Surah Al-Hasyr Ayat 21-24 Beserta Arti, Amalan Perlindungan Sehari-hari

Surah Al-Hasyr ayat 21-24 merupakan rangkaian ayat yang sarat dengan pesan tentang tauhid, kebesaran Al-Qur’an, serta keagungan nama-nama Allah SWT.

Diterbitkan 09 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surah Al-Hasyr ayat 21-24 merupakan rangkaian ayat yang sarat dengan pesan tentang tauhid, kebesaran Al-Qur’an, serta keagungan nama-nama Allah SWT. Empat ayat terakhir surat ini kerap diamalkan sebagai bacaan wirid dan doa perlindungan, sekaligus menjadi bahan renungan untuk mengenal kebesaran Allah.

Surat Al-Hasyr merupakan surat Madaniyah yang terdiri dari 24 ayat. Nama Al-Hasyr berarti ‘pengusiran’, yang merujuk pada peristiwa pengusiran Bani Nadhir, salah satu kelompok Yahudi di Madinah, setelah terjadinya pengkhianatan terhadap perjanjian dengan Rasulullah SAW. Berbeda dengan bagian sebelumnya yang banyak membahas peristiwa tersebut, ayat 21-24 di penghujung surat mengajak manusia merenungkan keagungan Al-Qur’an dan mengenal Allah melalui Asmaul Husna.

Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut mengandung ajakan untuk membangun kesadaran spiritual dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, ayat 21-24 sering menjadi bagian dari bacaan zikir dan amalan di sejumlah komunitas Muslim. Dalam praktik tertentu, ayat-ayat tersebut dibaca setelah salat Subuh dan Magrib sebagai bentuk ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah serta memohon perlindungan dari berbagai gangguan lahir maupun batin.

Surah Al-Hasyr Ayat 21-24: Arab, Latin, dan Artinya

Berikut adalah teks lengkap Surah Al-Hasyr ayat 21-24 beserta tulisan latin dan terjemahannya:

Ayat 21

Arab: لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَككَّرُونَ

Latin: Law anzalnā hāżal-qur'āna 'alā jabalil lara'aitahụ khāsyi'am mutaṣaddi'am min khasyyatillāh, wa tilkal-amṡālu naḍribuhā lin-nāsi la'allahum yatafakkarūn

Artinya: “Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”

Ayat 22

Arab: هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Latin: Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw, 'ālimul-gaibi wasy-syahādah, huwar-raḥmānur-raḥīm

Artinya: “Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Ayat 23

Arab: هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Latin: Huwallāhul-lażī lā ilāha illā huw, al-malikul-quddūsus-salāmul-mu'minul-muhaiminul-'azīzul-jabbārul-mutakabbir, sub-ḥānallāhi 'ammā yusyrikūn

Artinya: “Dialah Allah Yang tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja, Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengamankan, Maha Memelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Megah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Ayat 24

Arab: هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Latin: Huwallāhul-khālikul-bāri'ul-muṣawwir, lahul-asmā'ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwal-'azīzul-ḥakīm

Artinya: “Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Tafsir Surah Al-Hasyr Ayat 21-24

Para mufassir dari berbagai generasi telah memberikan penjelasan mendalam mengenai makna keempat ayat ini. Berikut adalah rangkuman tafsir dari beberapa kitab klasik dan kontemporer:

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan betapa tinggi dan mulianya Al-Qur’an. Seandainya kitab suci ini diturunkan kepada gunung, yang secara fisik dianggap sebagai makhluk yang kokoh dan keras, maka gunung itu akan hancur lebur karena takut kepada Allah.

Ini adalah perumpamaan (amtsal) yang Allah buat agar manusia merenungkan kebesaran wahyu-Nya. Imam Al-Alusi dalam tafsirnya menekankan bahwa kata tafakkur pada ayat ini mengandung makna perenungan mendalam terhadap perumpamaan yang telah diberikan.

