Surah Al-Baqarah Ayat 155 Teks Arab Latin dan Arti, Ujian Hidup dan Kunci Ketahanan Mental

Surah Al-Baqarah ayat 155 menjadi dasar penting untuk memahami hakikat ujian kehidupan.

Diterbitkan 09 September 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surah Al-Baqarah ayat 155 menjadi dasar penting untuk memahami hakikat ujian kehidupan. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa setiap manusia pasti akan diuji oleh Allah SWT, yang oleh karenanya butuh kekuatan mental.

Dalam perjalanan hidupnya, setiap individu hampir pasti dihadapkan pada peristiwa yang bersifat mengejutkan dan menyakitkan. Banyak orang merasa kehilangan arah, dilanda kecemasan, dan mengalami kehampaan makna hidup ketika ujian datang silih berganti. Tidak sedikit pula yang mengalami disorientasi spiritual, mempertanyakan keadilan Tuhan, atau merasa ditinggalkan oleh-Nya.

Dalam Jurnal Ujian Sebagai Dasar Pembentukan dan Penguatan Ketahanan Kesehatan Mental: Kajian Surah Al-Baqarah Ayat 155-157, oleh Bunga Fitri Dayu dan kawan-kawan, ujian dalam Islam bukan sekadar bentuk penderitaan, melainkan sarana konstruksi ketahanan mental yang relevan dengan konsep resiliensi dalam psikologi modern.

Sementara itu, M. Mu'tamid Ihsanillah dan Auliya dalam penelitiannya menegaskan bahwa konsep sabar dalam surah Al-Baqarah ayat 155-157 merupakan sikap mental dan jiwa yang terlatih untuk menghadapi segala bentuk cobaan.

Di era modern yang ditandai dengan perubahan sosial yang cepat, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian global, pemahaman terhadap surah Al-Baqarah ayat 155 menjadi semakin relevan sebagai panduan spiritual dalam menjaga ketahanan mental.

Teks, Latin, dan Terjemahan Surah Al-Baqarah Ayat 155

Berikut adalah teks lengkap surah Al-Baqarah ayat 155 beserta tulisan latin dan terjemahannya:

Arab: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Latin: Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-ju'i wa naqshin minal-amwali wal-anfusi was-tsamarati, wa basysyirish-shabirin.

Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 155

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur'an al-Adzim menjelaskan bahwa Allah SWT mengabarkan kepada setiap umat bahwa Dia akan menguji hamba-hamba-Nya dengan memberikan mereka ujian, dugaan, dan musibah. Ibnu Katsir menegaskan bahwa ujian ini adakalanya berupa kesenangan dan adakalanya berupa kesengsaraan.

Beliau menjelaskan bahwa firman Allah "bi syai'im minal-khaufi wal-ju'i" (dengan sedikit ketakutan dan kelaparan) menunjukkan bahwa Allah menguji manusia dengan rasa takut dan lapar. Adapun "naqshin minal-amwali" (kekurangan harta) berarti hilangnya sebagian harta. "Wal-anfusi" (dan jiwa) merujuk pada meninggalnya para sahabat, kerabat, dan orang-orang yang dicintai. Sedangkan "wats-tsamarati" (dan buah-buahan) berarti kebun dan sawah tidak dapat diolah sebagaimana mestinya.

Ibnu Katsir juga mengutip ayat lain sebagai penguat, yaitu surah Muhammad ayat 31: "Sungguh, Kami benar-benar akan mengujimu sehingga mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu serta menampakkan (kebenaran) berita-berita (tentang) kamu." Ini menunjukkan bahwa ujian adalah metode Allah untuk memisahkan antara orang-orang yang benar-benar beriman dan bersabar dengan mereka yang hanya pengakuan di lisan.

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa rasa takut dalam ayat ini adalah keresahan hati menyangkut sesuatu yang buruk atau hal-hal yang tidak menyenangkan yang diduga akan terjadi

Beliau menggarisbawahi bahwa ayat sebelum ini mengajarkan tentang shalat dan sabar, yang merupakan bekal menghadapi ujian hidup. Quraish Shihab juga menegaskan bahwa ujian diperlukan untuk kenaikan tingkat keimanan seseorang, ujian itu sendiri baik, yang buruk adalah kegagalan menghadapinya.

Pesan Mendalam Surah Al-Baqarah Ayat 155

1. Ujian adalah Keniscayaan bagi Setiap Insan

Surah Al-Baqarah ayat 155 menegaskan bahwa ujian merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan manusia. Allah menggunakan kata "lanabluwannakum" (pasti akan menguji) yang menunjukkan kepastian, bukan kemungkinan. Setiap manusia, baik mukmin maupun kafir, pasti akan menghadapi ujian dalam berbagai bentuknya.

