Liputan6.com, Jakarta - Tren olahraga semakin populer di media sosial. Unggahan teman yang mengikuti kelas pilates, bermain padel, lari, sampai olahraga lainnya dapat memicu keinginan untuk mencoba aktivitas serupa.
Tak hanya mendorong gaya hidup aktif, tren ini juga membuat olahraga terasa lebih menyenangkan karena bisa menjadi kesempatan untuk bersosialisasi dan beraktivitas bersama.
Melansir Within Health, Selasa (27/10/2026), keputusan seseorang untuk berolahraga dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, perilaku, dan lingkungan. Media sosial menjadi salah satu bagian dari lingkungan tersebut.
Advertisement
Unggahan tentang pencapaian dan rutinitas latihan dapat memotivasi pemula untuk mulai bergerak. Beragam olahraga yang tengah populer pun menawarkan pilihan aktivitas sesuai minat, mulai dari latihan kebugaran hingga olahraga raket.
Namun, keinginan mencoba aktivitas baru terkadang bercampur dengan fear of missing out (FOMO), yakni rasa takut tertinggal dari pengalaman yang sedang ramai diikuti orang lain. Ketika teman-teman rutin membagikan kegiatan olahraga, seseorang bisa merasa terdorong untuk ikut agar tidak ketinggalan tren.
Akibatnya, pilihan olahraga bukan lagi didasarkan pada minat pribadi, melainkan keinginan untuk mengikuti sesuatu yang sedang populer atau terlihat menarik di media sosial.
Mengikuti tren olahraga tidak selalu menjadi masalah. Hal yang perlu diperhatikan adalah motivasi di baliknya. Ketika muncul dari rasa ingin tahu dan keinginan menjalani aktivitas yang menyenangkan, tren dapat menjadi awal kebiasaan aktif.
Sebaliknya, jika lebih didorong oleh tekanan untuk menyamai orang lain, olahraga justru bisa terasa seperti kewajiban yang sulit dinikmati.
Ketika Olahraga Menjadi Obsesi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383413/original/032877500_1793085892-mike-cox-laxDhpYqZZc-unsplash.jpg)
Aktivitas fisik memicu pelepasan zat kimia otak, termasuk endorfin dan dopamin, yang berkaitan dengan suasana hati dan respons penghargaan. Efek menyenangkan ini membuat sebagian orang ingin mengulang latihan.
Masalah muncul ketika olahraga terasa wajib dan sulit dikendalikan. Seseorang bisa terus berlatih meski sakit, gelisah ketika melewatkan sesi, atau menomorsatukan latihan hingga mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan, dan kebutuhan sehari-hari.
Olahraga pun mulai mengambil ruang berlebihan dalam hidup. Perfeksionisme dapat memperkuat pola ini. Target yang terus dinaikkan membuat pencapaian sebelumnya terasa tidak pernah cukup, sementara istirahat dianggap kemunduran.
Pada sebagian orang, latihan berlebihan juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap bentuk tubuh atau dorongan mengimbangi makanan yang dikonsumsi.
Frekuensi latihan saja tidak cukup untuk menilai masalah, perhatikan apakah seseorang masih mampu beristirahat dan menjalani kegiatan lain tanpa rasa bersalah berlebihan.
Advertisement
Mengenali Batas Kemampuan Tubuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383414/original/070640900_1793085893-franco-alva-MRdSA7tWW-g-unsplash.jpg)
Tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan aktivitas fisik. Menambah durasi atau intensitas secara mendadak, terutama setelah lama jarang bergerak, dapat meningkatkan risiko cedera.
Rasa nyeri menetap, kelelahan berkepanjangan, atau penurunan kemampuan beraktivitas menjadi tanda untuk mengevaluasi rutinitas.
Istirahat bukan tanda kurang disiplin. Jeda membantu tubuh pulih, sedangkan memaksakan diri ketika sakit atau cedera dapat memperburuk kondisi.
Jadwal olahraga tidak harus sama setiap hari karena kebutuhan tubuh dipengaruhi jenis aktivitas, tingkat kebugaran, tidur, dan kegiatan lain.
Perhatikan jika melewatkan latihan memicu kecemasan berat atau jadwal olahraga terus menggeser waktu makan, belajar, tidur, dan bersosialisasi. Bicarakan kondisi tersebut dengan orang terpercaya atau tenaga kesehatan.
Bantuan profesional dapat diperlukan ketika dorongan berolahraga sulit dikendalikan. Tujuannya bukan menjauhi aktivitas fisik, melainkan menjaga agar manfaatnya tidak menjadi beban bagi kesehatan fisik maupun mental.
Memulai dengan Target Realistis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383415/original/010216300_1793085905-vincenzo-morelli-ZO4pHKtpn4c-unsplash.jpg)
Memulai olahraga tidak harus langsung dengan jadwal padat atau target besar. Pilih aktivitas yang menyenangkan dan sesuai kondisi, misalnya lari, bersepeda, berenang, yoga, pilates, atau latihan kekuatan.
Kegiatan yang disukai cenderung lebih mudah dijadikan rutinitas. Bagi pemula, tingkatkan aktivitas secara bertahap.
Mulailah dari durasi dan intensitas yang nyaman, lalu sesuaikan seiring tubuh beradaptasi. Tidak perlu meniru latihan orang lain karena kemampuan setiap orang berbeda.
Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, mintalah saran tenaga kesehatan. Buat tujuan realistis, seperti menyediakan waktu untuk bergerak beberapa kali sepekan.
Catatan latihan boleh membantu melihat perkembangan, tetapi angka di aplikasi bukan satu-satunya tolok ukur. Konsistensi bukan berarti memaksa diri tanpa jeda.
Rutinitas sehat memberi ruang untuk berlatih dan pulih. Tren boleh menjadi inspirasi, tetapi jenis aktivitas, tempo, dan target sebaiknya mengikuti kebutuhan diri sendiri.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4475259/original/069032500_1687331408-cek_fakta_bohir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5502785/original/075044200_1771042664-alat_pertanian_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383132/original/088044500_1793074246-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__6_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383412/original/074601600_1793085890-ben-iwara-2-4-WMp21mA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374286/original/031955300_1792044207-mary-sill-ZRMHeRV_xE8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383100/original/042590800_1793070344-JBR02803.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349648/original/064399100_1789538795-christian-dubovan-Y_x747Yshlw-unsplash.jpg)