Balada Nelayan Tuna

Kisah tentang kehidupan nelayan dan kemiskinan di negeri ini seperti tak pernah ada ujungnya. Cerita makin dramatis manakala harga bahan bakar minyak melambung yang diikuti dengan melonjaknya harga bahan pokok lainnya.

Diterbitkan 05 Juli 2008, 13:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bitung: Hari itu banyak kapal nelayan yang masih bugar dan bersandar di pesisir Bitung, Sulawesi Utara. Namun sebagian besar nelayan tidak melaut karena harga bahan bakar minyak nyaris tak terjangkau lagi. Sekali melaut, mereka memerlukan sedikitnya Rp 1 juta. Itu pun hanya cukup buat bahan bakar.

Sebagian nelayan tak mau menyerah pada kondisi serba sulit itu. Mereka pun membuat perahu untuk mengisi waktu luang, sekaligus menunggu masa reda badai. Sementara sebagian nelayan lainnya tetap melaut. Ikan tuna menjadi sasaran target mereka. Para nelayan tuna ini melaut hingga merambah perairan Maluku, antara lain Laut Banda.

Ikan tuna memang menjadi buruan utama nelayan di Minahasa Tenggara, tepatnya di pesisir Belang, Sulawesi Utara. Para nelayan hanya berbekal peralatan seadanya, tanpa ada pengaman maupun mesin yang memadai. Nelayan tuna dari Belang ini menggunakan perahu tradisional yang disebut pelang. Perahu kecil ini setiap harinya mampu mengarungi laut hingga jarak 60 mil.

Tuna ekor kuning adalah yang sering ditangkap nelayan. Rata-rata beratnya sekitar 10 kilogram. Setiap kilogram tuna ekor kuning berharga Rp 15 ribu. Namun, ikan tuna berukuran kecil tidak termasuk dalam kategori ekspor. Sekali melaut, para nelayan biasanya dapat membawa pulang sekitar Rp 200 ribu. Para nelayan tuna tradisional memang jarang bisa menangkap ikan besar. Mereka beranggapan tuna besar telah ditangkap kapal besar yang lebih lengkap dan modern peralatannya.

Boleh dibilang, beratnya kehidupan nelayan tuna tak sebanding dengan hasilnya. Penghasilan mereka hanya cukup untuk makan. Padahal, negeri ini masih kaya dengan segala hasil lautnya. Sekalipun miskin, para nelayan tersebut tak mengenal kata menyerah. Mereka tetap mengarungi lautan. Badai dan ombak besar ibaratnya makanan sehari-hari bagi mereka. Beratnya kehidupan para nelayan tuna tersebut dapat disimak selengkapnya dalam video Potret edisi 5 Juli 2008.(ANS/Hardjuno Pramundito dan Frets Ferdinand)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6