6 Bahan Masakan yang Perlu Direndam Sebelum Diolah, Gizi Lebih Maksimal

Jangan asal masak! Ketahui bahan masakan yang perlu direndam sebelum diolah untuk menghilangkan racun dan antinutrisi. Cek panduannya di sini.

Diterbitkan 23 September 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, memasak adalah seni memadukan rasa, namun di balik kelezatan tersebut terdapat prinsip sains yang krusial untuk kesehatan keluarga, terutama terkait bahan masakan yang perlu direndam sebelum diolah. Langkah sederhana seperti merendam bahan makanan tertentu tidak hanya berfungsi melembutkan tekstur, tetapi juga efektif menghilangkan zat berbahaya dan meningkatkan penyerapan nutrisi oleh tubuh.

Banyak ibu rumah tangga maupun pegiat kuliner yang mungkin belum menyadari bahwa melewatkan proses perendaman pada biji-bijian atau umbi-umbian dapat menyisakan residu kimia alami yang merugikan dalam jangka panjang. Dengan memahami metode pra-pengolahan yang tepat, kita dapat meminimalisir risiko gangguan pencernaan serta paparan senyawa karsinogenik yang mungkin terbentuk saat proses pemasakan suhu tinggi.

Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai jenis bahan pangan yang wajib melewati proses perendaman disertai bukti ilmiah dari lembaga terpercaya untuk menjamin keamanan hidangan Anda. Berikut adalah bahan masakan yang perlu direndam sebelum diolah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (19/9/2026).

Mengapa Perendaman Itu Penting? Tinjauan Sains Pangan

Sebelum masuk ke daftar bahan, penting untuk memahami mekanisme biologis di balik perendaman. Proses ini bukan sekadar tradisi leluhur, melainkan metode valid untuk aktivasi enzim dan deaktivasi antinutrisi. Antinutrisi adalah senyawa alami dalam tanaman yang berfungsi melindungi benih dari hama, namun pada manusia, senyawa ini dapat menghambat penyerapan mineral penting seperti zat besi, kalsium, dan seng.

Selain itu, perendaman berfungsi sebagai detoksifikasi awal. Pada bahan pangan tertentu yang tumbuh di dalam tanah atau lingkungan air yang tercemar, perendaman membantu melarutkan logam berat dan residu pestisida yang menempel pada lapisan luar bahan makanan.

1. Kacang-kacangan

Jenis kacang-kacangan kering seperti kacang merah (kidney beans), kacang hitam, kacang hijau, dan kedelai menempati urutan teratas dalam daftar ini.

  • Menghilangkan Asam Fitat dan Tanin: Melansir dari sebuah studi yang dipublikasikan oleh National Center for Biotechnology Information (NCBI), kacang-kacangan mengandung asam fitat (phytic acid) yang dapat mengikat mineral dalam saluran pencernaan manusia, membuatnya sulit diserap. Perendaman selama 8-12 jam dapat mengaktifkan enzim fitase yang memecah asam fitat tersebut, sehingga ketersediaan mineral (bioavailability) meningkat signifikan.

  • Mencegah Gas dan Kembung: Pernah merasa kembung setelah makan kacang? Itu disebabkan oleh oligosakarida (jenis gula kompleks) yang sulit dicerna tubuh. Bakteri di usus besar akan memfermentasi gula ini dan menghasilkan gas. Perendaman dan membuang air rendaman terbukti melarutkan sebagian besar oligosakarida ini. National Geographic dalam ulasannya mengenai sains pangan menyebutkan bahwa merendam kacang bukan hanya soal mempercepat waktu masak, tetapi langkah krusial untuk pencernaan yang nyaman.

  • Bahaya Lektin pada Kacang Merah: Khkhusus untuk kacang merah, perendaman adalah masalah keamanan vital. Kacang merah mentah mengandung phytohaemagglutinin (PHA), sebuah lektin yang beracun. Melansir pedoman dari U.S. Food and Drug Administration (FDA), merendam kacang merah minimal 5 jam dan merebusnya hingga mendidih sempurna sangat diperlukan untuk menetralkan racun ini.

