Liputan6.com, Jakarta - Menjalin persahabatan yang erat di tengah padatnya kehidupan dewasa seringkali terasa sebagai tantangan tersendiri. Berbagai tanggung jawab, mulai dari pekerjaan hingga keluarga, kerap menyita waktu dan energi, membuat kita seolah terpisah dari orang-orang terdekat. Namun, para ahli dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, ikatan persahabatan tidak hanya dapat bertahan, tetapi juga semakin kuat dan bermakna.
Kesibukan jadwal harian, perubahan prioritas, serta mobilitas geografis menjadi beberapa faktor utama yang mempersulit pemeliharaan persahabatan di fase dewasa. Tidak seperti masa sekolah yang menyediakan struktur sosial alami, kehidupan dewasa menuntut usaha yang lebih disengaja untuk membangun dan menjaga koneksi.
Meskipun demikian, para pakar menekankan bahwa investasi waktu yang signifikan adalah kunci untuk membentuk persahabatan yang mendalam. Sebuah studi menyebutkan bahwa dibutuhkan sekitar 40 hingga 60 jam untuk beralih dari sekadar kenalan menjadi teman biasa, dan lebih dari 200 jam untuk mencapai status teman dekat atau sahabat sejati. Penelitian lain bahkan mengindikasikan bahwa sekitar 219 jam diperlukan untuk mencapai tingkat persahabatan yang paling akrab.
Advertisement
Tantangan Membangun Ikatan Persahabatan Dewasa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4575751/original/065589600_1694688007-priscilla-du-preez-cIfLUEZYLVg-unsplash.jpg)
Persahabatan di usia dewasa menghadapi rintangan yang berbeda dibandingkan masa muda. Dr. Sara Kuburic, seorang psikolog, menjelaskan bahwa "Sebagai orang dewasa, jadwal kita menjadi semakin sibuk, sehingga sulit untuk menemukan waktu untuk menelepon, makan malam, atau pesta menonton bersama." Selain jadwal yang padat dengan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan, kurangnya struktur sosial yang memfasilitasi pertemuan juga menjadi faktor.
Mobilitas geografis akibat perubahan karier atau relokasi dapat mengganggu jaringan sosial yang sudah ada. Prioritas hidup yang bergeser, di mana orang dewasa cenderung mencari kualitas daripada kuantitas dalam hubungan, juga berperan. Sifat persahabatan yang sukarela seringkali membuatnya terabaikan ketika waktu menjadi terbatas. Lebih lanjut, otak manusia memiliki batas kognitif dalam mempertahankan jumlah hubungan aktif, yang dikenal sebagai angka Dunbar, di mana kelekatan emosional dapat menurun jika frekuensi kontak di bawah ambang batas tertentu.
David Webb dari About Psychology menyoroti investasi waktu yang diperlukan untuk sebuah ikatan. "Dibutuhkan sekitar 40 hingga 60 jam untuk beralih dari kenalan menjadi teman biasa; 80 hingga 100 jam untuk mencapai persahabatan sejati; lebih dari 200 jam sebelum seseorang menjadi teman dekat atau sahabat," ujarnya. Studi lain bahkan menunjukkan bahwa diperlukan sekitar 94 jam untuk menjadi teman biasa, 164 jam untuk menjadi teman reguler, dan sekitar 219 jam untuk menjadi teman baik atau sahabat.
Advertisement
Kiat Jitu Menjaga Persahabatan Tetap Erat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4216376/original/007922000_1667721220-helena-lopes-e3OUQGT9bWU-unsplash.jpg)
Meskipun tantangan yang ada, para ahli menawarkan beragam strategi untuk menjaga persahabatan tetap hidup dan bermakna. Salah satunya adalah memprioritaskan dan menjadwalkan waktu bersama. Leslie Baker, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, menyarankan untuk "menjadwalkan aktivitas sosial ke dalam jadwal Anda setiap minggu seperti halnya tugas atau janji lainnya." Pengingat mingguan di ponsel untuk menelepon teman dekat, merencanakan pertemuan besar seperti liburan tahunan, atau membuat kegiatan rutin seperti klub buku dapat menciptakan keterlibatan yang berulang.