2. Ujian Bukan Azab, Melainkan Sarana Pembersihan Diri

Musibah seringkali dianggap sebagai beban yang berat, namun dalam pandangan Islam, ujian hidup adalah sarana pembersihan diri. Melalui ujian, Allah ingin menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik imannya, sekaligus menjadikannya sebagai peringatan agar manusia kembali kepada-Nya.

3. Lima Bentuk Ujian sebagai Cakupan Universal

Ayat ini menyebutkan lima bentuk ujian yang mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia:

• Ketakutan (al-khauf): rasa cemas dan khawatir yang menghantui jiwa

• Kelaparan (al-ju'u): kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pangan

• Kekurangan harta (naqshun minal-amwal): kehilangan atau berkurangnya materi

• Kehilangan jiwa (al-anfus): kematian orang-orang tercinta

• Kekurangan buah-buahan (ats-tsamarāt): kegagalan panen dan sumber penghidupan

Kelima bentuk ujian ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun aspek kehidupan yang luput dari kemungkinan ujian, sehingga manusia harus selalu siap secara mental dan spiritual.

4. Kabar Gembira di Tengah Kesulitan

Yang menarik dari ayat ini adalah setelah menyebutkan berbagai bentuk ujian, Allah justru menyampaikan kabar gembira (basysyir) kepada orang-orang yang sabar. Ini menunjukkan bahwa dalam setiap kesulitan, selalu ada harapan dan janji indah dari Allah.

Kabar gembira ini bukan sekadar kata-kata penghibur, melainkan janji konkret berupa pahala, rahmat, dan petunjuk dari Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Dayu dan kawan-kawan, ujian yang direspon dengan kesabaran dan istirja' bukan lagi menjadi azab, melainkan pintu pembuka rahmat dan ampunan yang tak terhingga.

5. Sabar sebagai Kunci Keberhasilan Menghadapi Ujian

Ayat ini secara eksplisit mengaitkan ujian dengan kesabaran. Orang yang sabar (ash-shabirin) adalah mereka yang layak menerima kabar gembira. Kesabaran dalam Islam bukanlah sikap pasif yang hanya pasrah tanpa usaha, melainkan sikap mental dan jiwa yang terlatih untuk menghadapi segala bentuk cobaan, yang lahir dan tumbuh atas dorongan agama.

Sabar adalah kemampuan menahan diri dari melakukan sesuatu yang tidak disukai dengan harapan mendapatkan ridha Allah.

Hikmah Memahami Makna Surah Al-Baqarah Ayat 155

1. Membangun Ketahanan Mental (Resiliensi)

Memahami bahwa ujian adalah bagian dari ketentuan Allah membentuk mental yang tangguh dalam diri seseorang. Penelitian Dayu dan kawan-kawan menunjukkan bahwa individu yang menghadapi berbagai ujian kehidupan berupaya menerima kondisi yang dialaminya.

Sikap ini sejalan dengan teori resiliensi Connor dan Davidson, yang menyatakan bahwa individu resilien memiliki kemampuan untuk mentoleransi emosi negatif dan tetap tegar ketika menghadapi stres. Dengan ujian, seseorang menjadi kuat mentalnya, kukuh keyakinannya, tabah jiwanya, dan tahan menghadapi ujian dan cobaan.

2. Mengubah Perspektif Negatif Menjadi Positif

Pemahaman yang benar terhadap ayat ini mengubah cara pandang seseorang terhadap musibah. Ujian tidak lagi dilihat sebagai kutukan atau hukuman, melainkan sebagai bentuk kasih sayang Allah yang ingin mengangkat derajat hamba-Nya.

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, bala bukanlah bentuk kemurkaan, melainkan instrumen Allah untuk menyingkap hakikat kualitas hamba melalui dua instrumen utama: kenikmatan dan musibah. Individu yang mampu memaknai ujian secara positif akan mengalami peningkatan dalam aspek spiritualitas, kekuatan pribadi, serta penghargaan terhadap hidup.

3. Menguatkan Kesadaran Tauhid

Ayat ini mengingatkan bahwa segala sesuatu—baik ujian maupun nikmat—berasal dari Allah. Kesadaran tauhid membebaskan manusia dari rasa ketakutan dan duka cita yang berlebihan, karena ia merasa yakin bahwa setiap makhluk di bumi ini telah dijamin rizkinya oleh Allah. Tauhid juga membebaskan manusia dari perasaan keluh kesah, bingung menghadapi persoalan hidup, dan bebas dari rasa putus asa. Dengan tauhid, seorang Muslim memiliki jiwa besar, tidak berjiwa kerdil, dan memiliki jiwa yang agung dan tenang.

