Kejanggalan di Seputar Kematian Alda

Kesan polisi menutup-tutupi kasus kematian Alda Risma melahirkan berbagai spekulasi di masyarakat. Barang bukti yang begitu banyak dalam olah perkara yang kedua menunjukkan polisi tak profesional.

Diterbitkan 18 Desember 2006, 13:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Kematian Alda Risma menyimpan banyak misteri. Hingga Senin (18/12), tragedi kematian pelantun Aku Tak Biasa belum terungkap. Cara polisi menguak kasus ini juga dinilai kurang profesional bahkan ceroboh. Salah satunya, polisi menemukan banyak barang bukti justru pada oleh tempat kejadian perkara (TKP) yang kedua di Hotel Grand Menteng Matraman, Jakarta Timur. "Seharusnya olah TKP dimatangkan pada olah TKP pertama secara sunguh-sungguh," kata Nasrullah, pakar hukum acara pidana di Jakarta.

"Barang bukti yang dulunya tidak ada menjadi ada, atau yang ada bisa menjadi hilang, itu adalah bias-bias TKP yang kedua dan ketiga," kata Nasrullah. Saat olah TKP pertama di kamar nomor 432, polisi hanya menemukan jarum suntik dan sprei. Namun, dalam olah TKP yang kedua, polisi menyita alat suntik dan jarumnya, dua di antaranya telah dipakai serta puluhan obat-obatan penenang. Polisi juga menemukan alat kontrasepsi, dua buah botol infus yang telah dipakai, dan beberapa kapsul yang masih belum teridentifikasi [baca: Ditemukan Bukti Baru Kematian Alda].

Cara kerja polisi yang dinilai tidak profesional juga tampak pada penangkapan Wisnu Prakasa, kakak kandung Fery Surya Prakasa, pria yang hingga kini masih buron dalam kasus kematian Alda. Meski belum menyandang status tersangka, Wisnu diperlakukan bak pesakitan. Dia dibawa ke kantor polisi dalam kondisi setengah diseret. Dia kemudian dilepaskan kembali karena polisi tidak mempunyai cukup bukti [baca: Rumah Ferry Surya Digerebek]. "Ini berarti kan, ada kecerobohan," kata Nasrullah.

Nasrullah menegaskan, cara polisi menahan Wisnu juga seolah-olah menunjukkan pria itu adalah tersangkanya. "Yang boleh ditangkap adalah tersangka," kata pengajar hukum Universitas Indonesia ini.

Tragedi yang menimpa Alda memang mendapat perhatian yang sangat luas dari masyarakat. Kesan polisi menutup-tutupi kasus ini melahirkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. Lepas dari itu, asas praduga tak bersalah tetap harus ditegakkan. Ini bisa terjadi jika polisi dan aparat yang berwenang jujur menyampaikan informasi. Bukan justru menimbulkan kesimpangsiuran.

Hingga kini, anggota Kepolisian Sektor Kota Tanah Sareal berjaga-jaga di kuburan Alda Risma di Tempat Pemakaman Umum Blender, Bogor, Jawa Barat. Kepala Polsekta Tanah Sareal Ajun Komisaris Polisi Saryono mengatakan, makam artis itu akan dibongar pagi ini. Namun, sampai sekarang polisi dari Polsekta Tanah Sareal masih belum mendapat kepastian dari tim medis.

Di sisi lain, para penggemar dan warga tidak berhenti berziarah di peristirahatan terakhir penyanyi yang tewas dalam usia 24 tahun ini. Setiap hari, puluhan hingga ratusan orang datang ke pemakaman untuk menabur bunga atau cuma melihat-lihat.

Makam Alda dibongkar untuk proses otopsi ulang terkait penyebab kematian cewek asal Bogor ini yang hingga kini belum jelas. Polisi juga terus menyelidiki orang-orang yang bersama Alda sebelum dia mengembuskan napas terakhir. Salah satunya, Ferry Surya Prakasa yang diduga mengetahui penyebab kematian Alda.

Kemarin malam, rumah Ferry sepi. Sejak kematian Alda, rumah berlantai dua itu seolah-olah tidak berpenghuni. Rumah di Bukit Villa Gading Nomor 18, Kelapa Gading Utara, Jakarta Utara, makin senyap setelah penggerebekan, beberapa waktu silam. Sudah dua tahun Ferry yang juga biksu itu menempati rumah mewah ini.

Seorang satuan pengamanan setempat mengaku belum pernah melihat wajah Ferry dan keluarganya. Setelah berita kematian Alda menghiasi media cetak dan elektronik, beberapa polisi kerap memantau rumah yang pintu pagarnya terkunci rapat.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6