Sukses

Mengenang Gempa Kebumen yang Menggoyang 5 Provinsi dan Bikin Panik Warga Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Sabtu siang itu, Rustriningsih baru saja tiba di rumah pribadinya, Wisma Mega Kebumen. Mantan Wagub Jawa Tengah itu baru saja melangkah ke dalam. Sementara, suaminya Sonny Noorjatno sedang berwudhu hendak menunaikan salat Zuhur.

"Tiba-tiba ada suara gemeretak dan air kolam taman muncrat ke atas," kata dia, Sabtu 25 Januari 2014. Berdasarkan catatan Sejarah Hari Ini (Sahrini), juga ditemukan dinding retak di tembok rumahnya.

Tak hanya Rustriningsih, sejumlah pembaca Liputan6.com juga menceritakan pengalamanmya. Rahman, warga Kecamatan Sadang, Kebumen bahkan mengaku terpental dari kursi yang didudukinya saat lindu datang.

"Saya sedang duduk sampai terpental dan lari ke luar rumah. Alhamdulilah di sekitar sini tidak ada yang rusak, hanya listrik sempat padam," kata dia.

Guncangan lindu juga mengagetkan warga Cilacap, Jawa Tengah. "Guncangan terasa kuat selama beberapa detik hingga 1 menit," kata Rizky Febrian Krisnawati. Orang-orang panik berlarian ke luar rumah, mereka yang sedang berdoa usai salat Zuhur di masjid-masjid, berhamburan keluar.

Kepanikan juga melanda warga Banyumas. Merasakan guncangan keras, Arbi (30) berlari keluar kantornya. Dengan kaki berdarah-darah.

"Tiba-tiba terasa guncangan keras dan kaca jendela bergetar hebat. Saya panik dan langsung keluar. Sampai kaki saya terluka dan berdarah," ujar dia.

Di Yogyakarta, getaran gempa bikin mumet warga. "Di Yogya kerasa banget gempanya. Berlangsung sekitar 10 detik. Lumayan bikin kepala pusing. Saya berada di lantai 1," kata Dewi, warga Yogyakarta lewat pesan singkat kepada Liputan6.com di Jakarta.

Hal serupa juga disampaikan budayawan Butet Kartaredjasa lewat akun Twitternya. "Yogya gempa. Gempanya cuma bentar. Mencolek aja," kicau @masbutet.

Di Sedayu, Bantul, guncangan gempa membangkitkan kenangan pahit: lindu Yogyakarta 2006. "Sempat membuyarkan anak-anak SMK 1 Sedayu. Ada yang pingsan karena trauma gempa Yogya yang lalu," kata pembaca Liputan6.com.

Di Jakarta, getaran gempa dirasakan kuat di gedung-gedung tinggi. Di kantor Liputan6.com di Lantai 14 Gedung SCTV Tower, lampu-lampu bergoyang.

Cerita lain penghuni gedung bertingkat di Jakarta datang dari Sofi. Tepat pukul 12:14 WIB, saat fokus pada layar komputer, tiba-tiba di merasa mual dan pusing. Bukan hanya karena kondisi badan yang memang tidak fit, namun karena gempa Kebumen yang getarannya cukup kuat hingga terasa sampai di Jakarta.

Namun, beberapa temannya yang juga masuk pada hari Sabtu itu nampak tidak bergeming. Mereka bahkan terlihat asyik pada kerjaannya masing-masing. Ini menimbulkan keraguan apakah memang benar ada gempa atau tidak.

"Apa ini hanya perasaaan saya saja," ujarnya bertanya dalam hati Sofi.

Tiba-tiba, suara salah seorang temannya mengagetkan seisi kantor. "Eh ada gempa," ungkap salah satu karyawan di Divisi lain.

Suasana pun tampak panik, mereka saling menatap seolah mencari kepastian. Orang-orang yang semula fokus bekerja itu kemudian memperhatikan beberapa obyek di kantor yang bergetar. Seperti lampu neon yang bergoyang, meja yang bergerak ke kiri ke kanan, kaca yang bergetar, dan lain-lain.

Sementara itu, meski tak seberapa besar, Wali Kota Bandung Ridwal Kamil juga merasakan getaran yang tak biasa.