Pemanfaatan teknologi juga krusial untuk koneksi berkelanjutan. Grup obrolan pesan teks dapat menjaga komunikasi tetap hidup. Dr. Sara Kuburic merekomendasikan untuk "mengirim pesan teks singkat, gambar, atau memo suara untuk menjaga koneksi tetap berjalan tanpa menuntut banyak waktu". Telepon saat waktu luang, penggunaan media sosial, atau mengirim pesan "ini mengingatkanku padamu" seperti yang disarankan Gretchen Rubin, adalah cara efektif untuk tetap terhubung.
Mengintegrasikan teman ke dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengajak mereka menemani dalam tugas harian atau menghubungkan teman-teman dari lingkaran sosial yang berbeda, dapat mempererat ikatan. Komunikasi yang jujur dan terbuka juga esensial. Berterus terang tentang kesibukan dan berbagi perubahan hidup, seperti yang disarankan Dr. Kuburic, dapat mencegah kesalahpahaman. Kerentanan yang aman dan pengelolaan ekspektasi juga penting dalam persahabatan dewasa.
Memberikan dukungan emosional dan apresiasi adalah pilar persahabatan. Hadir di momen penting, menjangkau saat krisis, menjadi pendengar yang baik, serta merayakan pencapaian satu sama lain dapat membangun ikatan yang langgeng. Fleksibilitas dan pengertian terhadap teman juga diperlukan, termasuk bersikap terbuka terhadap berbagai format pertemuan dan memberikan kelonggaran. Terakhir, merawat diri sendiri dengan meluangkan waktu pribadi setiap minggu, seperti yang direkomendasikan Leslie Baker, penting agar kita memiliki energi untuk bersosialisasi.
Manfaat Tak Terhingga dari Ikatan Persahabatan Kuat
Persahabatan yang kuat memberikan dampak besar pada kesehatan dan kesejahteraan. Mayo Clinic menyatakan, "Teman yang baik bermanfaat bagi kesehatan Anda. Teman dapat membantu Anda merayakan saat-saat indah dan mendukung Anda di masa-masa sulit. Teman membantu Anda agar tidak merasa sendirian."
Manfaat persahabatan mencakup peningkatan rasa koneksi, kepemilikan, dan tujuan hidup. Ikatan ini juga dapat meningkatkan kebahagiaan, menurunkan tingkat stres, serta menumbuhkan kepercayaan diri dan harga diri. Teman berperan penting dalam membantu mengatasi masa-masa sulit seperti perceraian, penyakit serius, atau kehilangan pekerjaan. Mereka juga dapat mendorong kebiasaan sehat dan mencegah kebiasaan tidak sehat.
Orang dewasa dengan koneksi sosial yang kuat memiliki risiko lebih rendah terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk depresi, tekanan darah tinggi, dan berat badan tidak sehat. Studi bahkan menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua dengan teman dekat cenderung hidup lebih lama. Kuantitas dan kualitas ikatan persahabatan ini secara signifikan memengaruhi kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5366231/original/062082800_1759221040-WhatsApp_Image_2025-09-30_at_12.33.26_941d1ac8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5036100/original/053632700_1733375615-Kehamilan1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345920/original/003389800_1789099395-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-11T110309.027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3110307/original/039289700_1587627848-bui-thanh-tam-MeddGoGS_sI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341193/original/070615900_1788587329-photo_6116408067076329990_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341187/original/034872500_1788587080-photo_6116408067076329991_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341034/original/092276200_1788575407-MaySari_Binaan_BRI_15.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339398/original/071195200_1788414214-1000851136.jpg.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7750180/original/000394600_1780558306-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335175/original/002603900_1787916904-WhatsApp_Image_2026-08-28_at_12.31.39_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4762851/original/063411500_1709637217-pexels-kent-ng-6126708.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346096/original/025234200_1789109856-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_13.05.47__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345852/original/069561400_1789097273-japanese-man-spending-time-outdoors-alone.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345933/original/028611100_1789099676-pexels-stiven-rivera-326722901-36242671.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346012/original/081331200_1789105021-filip-rankovic-grobgaard-030ny3GAaY4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345720/original/042718800_1789057947-000_C7RG2QL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346060/original/057374300_1789107410-4af35c0c-705d-44a0-8338-ca0751fb4c6a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346037/original/087877300_1789107096-Syifa_and_Yasmin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154151/original/003493100_1741334129-Screenshot__1205_.jpg)