4. Melatih Pengendalian Diri dan Regulasi Emosi

Sabar yang diajarkan dalam ayat ini pada hakikatnya adalah latihan pengendalian diri. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa sabar adalah melatih pengendalian diri agar tidak berperilaku tercela atau bertentangan dengan ajaran agama dalam situasi apapun.

Sabar akan melahirkan serangkaian perilaku positif yang membangun resiliensi, seperti kemampuan mengendalikan diri dengan baik, menerima kenyataan hidup, berpikir tenang dan hati-hati, serta memiliki keteguhan pendirian dan tidak mudah putus asa. Ketenangan jiwa ini merupakan indikator mental yang sehat, yang salah satunya ditandai dengan kemampuan mengendalikan diri atau kecerdasan emosional.

5. Menemukan Makna dan Tujuan Hidup

Memahami surah Al-Baqarah ayat 155 membantu seseorang menemukan hakikat tujuan hidup. Ujian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses menuju kesempurnaan spiritual. Mereka yang sabar dan mengucapkan istirja' akan memperoleh ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Allah.

Penelitian Ihsanillah dan Auliya menyimpulkan bahwa implikasi sabar dalam kesehatan mental sangat berkaitan erat, yaitu bagaimana sikap sabar mampu membuat jiwa menjadi tenang dan menemukan hakikat tujuan hidup. Kesabaran dan penerimaan tidak hanya dipandang sebagai hasil atau tujuan akhir, melainkan sebagai kekuatan yang bekerja dalam proses kehidupan yang berkelanjutan dan mampu membimbing individu melampaui berbagai tahap kehidupannya.

 

Pertanyaan Seputar Surah Al-Baqarah 155

1. Apa yang dimaksud dengan ujian dalam surah Al-Baqarah ayat 155?

Ujian dalam surah Al-Baqarah ayat 155 merujuk pada lima bentuk cobaan yang pasti akan dialami setiap manusia, yaitu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa (orang-orang tercinta), dan kekurangan buah-buahan (hasil bumi). Ujian ini bukanlah azab, melainkan sarana untuk menguji keimanan dan membersihkan diri, serta menjadi jalan untuk meningkatkan derajat di sisi Allah.

2. Mengapa Allah menguji manusia dengan berbagai cobaan?

Allah menguji manusia untuk mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang benar-benar beriman dan bersabar. Ujian berfungsi sebagai proses penyaringan untuk memisahkan antara mereka yang memiliki kesungguhan dalam berjuang dan bersabar dengan mereka yang hanya ikut-ikutan atau lemah pendiriannya. Selain itu, ujian juga berfungsi sebagai peringatan agar manusia kembali kepada Allah dan sebagai sarana peningkatan derajat keimanan.

3. Apa hubungan surah Al-Baqarah ayat 155 dengan kesehatan mental?

Surah Al-Baqarah ayat 155 memiliki korelasi yang kuat dengan kesehatan mental. Ujian yang direspon dengan kesabaran dan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah akan membentuk ketahanan mental (resiliensi). Sikap sabar, tawakal, penerimaan, dan pemaknaan positif terhadap ujian sejalan dengan konsep regulasi emosi, manajemen stres, dan post-traumatic growth dalam psikologi modern. Dengan demikian, ujian menjadi sarana pengembangan ketahanan mental dan pertumbuhan spiritual.

4. Siapa yang dimaksud dengan orang-orang sabar dalam ayat ini?

Orang-orang sabar (ash-shabirin) dalam ayat ini adalah mereka yang ketika ditimpa musibah mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali). Mereka adalah orang-orang yang mampu merespons musibah dengan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sikap ini mencerminkan keteguhan iman, ketenangan batin, serta penerimaan yang penuh makna terhadap takdir.

5. Apa balasan bagi orang yang sabar menghadapi ujian?

Balasan bagi orang yang sabar menghadapi ujian sangatlah besar. Allah menjanjikan ampunan (shalawat), rahmat, dan petunjuk (al-muhtadun). Mereka akan mendapatkan keberkahan yang sempurna dan keselamatan dari azab. Selain itu, mereka juga mengetahui bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan mereka meski hanya sebesar biji sawi pada hari kiamat. Umar bin Khattab mengatakan bahwa dua balasan (shalawat dan rahmat) serta tambahan (petunjuk) merupakan nikmat yang sangat besar bagi orang-orang yang sabar.