Gelombang Pengungsian Warga Reno Kenongo Masih Berlangsung

Hingga siang ini arus pengungsian puluhan warga dari empat dusun di Desa Reno Kenongo, Porong, Sidoarjo, Jatim, masih berlanjut. Mereka mengungsi karena takut ledakan susulan pipa gas Pertamina.

Diterbitkan 25 November 2006, 13:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Sidoarjo: Arus pengungsian puluhan warga dari empat dusun di Desa Reno Kenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, hingga Sabtu (25/11) siang ini masih berlangsung. Pascaledakan pipa gas PT Pertamina yang menewaskan belasan orang, Rabu silam, para warga ini mengaku takut dan harus mengungsi untuk menghindari ledakan susulan yang lebih besar. Selain mengungsi ke rumah saudaranya di dalam kota, mereka juga mengungsi ke luar kota seperti Bangil, Pasuruan, dan Mojokerto.

Secara bertahap mereka juga mengangkut perabot rumah tangganya untuk diselamatkan ke rumah saudaranya yang terdekat sejak kemarin. Padahal hingga hari ini, warga Reno Kenongo yang berasal dari empat dusun itu belum mendapatkan ganti rugi apa pun dari PT Lapindo Brantas akibat luapan lumpur dari sumur hasil eksplorasi perusahaan pertambangan yang kepemilikan sahamnya sempat dikuasai kelompok Bakrie itu. Rencananya, warga Reno Kenongo juga akan meminta pertanggungjawaban Lapindo terkait hal ini [baca: Tiga Korban Ledakan Pipa Gas Dimakamkan].

Sementara itu, warga Perumahan Tanggulangin Sejahtera kini tengah panik setelah mengetahui air lumpur Lapindo mengarah ke permukiman mereka. Aliran luapan lumpur ini berasal dari jebolnya tanggul Pond A setelah terkena ledakan pipa gas Pertamina. Sedangkan Pond B yang memuat luberan lumpur dari Pond A tidak mampu mampu menampung sehingga air lumpur itu kini mengarah ke perumahan warga.

Warga Perumnas yang juga mengungsi pada hari sebelumnya mengaku belum mendapat tunjangan apa pun dari Lapindo. Mereka terpaksa mengungsi dengan uang sendiri karena takut ledakan susulan dari pipa gas Pertamina.

Pascaledakan pipa gas tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyuno menetapkan kawasan di sekitar lokasi kejadian di dekat pusat semburan lumpur Lapindo sebagai daerah bencana. Kini, akibat imbauan itu, sebagian warga resah. Soalnya, warga mengaku proses ganti rugi korban luapan lumpur Lapindo belum terealisasi sampai saat ini [baca: SBY Turut Berduka Cita atas Insiden Lapindo].

Menurut seorang warga Porong, sebenarnya para warga tidak mempermasalahkan apa pun rencana pemerintah ke depan. Mereka hanya ingin kejelasan status tanahnya dan proses ganti rugi. Adapun lokasi yang dianggap daerah bencana ini seluas 440 hektare dan meliputi tiga kecamatan, yaitu Porong, Tanggulangin dan Jabon. Meski telah ditetapkan sebagai daerah bencana, sebagian penduduk masih terlihat menghuni daerah tersebut. Beberapa warga mengaku tetap tinggal karena rumahnya belum terendam lumpur. Sementara sebagian lagi sudah ditinggal oleh penghuninya karena sudah terendam lumpur Lapindo.

Dari pantauan SCTV, pascaledakan yang menewaskan puluhan orang ini Jalan Tol Porong-Gempol di Kilometer 39 mengalami retak-retak sepanjang radius 20 meter. Di titik pusat ledakan, kondisi tanah terlihat mengalami patahan hingga lokasi relief well II. Tim Nasional Penanggulangan Lumpur Panas hingga sekarang belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi tersebut.(ZIZ/TIm Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6