Lumpur Lapindo Kian Meluas, Tanggul Baru Dibuat

Tanggul baru seluas hampir 15 hektare di Desa Mindi, Porong, Sidoarjo, mulai pagi tadi dikeruk untuk tempat penampungan luapan lumpur Lapindo. Memasuki bulan ketiga, luapan lumpur ini terus meluas.

Diterbitkan 20 Agustus 2006, 18:29 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Sidoarjo: Luapan lumpur PT Lapindo Brantas hingga Ahad (20/8) belum juga tertangani dengan baik. Bahkan lahan yang digunakan untuk menampung lumpur yang telah memasuki bulan ketiga itu sudah semakin berkurang. Sementara luberan lumpur terus meluas memasuki permukiman penduduk desa sekitar.

Untuk mengantisipasi hal ini, lahan pertanian produktif seluas hampir 15 hektare di Desa Mindi, Kecamatan Porong, Sidoarjo, mulai pagi tadi dikeruk untuk dijadikan tanggul penampungan lumpur atau pond. Pembuatan tanggul baru ini digarap karena empat pond yang ada sudah tidak bisa menampung luapan lumpur yang sehari mencapai 50 ribu meter kubik.

Meski tanggul tersebut sudah mulai digarap dengan menggunakan alat berat, warga pemilik tanah pertanian merasa kecewa. Pasalnya hingga kini proses ganti rugi dari PT Lapindo Brantas belum jelas. Bahkan perjanjian hitam di atas putih antara Lapindo dan pemilik sawah hingga kini belum ada.

Berdasarkan hasil pemantauan SCTV, aliran air dan lumpur dari Desa Jatirejo kini sudah memasuki Desa Mindi. Luapan lumpur ini juga sudah mengaliri Desa Besuki sejak beberapa hari lalu akibat tiga tanggul lumpur tersebut jebol [baca: Isu Desa Jatirejo Ditenggelamkan Membuat Warga Resah].

Siang tadi, Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI Safzen Noerdin memberikan bantuan kepada 127 anggota Marinir yang menjadi korban luapan Lapindo. Mereka adalah warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera yang mengungsi akibat rumahnya tenggelam lumpur.

"Rumah mereka ada yang sudah tenggelam total dan ada sekitar delapan rumah. Mereka kini sudah mengungsi dan kita sudah mengambil langkah-langkah dengan membuat pos sendiri agar kalau ada apa-apa bisa di monitor," kata Safzen usai memberikan bantuan. Sejauh ini, para anggota Marinir yang menjadi korban luapan lumpur ini dilarang berunjuk rasa dengan para warga lainnya.(ZIZ/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6