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Demi Allah! Sekiranya Al-Qur’an diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu akan hancur. Maka bagaimana dengan hati manusia yang keras dan lalai?”. Pesan moralnya: jika gunung yang kokoh saja tak sanggup menahan keagungan firman Allah, maka sudah sepantasnya hati manusia—yang lebih lunak—merespons Al-Qur’an dengan kekhusyukan dan ketundukan.

Tafsir Ayat 22-24: Pengenalan Diri melalui Asmaul Husna

Tiga ayat berikutnya (22-24) merupakan rangkaian pengenalan (ma’rifah) tentang zat dan sifat-sifat Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menyebutkan diri-Nya sebagai Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia, yang menguasai yang gaib dan yang nyata, serta memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Ayat 22 menegaskan keesaan Allah (tauhid) dan dua sifat agung-Nya: Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Al-Ghaib merujuk pada segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata manusia—seperti hari akhir, surga, neraka, dan malaikat—sementara asy-Syahadah adalah segala yang tampak dan dapat disaksikan.

Ayat 23 memuat tujuh Asmaul Husna yang menggambarkan kekuasaan dan kesempurnaan Allah: Al-Malik (Maha Raja), Al-Quddus (Maha Suci), As-Salam (Maha Sejahtera), Al-Mu’min (Maha Mengamankan), Al-Muhaimin (Maha Memelihara), Al-‘Aziz (Maha Perkasa), Al-Jabbar (Maha Kuasa), dan Al-Mutakabbir (Maha Megah). Setiap nama mengandung makna mendalam tentang bagaimana Allah mengatur alam semesta.

Ayat 24 menutup dengan tiga sifat Allah sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Bari’ (Maha Mengadakan dari tiada), dan Al-Muṣawwir (Maha Membentuk Rupa). Ayat ini juga menegaskan bahwa seluruh makhluk di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya—sebuah pengakuan universal atas keagungan Allah.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menambahkan bahwa rangkaian ayat ini bukan sekadar pengagungan teoretis, melainkan seruan agar manusia menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tunduk kepada kehendak Allah, dan hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenang.

Pesan Mendalam Surah Al-Hasyr Ayat 21-24

Dari penafsiran para ulama di atas, dapat ditarik beberapa pesan mendalam yang terkandung dalam empat ayat penutup Surat Al-Hasyr:

1. Al-Qur’an adalah wahyu yang dahsyat dan agung

Ayat 21 mengajarkan bahwa firman Allah memiliki kekuatan yang luar biasa—bahkan gunung yang kokoh pun akan hancur jika harus memikulnya. Ini menjadi pengingat bagi manusia agar tidak meremehkan atau mengabaikan petunjuk Al-Qur’an.

2. Manusia diajak untuk berpikir (tafakkur)

Perumpamaan gunung bukanlah sekadar cerita, melainkan alat untuk merangsang akal manusia agar merenungkan kebesaran Allah dan keagungan wahyu-Nya.

3. Tauhid adalah fondasi utama keimanan

Ayat 22-24 secara berulang menegaskan lā ilāha illā huw—tiada tuhan selain Dia. Ini adalah inti dari seluruh ajaran Islam.

4. Allah memiliki nama-nama yang indah (Asmaul Husna)

Pengenalan terhadap nama-nama Allah bukan sekadar hafalan, melainkan jalan untuk mendekatkan diri dan memahami sifat-sifat-Nya. Setiap nama mengandung makna yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Seluruh alam bertasbih kepada Allah

Ayat 24 mengingatkan bahwa tidak ada satu pun makhluk di langit dan di bumi yang lepas dari pengakuan terhadap keagungan Allah. Manusia, sebagai makhluk berakal, seharusnya menjadi yang paling utama dalam bertasbih dan beribadah.

