Coffee Break di Tengah Jam Kerja, Efektif Redakan Stres atau Cuma Bikin Boros?

Coffee break saat jam kerja bisa membantu memulihkan energi dan fokus dengan frekuensi yang tetap perlu diperhatikan.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Coffee break saat jam kerja kerap dianggap sebagai waktu untuk meninggalkan meja, membeli minuman, lalu kembali menyelesaikan pekerjaan. Kebiasaan tersebut ternyata dapat memiliki fungsi lebih dari sekadar mengisi jeda di tengah kesibukan.

Jeda singkat selama 10 menit atau kurang berkaitan dengan peningkatan rasa bugar dan penurunan kelelahan, melansir TIME, Kamis (1/10/2026). Bagi pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer, berhenti sejenak memberi kesempatan untuk mengalihkan perhatian dari tugas yang sedang dikerjakan.

Ritual membuat teh atau kopi dapat menjadi salah satu bentuk jeda yang membantu pekerja melakukan mental reset. Aktivitas sederhana seperti beranjak dari meja, menuju pantry, menyiapkan minuman, lalu kembali bekerja menciptakan pemisah antara satu periode kerja dan periode berikutnya.

Coffee break dalam konteks ini bukan berarti meninggalkan pekerjaan tanpa batas. Nilainya terletak pada kemampuan mengatur jeda agar tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk beristirahat sebelum kembali menghadapi tugas.

Waktu istirahat yang terencana dapat membantu pekerja memberi jarak sejenak dari pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, terutama ketika rutinitas berlangsung dalam waktu panjang. Jeda tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melepaskan perhatian dari pekerjaan secara singkat sebelum kembali menyelesaikan tugas.

Durasi yang terkendali membuat waktu istirahat tetap memiliki batas sehingga tidak berubah menjadi aktivitas yang mengganggu alur kerja. Pola tersebut membuat coffee break tidak sekadar persoalan berhenti bekerja, melainkan bagaimana jeda dimanfaatkan secara proporsional sepanjang hari kerja.

Durasi Ideal Coffee Break

Jeda yang terlalu singkat mungkin tidak memberi cukup ruang untuk melepaskan perhatian dari pekerjaan, sedangkan jeda yang terlalu panjang dapat berubah menjadi gangguan terhadap konsentrasi. Kebutuhan istirahat dapat berbeda bergantung pada jenis pekerjaan, tingkat tekanan, serta aktivitas yang sedang dilakukan.

Rekomendasi jeda dapat berlangsung selama sekitar 90 menit yang diikuti jeda 15 hingga 20 menit, dengan micro-break berupa peregangan setiap 20 atau 30 menit.

Pilihan aktivitas saat jeda pun tidak harus selalu meminum kopi, kegiatan lainnya dapat berupa berjalan kaki ringan, melakukan peregangan, atau sekadar menjauh dari tugas dapat menjadi bentuk istirahat.

Pola kerja dengan membagi pekerjaan menjadi periode fokus dan jeda singkat dapat dilakukan, misalnya 25 menit bekerja lalu lima menit beristirahat.

Coffee Break Bisa Jadi Ruang Sosialisasi

Momen saat mengambil kopi atau teh bersama rekan kerja dapat menjadi kesempatan untuk berbincang di luar agenda pekerjaan. Interaksi informal semacam ini dapat membantu membangun hubungan antarrekan, mendukung komunikasi, serta menciptakan ruang untuk bertukar ide yang mungkin tidak muncul dalam situasi kerja formal.

Percakapan singkat dapat memiliki fungsi berbeda dari rapat atau diskusi kerja yang terstruktur. Rekan kerja dapat membicarakan hal ringan, bertukar sudut pandang, atau sekadar mengalihkan perhatian dari tugas yang sedang menumpuk.

Suasana informal tersebut berkaitan dengan kreativitas karena percakapan yang lebih bebas memungkinkan munculnya perspektif dan gagasan baru. Jeda singkat untuk minum teh, kopi, atau berbincang tidak selalu berarti seseorang sedang menghindari pekerjaan.

Jeda terencana dapat memberi kesempatan bagi otak untuk memulihkan perhatian setelah periode konsentrasi, sedangkan percakapan dengan rekan kerja dapat membantu mengurangi tekanan dan mendukung suasana hati.

Pengeluaran Tetap Perlu Diperhatikan

Kebiasaan membeli minuman setiap kali membutuhkan jeda dapat menjadi pengeluaran rutin apabila dilakukan berulang sepanjang minggu.

Coffee break menyoroti fungsi jeda, fokus, interaksi sosial, dan pemulihan mental, bukan memberikan bukti bahwa membeli kopi dari kedai tertentu merupakan bagian yang diperlukan agar jeda tersebut efektif.

Jeda sebenarnya dapat dilakukan tanpa selalu membeli minuman. Membuat kopi atau teh di pantry kantor, membawa minuman dari rumah, berjalan sebentar, melakukan peregangan, atau berbincang dengan rekan kerja tetap dapat menciptakan pemisah dari pekerjaan.

Pengeluaran menjadi lebih mudah dikendalikan ketika pekerja membedakan kebutuhan untuk beristirahat dari kebiasaan membeli sesuatu setiap kali mengambil jeda. Satu pembelian mungkin terasa kecil, tapi frekuensi yang tinggi dapat membuat biaya harian berubah menjadi pengeluaran mingguan atau bulanan yang lebih besar.