2. Beras (Terutama Beras Merah dan Cokelat)

Beras adalah makanan pokok, namun isu kontaminasi arsenik anorganik menjadi perhatian global dalam dekade terakhir.

Reduksi Arsenik Anorganik

Tanaman padi menyerap arsenik dari tanah dan air lebih efektif dibandingkan tanaman pangan lainnya. Arsenik ini terkonsentrasi pada lapisan kulit ari, yang justru masih utuh pada beras merah (brown rice). Riset dari Consumer Reports dan data FDA menunjukkan bahwa merendam beras semalaman sebelum dimasak, lalu membilasnya hingga air jernih, dapat mengurangi kadar arsenik secara signifikan.

Sebuah metode yang disarankan oleh para peneliti di Inggris adalah memasak beras dengan rasio air yang banyak (seperti merebus pasta), lalu membuang sisa air tajinnya. Kombinasi perendaman dan metode masak ini diklaim dapat membuang hingga 50-60% kandungan arsenik, meskipun ada sedikit pengurangan nutrisi vitamin B yang larut air.

3. Kentang

Siapa sangka umbi favorit ini menyimpan potensi bahaya jika langsung digoreng tanpa perlakuan khusus?

Mencegah Pembentukan Akrilamida (Acrylamide)

Akrilamida adalah senyawa kimia yang berpotensi menyebabkan kanker, terbentuk secara alami saat makanan berpatipati dimasak pada suhu tinggi (di atas 120°C) seperti digoreng atau dipanggang. Senyawa ini terbentuk dari reaksi antara gula alami dan asam amino asparagin (Reaksi Maillard). Lembaga Food Standards Agency (FSA) di Inggris sangat menyarankan untuk merendam potongan kentang mentah dalam air selama 15-30 jam sebelum digoreng.

Riset yang diterbitkan dalam Journal of the Science of Food and Agriculture juga memvalidasi bahwa perendaman kentang dapat mengurangi pembentukan akrilamida hingga hampir 50% karena gula pereduksi dan asparagin larut ke dalam air rendaman. Langkah ini juga membuat kentang goreng lebih renyah karena pati permukaan yang berkurang.

4. Hati Hewan (Sapi atau Ayam)

Seringkali orang enggan mengolah hati karena aroma amis yang menyengat dan tekstur yang terkadang keras atau "pasir".

Menetralisir Bau dan Racun

Dunia kuliner profesional dan sains pangan rumahan sepakat bahwa merendam hati dalam susu cair adalah teknik terbaik. Melansir dari Tefal dan berbagai literatur kuliner, susu mengandung protein kasein (casein) yang sangat efektif mengikat sisa darah dan senyawa logam yang menyebabkan rasa pahit pada hati.

Selain itu, kasein membantu menarik keluar sisa toksin yang mungkin masih tertinggal di organ penyaring racun ini, sekaligus memberikan tekstur yang jauh lebih lembut (creamy) setelah dimasak.

5. Ikan Asin dan Ikan Teri

Di Indonesia, ikan asin adalah lauk populer. Namun, proses pengawetannya seringkali menggunakan garam dalam jumlah yang sangat tinggi, atau pada kasus penyalahgunaan, menggunakan bahan pengawet berbahaya.

Pengurangan Natrium dan Formalin

Bagi penderita hipertensi, merendam ikan asin dalam air hangat atau air garam berkonsentrasi rendah (prinsip osmosis) selama 15-30 menit sangat disarankan untuk menurunkan kadar natrium.

Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia kerap mengingatkan risiko penyalahgunaan formalin pada ikan asin di pasar tradisional. Perendaman berulang dengan air bersih atau air cucian beras dipercaya dapat membantu melarutkan sebagian residu formalin yang bersifat larut air, meskipun membeli dari sumber terpercaya tetap menjadi pencegahan utama.

