad SAW lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya wafat sebelum beliau lahir, dan ibunya wafat ketika beliau berusia enam tahun.

• Kedua, Allah menemukan beliau dalam keadaan bingung (ḍāllan) lalu memberinya petunjuk (fa hadā). Kata ḍāllan di sini bukan berarti sesat dalam akidah, melainkan bingung atau belum mengetahui syariat dan jalan kebenaran sebelum wahyu turun.

• Ketiga, Allah menemukan beliau dalam keadaan kekurangan ('ā`ilan) lalu mencukupinya (fa agnā). Allah mencukupi kebutuhan Nabi baik secara materi maupun spiritual.

Ayat 9-11: Tiga Perintah Sosial

Setelah mengingatkan nikmat-nikmat yang telah diberikan, Allah memberikan tiga perintah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya:

Pertama, terhadap anak yatim, jangan bertindak sewenang-wenang (lā taqhar). Anak yatim adalah mereka yang kehilangan kasih sayang orang tua, sehingga mereka harus diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Kedua, terhadap orang yang meminta-minta, jangan menghardik (lā tanhar). Orang yang meminta-minta memiliki hajat yang harus dipenuhi, dan menghardik mereka adalah perbuatan tercela.

Ketiga, terhadap nikmat Tuhan, hendaklah disebutkan (fa ḥaddiṡ). Ini adalah perintah untuk bersyukur dengan menyebut-nyebut nikmat Allah, baik melalui lisan maupun perbuatan.

Faedah-Faedah Membaca Surat Ad-Dhuha

1. Penghibur Saat Bersedih dan Gelisah

Surat Ad-Dhuha diturunkan sebagai penghibur hati Nabi Muhammad SAW ketika wahyu terhenti dan beliau dilanda kesedihan. Membaca surat ini dapat menenangkan hati yang gelisah dan mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

2. Menguatkan Keyakinan akan Masa Depan yang Lebih Baik

Ayat keempat dan kelima menegaskan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia dan Allah akan memberikan karunia-Nya hingga hamba merasa puas. Ini menguatkan keyakinan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan masa depan yang cerah menanti.

3. Mendorong Rasa Syukur

Surat ini mengajarkan pentingnya bersyukur dengan menyebut-nyebut nikmat Allah. Dengan mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan, hati menjadi lebih tenang dan terhindar dari rasa putus asa.

4. Mendorong Kepedulian Sosial

Surat Ad-Dhuha memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim dan tidak menghardik orang yang meminta-minta. Ini mengajarkan pentingnya kepedulian sosial dan empati terhadap sesama yang membutuhkan.

5. Menguatkan Optimisme dalam Menghadapi Tantangan

Surat ini mengajarkan lima nilai penting: optimisme dalam menghadapi tantangan, keyakinan akan masa depan yang lebih baik, berbuat baik dan membantu sesama, serta menyebarkan kebaikan dengan keikhlasan. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk meningkatkan etos kerja dan semangat hidup.

6. Perlindungan dari Tuduhan dan Fitnah

Surat ini turun sebagai bantahan terhadap tuduhan kaum musyrik bahwa Nabi Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhannya. Membaca surat ini mengingatkan bahwa Allah selalu melindungi hamba-Nya dari fitnah dan tuduhan jahat.

Asbabun Nuzul Surat Ad-Dhuha

Surat Ad-Dhuha turun sebagai respons atas peristiwa terhentinya wahyu dalam waktu yang cukup lama. Diriwayatkan dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW pernah sakit selama sehari atau dua hari sehingga beliau tidak dapat melaksanakan salat malam.

Kemudian datanglah seorang wanita (Ummu Jamil, istri Abu Lahab) dan berkata, "Wahai Muhammad! Tidaklah aku saksikan bahwa setanmu itu meninggalkanmu".

Tuduhan ini menyiratkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhannya karena wahyu tidak turun dalam beberapa waktu. Allah SWT kemudian menurunkan Surat Ad-Dhuha sebagai bantahan keras atas tuduhan tersebut. Allah menegaskan dalam ayat ketiga: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu".

Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI Jilid 10, ayat-ayat awal Surat Ad-Dhuha turun saat wahyu berhenti turun, sehingga membuat Rasulullah SAW bersedih. Para ulama berbeda pendapat mengenai durasi terhentinya wahyu, ada yang mengatakan beberapa hari dan ada yang mengatakan hingga 40 hari. Namun yang jelas, terhentinya wahyu ini membuat Nabi sangat bersedih dan kaum musyrik memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghina dan merendahkan beliau.

Kedatangan malaikat Jibril dengan membawa Surat Ad-Dhuha merupakan kebahagiaan besar bagi Nabi Muhammad SAW karena beliau kembali mendengar wahyu setelah beberapa saat terhenti, mendapat ilmu yang baru, dan merasakan kedekatan dengan Allah kembali.

 

Pertanyaan Seputar Surat Ad-Dhuha

1. Apa isi kandungan Surat Ad-Dhuha secara umum?

Surat Ad-Dhuha secara umum berisi penghiburan bagi Nabi Muhammad SAW yang sedang bersedih karena terhentinya wahyu. Surat ini menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dan membenci Nabi-Nya, menekankan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia, mengingatkan tiga nikmat besar yang telah Allah berikan (perlindungan saat yatim, petunjuk saat bingung, dan kecukupan saat kekurangan), serta memerintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim, tidak menghardik peminta-minta, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah.

2. Mengapa Surat Ad-Dhuha diturunkan?

Surat Ad-Dhuha diturunkan sebagai respons atas tuduhan kaum musyrik yang mengatakan bahwa Allah telah meninggalkan dan membenci Nabi Muhammad SAW karena wahyu tidak turun dalam waktu yang cukup lama. Nabi sendiri merasa sedih dan gelisah akibat terhentinya wahyu tersebut. Allah kemudian menurunkan surat ini untuk menguatkan hati Nabi dan menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

3. Apa keutamaan membaca Surat Ad-Dhuha?

Menurut Syekh Bakr Abu Zaid rahimahullahu, tidak ada dalil yang secara khusus menyebutkan keutamaan membaca Surat Ad-Dhuha melebihi surat-surat lain dalam Al-Qur'an. Namun secara umum, membaca surat ini memiliki banyak manfaat seperti menghibur hati yang sedih, menguatkan keyakinan akan masa depan yang lebih baik, mendorong rasa syukur, dan mengajarkan kepedulian sosial. Membacanya dengan niat mencari pahala dari Allah dan merenungkan maknanya adalah amalan yang terpuji.

4. Apa makna kata "ad-dhuha" dalam surat ini?

Ad-Dhuha secara bahasa berarti waktu ketika matahari naik sepenggalah, yaitu sekitar pukul 07.00-11.00 pagi. Allah bersumpah dengan waktu ini sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Penamaan surat ini dengan "Ad-Dhuha" menunjukkan bahwa waktu tersebut adalah waktu yang penuh berkah dan menjadi saksi atas kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

5. Apa pesan utama Surat Ad-Dhuha bagi kehidupan sehari-hari?

Pesan utama Surat Ad-Dhuha adalah agar manusia tidak berputus asa dan selalu optimis menghadapi kehidupan. Surat ini mengajarkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, masa depan selalu lebih baik, dan setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Selain itu, surat ini juga mengajarkan pentingnya bersyukur, berbuat baik kepada anak yatim dan kaum lemah, serta selalu menyebut nikmat Allah.