Abu Anak Krakatau Kembali Menebal di Bandar Lampung

Kondisi itu membuat warga kembali meningkatkan kewaspadaan.

Diterbitkan 09 September 2026, 11:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali terasa lebih tebal di Kota Bandar Lampung, Rabu (9/9/2026). Kondisi itu membuat warga kembali meningkatkan kewaspadaan setelah sehari sebelumnya sebaran abu sempat mulai menipis.

Abu vulkanik terlihat menempel di teras, halaman, kendaraan hingga sejumlah permukaan rumah warga.

Sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker serta kaca mata saat harus beraktivitas di luar.

Tomy Saputra, warga Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung, mengatakan abu yang turun pada Rabu pagi terasa lebih banyak dibandingkan sehari sebelumnya.

"Hari ini debunya ternyata tebal lagi. Padahal kemarin debunya sudah menipis," kata Tomy, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, abu vulkanik kembali memenuhi sejumlah bagian rumah sehingga warga harus membersihkannya dengan menyiram dan mengepel lantai.

"Saya dapat info kemarin Krakatau meletus lagi. Mungkin abunya terbawa angin ke sini lagi. Tadi siram-siram lumayan, sama ngepel," ujarnya.

Tomy mengaku bersyukur kegiatan pembelajaran tatap muka belum kembali digelar.

Pemerintah Provinsi Lampung sebelumnya memperpanjang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh atau PJJ hingga Kamis (10/9/2026), menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik.

"Untungnya hari ini sekolah masih online, jadi kita enggak terlalu khawatir ke anak-anak. Kalau begini terus rasanya mau keluar rumah malas. Ya, semoga cepat reda abunya," pintanya.

Warga Keluhkan Abu Makin Terasa

Hal serupa juga dirasakan Very Novianto, warga Kemiling, Bandar Lampung. Diaa mengaku sejak pagi sudah merasakan abu vulkanik yang kembali menebal ketika menginjak teras rumahnya.

"Agak sedih, kok debunya mulai tebal lagi. Tadi pagi-pagi bangun tidur, di luar debunya terasa banget waktu menginjak teras rumah," ujar Very.

Very menuutkan, angin juga sempat bertiup cukup kencang pada Selasa malam. Kondisi tersebut membuat warga memilih membatasi perjalanan dan tidak keluar rumah jika tidak memiliki keperluan mendesak.

"Kami enggak berani keluar rumah jauh-jauh kalau enggak penting banget. Mesti pakai masker dan kacamata. Tadi malam duduk di luar, ada tetangga yang matanya terasa pedih," katanya.

Dia menilai kondisi cuaca dan sebaran abu pada Rabu berbeda dibandingkan Selasa. Langit bahkan sempat terlihat lebih gelap seperti mendung.

"Iya, hari ini dan semalam memang beda dari hari kemarin. Tadi langit juga agak gelap, seperti mendung. Semoga saja ada hujan, biar debunya cepat hilang," jelasnya.

Anak Krakatau Erupsi, Warga Diminta Waspada

Aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga Rabu pagi masih menunjukkan adanya erupsi. Berdasarkan laporan pemantauan, erupsi terjadi pada pukul 00.47 WIB dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama 28 detik.

Letusan tersebut tidak terlihat secara visual karena kawasan gunung tertutup kabut. Dalam periode yang sama, petugas juga merekam satu kali gempa frekuensi rendah, satu gempa hybrid atau fase banyak, serta tremor menerus dengan amplitudo 2-7 milimeter.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, mengatakan kondisi visual gunung dari pos pemantauan masih terkendala kabut tebal.

Selain itu, pemantauan aktivitas gunung melalui CCTV di Hargo Pancuran dan Sertung hingga kini masih belum dapat dilakukan karena perangkat belum berfungsi.

"Kalau dari sini tidak terlihat letusannya karena selalu tertutup kabut," kata Suwarno.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat harus beraktivitas di luar ruangan. Warga juga diminta menggunakan masker dan pelindung mata untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik.

"Kalau aktivitasnya masih ada, masyarakat tetap harus waspada dan jangan mendekati kawasan gunung," ujarnya.

Suwarno juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya dan selalu mengacu pada informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan direkomendasikan untuk tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.