Gaya Prilly Latuconsina Tampil Anggun Berkebaya saat Kirab 1 Suro Mangkunegaran

Prilly Latuconsina memakai kebaya hitam rancangan dari desainer Didiet Maulana saat mengikuti kirab 1 Suro Mangkunegaran.

Diterbitkan 20 Juni 2026, 11:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Artis Prilly Latuconsina mengikuti kirab malam 1 Suro Mangkunegaran untuk pertama kalinya pada Selasa malam 16 Juni 2026. Dia tampil anggun dalam balutan kebaya warna hitam saat mengikuti kirab.

Prilly membagikan momen mengikuti kegiatan kirab melalui akun Instagram pribadinya. Dimulai dari makeup hingga memakai kebaya rancangan dari desainer Didiet Maulana.

Sang perancang busana menyebut pakaian yang dikenakan Prilly saat mengikuti kirab 1 Suro sebagai kebaya hitam Puspo Budoyo.

"Untuk acara Satu Suro di Mangkunegaran tahun ini aku membuat kebaya bertajuk Kebaya Hitam Puspo Budoyo, yang merangkum keindahan bunga penuh nilai budaya," kata Didiet Maulana dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.

"Kebaya tanpa payetan ini berpadu dengan batik sogan yang menambah nilai klasik looknya," imbuh dia. 

Didiet mengatakan, merancang kebaya untuk Prilly adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Sebab, Prilly selalu mempercayakan modelnya sehingga dia bebas berkreasi.

Diundang Mangkunegaran

Prilly Latuconsina menyampaikan terima kasih kepada pihak Mangkunegaran yang sudah mengundang dan memberikan kesempatan merasakan pengalaman mengikuti kirab.

"Di tengah langkah yang berjalan dalam hening, aku belajar bahwa tradisi bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tapi juga tentang memberi ruang untuk refleksi, menghormati nilai-nilai leluhur, dan mengingatkan kita untuk tetap membumi," tulis Prilly dalam unggahannya.

Dia juga membagikan foto bersama artis senior Christine Hakim hingga Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X.

Usai mengikuti kirab, Prilly mengaku kegiatan berjalan lancar. Prilly pun menunjukkan telapak kakinya yang hitam karena tidak mengenakan alas kaki saat kirab. 

"Hari ini aku belajar banyak dari mengikuti kirab malam 1 Suro bersama Mangkunegaran. Aku ngerasanya aku belajar untuk tenang untuk mindful untuk membumi. Jadi senang banget bisa mengikuti acara hari ini dan berterima kasih banget sudah diundang," tandas Prilly.

Aturan Berbusana Perempuan untuk Acara 1 Suro Mangkunegaran

Sementara itu, Mangkunegaran membagikan panduan ageman atau pakaian bagi perempuan dan laki -laki untuk ritual adat 1 Suro melalui akun Instagram @info.mn pada 12 Juni 2026.

Ageman Putri (busana perempuan)

Kepala

1. Rambut disanggul Jawa, bukan sanggul modern. Menggunakan sanggul tradisional ukel konde tusuk hitam atau penyu, tanpa cundhuk apapun.

2. Dilarang menggunakan tambahan perhiasan yang berlebihan dan tusuk konde emas maupun cundhuk kembang.

3. Rias muka tidak berlebihan

Pakaian

1. Kebaya kartini hitam polos lengan panjang dengan bahan sifon, rayon, satin, atau linen. Dilarang berbahan beludru atau brokat. Panjang tidak melewati lutut (kebaya cekak).

2. Jarik wiru berwarna sogan dengan motif Surakarta gaya Mangkunegaran. Tidak menggunakan batik motif Parang dan Lereng.

3. Alas kaki berwarna hitam serta tidak berbahan beludru dan/atau motif emas. Wajib dilepas saat mengikuti kirab.

"Peserta kirab pusaka dalem 1 Sura Be 1960 Mangkunegaran diperbolehkan untuk mengenakan jilbab yang senada dengan ageman yang telah ditentukan, yakni bernuansa hitam," keterangan tambahan di unggahan berbeda.

Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Sedot Perhatian Ribuan Warga

Sementara itu, dikutip dari Antara, ribuan warga antusias manyaksikan prosesi demi prosesi Kirab Pusaka Malam 1 Suro di sekitar Pura Mangkunegaran, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Selasa malam 16 Juni 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno yang mengikuti kirab mengatakan, kirab malam 1 Suro bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu merupakan bentuk nyata upaya menjaga warisan budaya Jawa, sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan perekonomian daerah.

"Kami dari Pemprov Jateng mengapresiasi Pura Mangkunegaran, karena ini merupakan bagian dari nguri-uri (melestarikan) budaya dan tradisi," kata Sumarno yang hadir mewakili Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi.

Ia menilai besarnya antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute kirab menunjukkan bahwa tradisi budaya masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah perkembangan zaman.

Kirab pusaka dimulai sekitar pukul 20.00 WIB setelah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X memberikan perintah pemberangkatan.

Enam pusaka Mangkunegaran yang sebelumnya menjalani ritual jamasan dibawa keluar oleh para abdi dalem untuk dikirab mengelilingi kawasan kota.

Pusaka yang dikirab terdiri atas lima tombak dan satu pusaka yang ditempatkan di dalam jodang atau kotak kaca. Ribuan peserta mengikuti prosesi dengan berjalan kaki tanpa alas dan menjalani laku tapa bisu atau berjalan dalam keheningan.

Rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran menuju Ngarsopuro melalui Jalan Diponegoro, kemudian melintasi Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, dan kembali ke Pura Mangkunegaran.

Tahun ini, Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran dihadiri sekitar 10.000 tamu undangan dan diikuti sekitar 2.500 peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari keluarga besar Mangkunegaran, masyarakat umum, pejabat pemerintah, hingga sejumlah tokoh publik nasional.

Menurut Sumarno, pelestarian tradisi yang dilakukan Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran selama ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan daerah.

Tidak hanya menyaksikan kirab, masyarakat juga menantikan momen perebutan air jamasan pusaka setelah prosesi selesai. Air yang digunakan untuk membersihkan pusaka tersebut dipercaya membawa keberkahan.

Â