Hikmah Surah Al-Hasyr Ayat 21-24

Berdasarkan kajian para ulama dan praktik keagamaan di berbagai komunitas Muslim, berikut adalah lima hikmah utama dari pembacaan dan pemahaman Surah Al-Hasyr ayat 21-24:

1. Perlindungan dari Gangguan Gaib dan Jahat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membaca A’udzu billahi as-Sami’ al-‘Alim min asy-Syaithan ar-Rajim dan membaca tiga ayat terakhir Surat Al-Hasyr pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuk memohonkan ampunan baginya hingga petang hari. Dan jika ia mati pada hari itu, ia mati sebagai syahid.” (HR. Tirmidzi). Ayat-ayat ini menjadi benteng spiritual dari gangguan setan dan jin.

2. Kesembuhan dari Penyakit (Syifa’)

Sebagian ulama dan praktisi menyebutkan bahwa Surah Al-Hasyr ayat 21-24 dapat digunakan sebagai media pengobatan, termasuk untuk sakit kepala. Dalam praktiknya, ayat-ayat ini dibacakan sambil meletakkan tangan pada bagian yang sakit. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Isra’ ayat 82 bahwa Al-Qur’an adalah syifa’ (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

3. Pengobatan Penyakit Hati dan Ketenangan Jiwa

Wirid ini juga berfungsi sebagai pelebut hati dan penenang jiwa. Anggota UKM Pagar Nusa UIN Walisongo yang mengamalkannya merasakan ketenangan batin dan kemudahan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

4. Latihan Istiqamah dan Kedisiplinan Spiritual

Pembacaan rutin setiap setelah salat subuh dan maghrib mengajarkan umat Islam untuk disiplin dalam beribadah dan istiqamah dalam mengingat Allah. Tradisi ini menjadi sarana pelatihan mental dan spiritual yang berkelanjutan.

5. Mendapatkan Ridha dan Keberkahan Allah

Hikmah tertinggi dari amalan ini adalah mengharapkan ridha Allah SWT. Dengan mengamalkan ayat-ayat suci dengan penuh keikhlasan dan keyakinan, seorang hamba berharap mendapatkan keberkahan dalam hidup, kemudahan dalam segala urusan, dan husnul khatimah di akhir hayat.

 

Pertanyaan Seputar Surat Al-Hasyr

1. Apakah Surah Al-Hasyr ayat 21-24 termasuk ayat yang mengandung Asmaul Husna?

Ya. Ayat 22-24 memuat belasan Asmaul Husna, di antaranya Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu’min, Al-Muhaimin, Al-‘Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Khaliq, Al-Bari’, dan Al-Muṣawwir. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa ayat-ayat ini mengandung al-Ismul A’zham—nama Allah yang teragung.

2. Kapan waktu terbaik membaca Surah Al-Hasyr ayat 21-24?

Waktu terbaik untuk membacanya adalah setelah salat subuh dan setelah salat maghrib. Pembacaan di waktu pagi memberikan perlindungan hingga petang, sementara pembacaan di waktu petang memberikan perlindungan hingga subuh berikutnya.

3. Bagaimana tata cara mengamalkan Surah Al-Hasyr ayat 21-24 sebagai wirid?

Tata caranya adalah dengan membaca ta’awudz (A’udzu billahi as-Sami’ al-‘Alim min asy-Syaithan ar-Rajim) sebanyak tiga kali, kemudian membaca tiga ayat terakhir Surat Al-Hasyr (ayat 22-24) sebanyak tiga kali. Disunnahkan dalam keadaan suci (berwudhu) dan dengan khusyuk.

4. Apakah hadits tentang keutamaan tiga ayat terakhir Surat Al-Hasyr shahih?

Hadits yang diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar ini digolongkan oleh Imam Tirmidzi sebagai hadits gharib dan sebagian ulama menganggapnya dha’if (lemah). Namun, Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa para ulama memperbolehkan pengamalan hadits dha’if untuk fadhailul a’mal (amalan keutamaan) selama bukan hadits palsu (maudhu’).

5. Apa hubungan Surah Al-Hasyr ayat 21-24 dengan perlindungan rohani?

Ayat-ayat ini mengandung pengakuan atas keesaan dan kekuasaan Allah serta nama-nama-Nya yang agung. Membacanya dengan penuh keyakinan merupakan bentuk tawakkul (berserah diri) kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya dari segala keburukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.