Liputan6.com, Jakarta: Gelombang kenaikan tarif taksi tak terbendung lagi. Buktinya, sekitar 20 perusahaan taksi terutama yang bernaung di bawah Grup Blue Bird mulai Sabtu (18/11) dinihari tadi menaikkan tarif sebesar 46 persen. Kendati demikian, 10 perusahaan taksi lainnya masih tetap bertahan dengan tarif lama.
Kenaikan tarif, menurut para pengusaha taksi, ditempuh lantaran biaya operasional semakin meningkat akibat kenaikan harga suku cadang dan biaya pengujian kendaraan bermotor. Sementara perusahaan yang bertahan dengan tarif lama menilai, kenaikan tarif hanya akan menurunkan jumlah penumpang pada saat kondisi ekonomi belum pulih seperti sekarang ini.
Sebenarnya, kenaikan tarif ini juga telah ditetapkan Organisasi Angkutan Darat DKI Unit Taksi berdasarkan Surat Persetujuan Gubernur DKI Jakarta Nomor 3539 tanggal 14 November 2000. Dalam surat itu ditetapkan tarif flag fall (tarif awal) akan dipatok dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000. Sementara untuk kilometer berikutnya yang sebelumnya hanya Rp 900, bakal melonjak menjadi Rp 1.300. Sedangkan tarif tunggu pun yang sebelumnya sebesar Rp 9.000, akan ikut naik menjadi Rp 13 ribu per jam.
Menurut Ketua Unit Taksi DPD Organda DKI Jakarta Izaak A. Rumaedi, Jumat (17/11) kemarin, kenaikan tarif tersebut merupakan keputusan yang tertunda. Pasalnya, ketika isu kenaikan beredar beberapa perusahaan taksi menolak kenaikan tersebut. Bahkan para sopirnya berunjuk rasa menentang hal yang sama. Perusahaan yang menolak kenaikan tarif di antaranya, Bima Sakti, Spirit, Buana Metropolitan, Jakarta International Taksi, Rajawali, Swadharma, dan Transit Cab. Bahkan tiga perusahaan taksi masing-masing Citra, Steady Safe, dan Kosti Jaya sejak awal ngotot tidak akan menaikkan tarif.
Sementara itu dari 20 perusahaan taksi yang menaikkan tarif, enam di antaranya adalah milik Grup Blue Bird. Masing-masing adalah Blue Bird, Morante, Cendrawasih, Pusaka Nuri, Gamya, dan Lintas Buana. Perusahaan taksi lainnya seperti Prestasi, Sri Medali, Royal City Taksi, Ratax, Dian Taksi, Primajasa, dan Express mengikuti jejak Grup Blue Bird. Seolah tak mau kalah, beberapa perusahaan taksi yang tak punya nama pun ikut-ikutan naik, seperti Koperasi Taksi, Master Taksi, Sentris, Transkoveri, Bhakti Dian Sardo, Liberty, dan Koperasi Taksi Sepakat. Ironisnya, beberapa perusahaan taksi ini tak pernah menghiraukan mutu pelayanan mereka. Misalnya saja, soal mobil yang bobrok, air conditioning yang tak berfungsi, menggunakan "argo kuda", hingga sopir yang ugal-ugalan mengendarai taksinya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, hingga siang ini, kenaikan tarif taksi kebanyakan tidak diketahui calon penumpang. Apalagi, argometer yang digunakan masih argo lama. Maka, ketika penumpang harus membayar tarif baru, kontan mereka kaget ketika disodorkan tabel tarif baru.
Sejumlah pengemudi taksi dari perusahaan yang menerapkan tarif baru, mengaku keberatan dengan kebijakan ini. Pasalnya jumlah penumpang menurun drastis, sementara uang setoran tetap naik. Keberuntungan agaknya malah berpihak pada pengemudi yang perusahaannya tak menaikkan tarif. Mereka justru meraih limpahan rezeki lantaran banyaknya penumpang yang beralih pada mereka.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Kenaikan tarif, menurut para pengusaha taksi, ditempuh lantaran biaya operasional semakin meningkat akibat kenaikan harga suku cadang dan biaya pengujian kendaraan bermotor. Sementara perusahaan yang bertahan dengan tarif lama menilai, kenaikan tarif hanya akan menurunkan jumlah penumpang pada saat kondisi ekonomi belum pulih seperti sekarang ini.
Sebenarnya, kenaikan tarif ini juga telah ditetapkan Organisasi Angkutan Darat DKI Unit Taksi berdasarkan Surat Persetujuan Gubernur DKI Jakarta Nomor 3539 tanggal 14 November 2000. Dalam surat itu ditetapkan tarif flag fall (tarif awal) akan dipatok dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000. Sementara untuk kilometer berikutnya yang sebelumnya hanya Rp 900, bakal melonjak menjadi Rp 1.300. Sedangkan tarif tunggu pun yang sebelumnya sebesar Rp 9.000, akan ikut naik menjadi Rp 13 ribu per jam.
Menurut Ketua Unit Taksi DPD Organda DKI Jakarta Izaak A. Rumaedi, Jumat (17/11) kemarin, kenaikan tarif tersebut merupakan keputusan yang tertunda. Pasalnya, ketika isu kenaikan beredar beberapa perusahaan taksi menolak kenaikan tersebut. Bahkan para sopirnya berunjuk rasa menentang hal yang sama. Perusahaan yang menolak kenaikan tarif di antaranya, Bima Sakti, Spirit, Buana Metropolitan, Jakarta International Taksi, Rajawali, Swadharma, dan Transit Cab. Bahkan tiga perusahaan taksi masing-masing Citra, Steady Safe, dan Kosti Jaya sejak awal ngotot tidak akan menaikkan tarif.
Sementara itu dari 20 perusahaan taksi yang menaikkan tarif, enam di antaranya adalah milik Grup Blue Bird. Masing-masing adalah Blue Bird, Morante, Cendrawasih, Pusaka Nuri, Gamya, dan Lintas Buana. Perusahaan taksi lainnya seperti Prestasi, Sri Medali, Royal City Taksi, Ratax, Dian Taksi, Primajasa, dan Express mengikuti jejak Grup Blue Bird. Seolah tak mau kalah, beberapa perusahaan taksi yang tak punya nama pun ikut-ikutan naik, seperti Koperasi Taksi, Master Taksi, Sentris, Transkoveri, Bhakti Dian Sardo, Liberty, dan Koperasi Taksi Sepakat. Ironisnya, beberapa perusahaan taksi ini tak pernah menghiraukan mutu pelayanan mereka. Misalnya saja, soal mobil yang bobrok, air conditioning yang tak berfungsi, menggunakan "argo kuda", hingga sopir yang ugal-ugalan mengendarai taksinya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, hingga siang ini, kenaikan tarif taksi kebanyakan tidak diketahui calon penumpang. Apalagi, argometer yang digunakan masih argo lama. Maka, ketika penumpang harus membayar tarif baru, kontan mereka kaget ketika disodorkan tabel tarif baru.
Sejumlah pengemudi taksi dari perusahaan yang menerapkan tarif baru, mengaku keberatan dengan kebijakan ini. Pasalnya jumlah penumpang menurun drastis, sementara uang setoran tetap naik. Keberuntungan agaknya malah berpihak pada pengemudi yang perusahaannya tak menaikkan tarif. Mereka justru meraih limpahan rezeki lantaran banyaknya penumpang yang beralih pada mereka.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307544/original/024849800_1754469684-IMG_0583.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2845750/original/003475400_1562319949-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288151/original/067339000_1752895807-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377480/original/078319600_1792466079-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/344015/original/181100bTaksi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)