"Bandung rada-rada gempa. Apa semua baik-baik saja?" tanya dia dalam akun Twitternya, @ridwankamil, Sabtu siang.

Gempa Kebumen ternyata juga meruntuhkan sejumlah titik di Gunung Merapi, Yogyakarta. Akibat goncangan gempa yang cukup kencang terbentuk beberapa rekahan sekitar 1,5 meter di bawah Kali Opak dan Kali Oyo.

"Informasi dari pos pengamatan Gunung Merapi, pascagempa terjadi runtuhan material di kawah sebanyak 2 kali," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama dalam siaran pers, Sabtu 25 Januari 2014.

 

2 dari 3 halaman

Kekuatan Gempa Kebumen

Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gempa yang terjadi pada Sabtu 25 Januari 2014 sekitar pukul 12.14 WIB terjadi di di kedalaman 48 km, 104 km Barat Daya Kebumen, Jawa Tengah. Meski terjadi di laut, tak menimbulkan ancaman tsunami.

Gempa juga terpantau Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS. Ada sedikit perbedaan.

Laman earthquake.usgs.gov mencatat lindu terjadi dengan magnitudo 6,1 pada Sabtu siang pukul 12.14 WIB. Pusat gempa berada di 39 kilometer Adipala, Indonesia. Di kedalaman 83,2 km dan tidak di Kebumen.

Adipala sendiri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, pusat gempa berada di bagian dalam lempeng Eurasia di luar zona subduksi lempeng Hindia Australia-Eurasia.

Sementara, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, berdasarkan data USGS maksimum guncangan gempa berintensitas VI MMI (kuat) yang dirasakan di sepanjang pantai selatan mulai dari Cilacap, Kebumen hingga Purworejo.

Lindu juga terasa di kota lain di 5 provinsi Pulau Jawa. Berdasarkan laporan pembaca Liputan6.com, gempa Kebumen antara lain terasa di kota-kota Ponorogo, Madiun, Pasuruan, Blitar, Tulungagung, dan Malang (Jawa Timur).

Di Jawa Tengah, lindu terasa di Cilacap, Semarang, Solo, Kediri, Wonogiri, Banyumas, Klaten, Temanggung, Banjarnegara, Brebes, Tegal, Pemalang, Magelang, Demak, Jepara, Pekalongan, Purwodadi, Batang, Purworejo, Wonosobo;

Demikian pula dengan kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Sedangkan di Jawa Barat, gempa terasa di Bandung, Bogor, Sukabumi, Kuningan, Cirebon, Garut, Cianjur, Tasikmalaya. Demikian pula di Jakarta, yang umumnya dirasakan para pekerja di gedung bertingkat.

Lantas, kenapa gempa yang terjadi di Kebumen bisa dirasakan di wilayah lain yang jaraknya terbilang cukup jauh?

"Lokasi kedalaman tidak dalam tapi juga tidak dangkal. Ini jadinya goncangan terasa cukup jauh. Kalau terlalu dalam tidak terasa," ujar Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Suharjono.

Menurut dia, kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut tidak besar. Sebab jarak gempa lebih dari 100 km dari daratan.

"Gempa ini jaraknya 100 km lebih dari daratan. Kalau jarak tidak terlalu jauh, akan berakibat kerusakan. Jika jaraknya cukup jauh, maksimal goncangan 5-6 MMI," terang Suharjono.

BMKG pun kemudian merevisi skala besaran gempa dari magnitudo 6,5 menjadi 6,2. Kedalaman gempa juga direvisi dari 48 km ke 79 km.

"Setelah menerima laporan dari berbagai stasiun pemantauan, update per jam 12.38 WIB, informasi magnitude 6,2 posisi di 8.22 LS-109.22 BT dengan kedalaman 79 km," kata BMKG.

Sementara itu, BNPB mencatat puluhan rumah rusak akibat lindu ini, namun tak ada korban jiwa.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

MRT Segera Terintegrasi dengan Transjakarta
Loading
Artikel Selanjutnya
Nani Wartanobe dan Proklamasi Kemerdekaan 23 Januari 1942
Artikel Selanjutnya
Teror Candi Borobudur, Misteri Ledakan 9 Bom di Pagi Buta