6. Biji-bijian dan Kacang-kacangan Mentah

Kacang almond, walnut, dan biji labu yang akan dikonsumsi mentah atau dijadikan susu nabati juga perlu direndam.

Inhibitor Enzim

Seperti halnya legumes, kacang pohon (tree nuts) mentah memiliki inhibitor enzim yang menjaga kacang tetap "tidur" sampai kondisi tanah memungkinkan untuk berkecambah.

Memakan kacang mentah tanpa direndam dapat memberatkan kerja pankreas karena enzim pencernaan tubuh harus bekerja ekstra keras. Merendamnya dalam air garam hangat (metode sprouting awal) menonaktifkan inhibitor ini, membuat protein dalam kacang lebih mudah dicerna dan vitaminnya lebih mudah diserap.

 

Panduan Singkat Durasi Perendaman

Agar lebih mudah diterapkan di dapur Anda, berikut adalah rangkuman durasi ideal perendaman untuk berbagai bahan:

Jenis Bahan Durasi Ideal Media Perendaman Tujuan Utama
Kacang Merah/Hitam 8-12 Jam (Semalam) Air dingin berlimpah Buang gas & racun lektin
Beras Merah 30 menit - 2 Jam Air bersih (bilas 3x) Kurangi arsenik & lembutkan tekstur
Kentang 15-30 Menit Air dingin/Air es Kurangi akrilamida & bikin renyah
Hati Sapi/Ayam 30 menit - 1 Jam Susu cair tawar Hilangkan bau amis & pahit
Ikan Asin 15-20 Menit Air hangat/Air beras Kurangi kadar garam berlebih
Almond/Mete 6-8 Jam Air dengan sedikit garam Aktivasi enzim & nutrisi

Tips Tambahan untuk Hasil Terbaik

  • Buang Air Rendaman: Jangan pernah menggunakan air sisa rendaman untuk memasak (kecuali air rendaman jamur kering untuk kaldu). Air tersebut kini mengandung zat antinutrisi, kotoran, dan sisa pati yang sudah dilarutkan. Selalu bilas bahan dengan air mengalir sebelum diolah.
  • Gunakan Wadah Kaca atau Keramik: Hindari wadah plastik atau logam reaktif (seperti aluminium) saat merendam bahan yang bersifat asam atau dalam waktu lama untuk mencegah kontaminasi partikel wadah.
  • Tambahkan "Booster": Untuk kacang-kacangan, menambahkan sedikit air perasan lemon atau cuka apel ke dalam air rendaman dapat membantu proses pemecahan asam fitat menjadi lebih efektif.

Dengan menerapkan langkah sederhana ini, Anda tidak hanya menyajikan hidangan yang lezat, tetapi juga melindungi kesehatan keluarga jangka panjang dari risiko penyakit degeneratif. Kesehatan dimulai dari dapur, dan dapur yang cerdas dimulai dari persiapan yang tepat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Bahan Masakan yang Perlu Direndam 

Q: Apakah merendam kacang dengan air panas lebih efektif daripada air dingin?

A: Ya, teknik hot soak (merebus sebentar lalu mendiamkan) lebih efektif dan cepat dalam memecah gas penyebab kembung dibandingkan cold soak (rendam air dingin semalaman), namun keduanya sama baiknya untuk tekstur.

Q: Bolehkah merendam hati dengan air jeruk nipis jika tidak punya susu?

A: Boleh. Air jeruk nipis atau cuka bisa membantu menghilangkan bau amis, namun hasilnya tidak akan selembut jika menggunakan susu karena tidak ada protein kasein yang bekerja mengikat rasa pahit, justru tekstur hati bisa menjadi agak keras (matang karena asam).

Q: Apakah sayuran hijau perlu direndam air garam?

A: Sangat disarankan. Merendam sayuran hijau seperti brokoli atau kembang kol dalam air garam selama 10-15 menit efektif membantu melepaskan ulat, serangga kecil, dan residu pestisida yang tersembunyi di sela-sela kuntum sayur.

Â